Tak Berkategori

LEBARAN MENAMPAR DIAM-DIAM: Saat Kita Sibuk Menilai Hidup Orang Lain, Tapi Lupa Menghitung Nikmat Sendiri yang Tak Pernah Habis

94
×

LEBARAN MENAMPAR DIAM-DIAM: Saat Kita Sibuk Menilai Hidup Orang Lain, Tapi Lupa Menghitung Nikmat Sendiri yang Tak Pernah Habis

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Suasana Idul Fitri tahun ini kembali menghadirkan satu pemandangan yang begitu nyata. Orang-orang datang dengan senyum terbaiknya, pakaian terbaiknya, cerita terbaiknya. Kita duduk bersama, saling bersalaman, saling menatap. Tapi di balik tatapan itu, ada pikiran yang diam-diam berjalan: membandingkan. Di ruang tamu yang hangat itu, tanpa disadari kita mulai melihat satu per satu. Siapa yang hidupnya terlihat lebih mapan, siapa yang lebih berhasil, siapa yang tampak lebih bahagia. Momen yang seharusnya penuh syukur, perlahan berubah jadi ajang menilai, walau hanya di dalam hati.

Yang dari desa memandang kota dengan penuh harap, ingin keluar dari keterbatasan. Tapi yang di kota justru menyimpan lelah, ingin hidup sederhana seperti di desa. Seolah kebahagiaan itu selalu berada di tempat yang tidak sedang kita pijak.

Yang ngontrak memimpikan rumah sendiri. Tapi yang sudah punya rumah, jarang pulang karena sibuk bekerja. Yang miskin ingin kaya, itu wajar. Tapi yang kaya pun ternyata tidak selalu tenang. Ada yang hartanya banyak, tapi hatinya gelisah. Di sini kita mulai paham, tidak ada yang benar-benar lengkap.

Allah sudah mengingatkan dalam Surah Ar-Rahman, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ayat ini diulang berkali-kali, seolah Allah tahu manusia mudah lupa. Nikmat itu ada, bahkan banyak, tapi sering tidak dihitung karena kita sibuk melihat milik orang lain.

Kalau kita mau jujur, nikmat kita hari ini terlalu banyak untuk diingkari. Nafas masih berjalan, tubuh masih kuat, keluarga masih ada. Tapi karena kita terbiasa melihat ke atas, semua itu terasa biasa. Padahal bagi orang lain, itu adalah hal yang sangat mereka inginkan.

Dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah menegaskan, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.” Artinya sederhana, kalau kita mau berhenti membandingkan dan mulai mensyukuri, hidup akan terasa cukup. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena hati kita mulai menerima.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Dalam suasana Lebaran ini, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah menyampaikan dengan tegas namun menyentuh, “Banyak orang pulang dari silaturahmi bukan bawa syukur, tapi bawa iri. Padahal kalau hati kita bersih, kita akan pulang dengan rasa cukup, bukan rasa kurang.”

Ia juga mengingatkan, nikmat itu harus dijaga dengan peduli. Dalam Surah Ad-Duha, Allah melarang menyia-nyiakan anak yatim. Artinya, hidup ini bukan hanya tentang kita, tapi tentang siapa yang bisa kita bantu dengan apa yang kita punya.

Begitu juga dalam Surah Al-Baqarah, sedekah diibaratkan seperti benih yang tumbuh berlipat ganda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, justru membuka pintu rezeki yang sering tidak kita sangka datangnya.

Dan jangan lupa, dalam Surah Al-Isra, Allah memerintahkan berbuat baik kepada orang tua. Di momen Lebaran ini, itu bukan sekadar teori. Duduk sebentar, mendengar mereka, itu juga bentuk syukur yang sering kita abaikan.

Akhirnya kita sadar, rumput tetangga terlihat lebih hijau bukan karena hidup mereka lebih mudah, tapi karena kita tidak tahu bagaimana mereka merawatnya.

Hidup ini tidak pernah tentang siapa paling banyak punya, tapi siapa yang paling mampu merasa cukup, bersyukur, dan menjaga amanahnya sebelum semua itu dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

(OIM)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks