Masalah Desa Masih Menggunung, Pemkab Malah Pesta Award di Hotel Mewah. Gak Malu, Yah?

90
×

Masalah Desa Masih Menggunung, Pemkab Malah Pesta Award di Hotel Mewah. Gak Malu, Yah?

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Kabupaten Tangerang — Pemerintah Kabupaten Tangerang kembali menggelar Desa Awards 2025 dengan kemasan mewah di sebuah hotel berbintang di kawasan Curug. Lampu gemerlap, panggung elegan, karpet tebal, dan suguhan formalitas membuat acara itu tampak seperti festival prestise pejabat. Namun di balik segala kemewahan itu, masyarakat mempertanyakan: apa sebenarnya yang sedang dirayakan? Sebab, realita lapangan justru penuh persoalan yang disebut-sebut tak kunjung disentuh pemerintah.

Acara yang berlangsung Kamis, 4 Desember 2025 itu bukan hanya memunculkan apresiasi, tapi juga menyulut kritik tajam terkait serangkaian sinyalemen persoalan publik yang justru semakin ramai diperbincangkan. Bagi warga, kemegahan acara di hotel berbintang terasa janggal. Mengapa?

Karena saat pemerintah berbangga dengan seremoni, masyarakat justru melihat indikasi berbagai problem krusial desa:
1. Infrastruktur dasar yang belum merata
2. Persoalan sampah yang kian menggunung
3. Layanan publik yang dinilai lamban
4. Hingga sederet keluhan sektor pendidikan.
Kontradiksi mencolok inilah yang membuat publik bertanya: Apakah Desa Awards benar-benar untuk rakyat atau hanya panggung pencitraan tahunan?

Ironinya, di luar ruangan hotel itu, pembicaraan warga justru mengarah pada isu pendidikan yang semakin menguat. Sejumlah pihak memunculkan:
1. Indikasi pungutan yang dianggap tidak sesuai aturan
2. Sinyalemen biaya kegiatan sekolah yang disebut-sebut tidak transparan
3. Isu kerjasama vendor tertentu yang diisukan punya kedekatan
4. Hingga potensi konflik kepentingan dalam aktivitas sekolah.

Ketika media dan warga meminta penjelasan, beberapa pejabat tiba-tiba bungkam, sebagian mengaku “tidak tahu”, bahkan ada yang terkesan menghindar dari wawancara. Sikap pasif ini otomatis memunculkan berbagai pertanyaan lanjutan: Apakah ada persoalan yang sengaja tidak ingin dibahas?

Pelaksanaan acara berlangsung bertepatan dengan duka nasional akibat bencana besar di Sumatra. Namun Pemkab tetap memilih menggelar acara penuh kemewahan tanpa jeda solidaritas. Publik pun mempertanyakan kepekaan pemerintah daerah.Di saat bangsa berkabung, pemerintah daerah justru terlihat menikmati suasana hotel yang gemerlap sebuah kontras yang dinilai sebagian warga melukai rasa empati sosial.

Padahal, banyak desa di Tangerang sendiri masih bergulat dengan:
1. Jalan rusak
2. Sanitasi minim
3. kondisi lingkungan yang kumuh
4. Hingga fasilitas publik yang jauh dari layak

Menjelang Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia 2025), Desa Awards seharusnya menjadi momentum memperkuat integritas. Namun sejumlah warga dan pemerhati justru mempertanyakan:
1. Indikasi pola pengadaan yang dinilai tidak terbuka
2. inyalemen vendor “langganan” yang muncul berulang
3. Isu teknis pelaksanaan yang dianggap minim akuntabilitas
4. Hingga kurangnya keterbukaan mengenai pembiayaan acara.
Kontras ini memunculkan ironi: spanduk anti-korupsi besar, tetapi transparansi acara disebut-sebut tidak kasat mata.

Sementara itu, di sejumlah wilayah Tangerang, sampah menumpuk seperti gunung kecil. Bau menyengat, penyakit mengancam, dan penanganan dinilai lambat. Kondisi ini membuat warga merasa diabaikan. Mereka melihat pejabat berbaris rapi untuk foto di backdrop hotel, sementara mereka harus berhadapan dengan masalah lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Pertanyaannya sederhana tapi menggigit: Jika sampah saja belum selesai, apa yang sebenarnya dirayakan dalam Desa Awards?

Menghubungkan semua fakta indikasi persoalan sekolah, isu prioritas anggaran, ironinya Hakordia, dan darurat sampah muncul satu pertanyaan besar: Untuk siapa pemerintah bekerja? Untuk rakyat atau untuk panggung seremonial?

Ketika muncul pemberitaan bernada pencitraan tentang Award Desa yang digelar di hotel mewah, sementara berbagai persoalan desa masih menumpuk tanpa sorotan yang memadai, wajar bila publik mempertanyakan hal sederhana ini:

Apakah pemberitaan tersebut benar-benar berpegang pada kode etik jurnalistik, atau justru lebih piawai menyusun “judul manis” yang menyenangkan pejabat?

Acara megah boleh digelar. Itu hak pemerintah.Namun rakyat punya hak yang lebih besar: hak untuk mendapat jawaban dan hak untuk dilayani dengan transparan.

Kini publik menunggu: siapa yang berani berbicara jujur, siapa yang berani membuka penjelasan, dan siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang mencuat?

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masalah Desa Masih Menggunung, Pemkab Malah Pesta Award di Hotel Mewah. Gak Malu, Yah?

0
×

Masalah Desa Masih Menggunung, Pemkab Malah Pesta Award di Hotel Mewah. Gak Malu, Yah?

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Kabupaten Tangerang — Pemerintah Kabupaten Tangerang kembali menggelar Desa Awards 2025 dengan kemasan mewah di sebuah hotel berbintang di kawasan Curug. Lampu gemerlap, panggung elegan, karpet tebal, dan suguhan formalitas membuat acara itu tampak seperti festival prestise pejabat. Namun di balik segala kemewahan itu, masyarakat mempertanyakan: apa sebenarnya yang sedang dirayakan? Sebab, realita lapangan justru penuh persoalan yang disebut-sebut tak kunjung disentuh pemerintah.

Acara yang berlangsung Kamis, 4 Desember 2025 itu bukan hanya memunculkan apresiasi, tapi juga menyulut kritik tajam terkait serangkaian sinyalemen persoalan publik yang justru semakin ramai diperbincangkan. Bagi warga, kemegahan acara di hotel berbintang terasa janggal. Mengapa?

Karena saat pemerintah berbangga dengan seremoni, masyarakat justru melihat indikasi berbagai problem krusial desa:
1. Infrastruktur dasar yang belum merata
2. Persoalan sampah yang kian menggunung
3. Layanan publik yang dinilai lamban
4. Hingga sederet keluhan sektor pendidikan.
Kontradiksi mencolok inilah yang membuat publik bertanya: Apakah Desa Awards benar-benar untuk rakyat atau hanya panggung pencitraan tahunan?

Ironinya, di luar ruangan hotel itu, pembicaraan warga justru mengarah pada isu pendidikan yang semakin menguat. Sejumlah pihak memunculkan:
1. Indikasi pungutan yang dianggap tidak sesuai aturan
2. Sinyalemen biaya kegiatan sekolah yang disebut-sebut tidak transparan
3. Isu kerjasama vendor tertentu yang diisukan punya kedekatan
4. Hingga potensi konflik kepentingan dalam aktivitas sekolah.

Ketika media dan warga meminta penjelasan, beberapa pejabat tiba-tiba bungkam, sebagian mengaku “tidak tahu”, bahkan ada yang terkesan menghindar dari wawancara. Sikap pasif ini otomatis memunculkan berbagai pertanyaan lanjutan: Apakah ada persoalan yang sengaja tidak ingin dibahas?

Pelaksanaan acara berlangsung bertepatan dengan duka nasional akibat bencana besar di Sumatra. Namun Pemkab tetap memilih menggelar acara penuh kemewahan tanpa jeda solidaritas. Publik pun mempertanyakan kepekaan pemerintah daerah.Di saat bangsa berkabung, pemerintah daerah justru terlihat menikmati suasana hotel yang gemerlap sebuah kontras yang dinilai sebagian warga melukai rasa empati sosial.

Padahal, banyak desa di Tangerang sendiri masih bergulat dengan:
1. Jalan rusak
2. Sanitasi minim
3. kondisi lingkungan yang kumuh
4. Hingga fasilitas publik yang jauh dari layak

Menjelang Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia 2025), Desa Awards seharusnya menjadi momentum memperkuat integritas. Namun sejumlah warga dan pemerhati justru mempertanyakan:
1. Indikasi pola pengadaan yang dinilai tidak terbuka
2. inyalemen vendor “langganan” yang muncul berulang
3. Isu teknis pelaksanaan yang dianggap minim akuntabilitas
4. Hingga kurangnya keterbukaan mengenai pembiayaan acara.
Kontras ini memunculkan ironi: spanduk anti-korupsi besar, tetapi transparansi acara disebut-sebut tidak kasat mata.

Sementara itu, di sejumlah wilayah Tangerang, sampah menumpuk seperti gunung kecil. Bau menyengat, penyakit mengancam, dan penanganan dinilai lambat. Kondisi ini membuat warga merasa diabaikan. Mereka melihat pejabat berbaris rapi untuk foto di backdrop hotel, sementara mereka harus berhadapan dengan masalah lingkungan yang semakin memprihatinkan.

Pertanyaannya sederhana tapi menggigit: Jika sampah saja belum selesai, apa yang sebenarnya dirayakan dalam Desa Awards?

Menghubungkan semua fakta indikasi persoalan sekolah, isu prioritas anggaran, ironinya Hakordia, dan darurat sampah muncul satu pertanyaan besar: Untuk siapa pemerintah bekerja? Untuk rakyat atau untuk panggung seremonial?

Ketika muncul pemberitaan bernada pencitraan tentang Award Desa yang digelar di hotel mewah, sementara berbagai persoalan desa masih menumpuk tanpa sorotan yang memadai, wajar bila publik mempertanyakan hal sederhana ini:

Apakah pemberitaan tersebut benar-benar berpegang pada kode etik jurnalistik, atau justru lebih piawai menyusun “judul manis” yang menyenangkan pejabat?

Acara megah boleh digelar. Itu hak pemerintah.Namun rakyat punya hak yang lebih besar: hak untuk mendapat jawaban dan hak untuk dilayani dengan transparan.

Kini publik menunggu: siapa yang berani berbicara jujur, siapa yang berani membuka penjelasan, dan siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas berbagai persoalan yang mencuat?

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks