Tangis di Sumatera: Ketika Rumah Lenyap, Harapan Ikut Tenggelam

113
×

Tangis di Sumatera: Ketika Rumah Lenyap, Harapan Ikut Tenggelam

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Sumatera hari ini kembali merintih. Dari lereng bukit hingga bantaran sungai, suara tangis kehilangan bersahutan. Rumah-rumah yang kemarin berdiri tegar kini tinggal puing. Ribuan warga kehilangan tempat pulang, dan banyak di antara mereka kehilangan orang yang mereka cintai tanpa sempat mengucap kata perpisahan.

Rilis resmi BNPB (28 November 2025) menyebut 174 warga meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 luka-luka akibat banjir bandang serta longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Angka itu bukan akhir, karena beberapa titik terdampak masih terisolasi sehingga proses pencarian belum maksimal.

Di sisi Sumatera Utara, luka terdalam tercatat. Laporan RiauOnline dan iNews Sumut menyebut 116 warga meninggal dan 42 hilang. Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan menjadi daerah dengan duka terbesar, tempat di mana setiap pembaruan data dari posko selalu membuat warga menahan napas mencari nama kerabat di daftar korban.

Sementara di Sumatera Barat, rilis Antara News memastikan sedikitnya 23 warga meninggal dan sekitar 3.900 keluarga mengungsi. Di Padang Pariaman, lima jembatan rusak, puluhan titik pengungsian berdiri dalam semalam, dan sebagian warga memilih tidur dengan sepatu karena takut longsor susulan.

Di Aceh, cerita pilu tak kalah berat. Sebanyak 35 warga meninggal, 25 hilang, dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi. Rilisan resmi BNPB dan laporan CNA Indonesia menggambarkan bagaimana jalur Sumut–Aceh terputus, jembatan Meureudu ambruk, dan beberapa kabupaten seperti Gayo Lues dan Bener Meriah praktis terisolasi dari dunia luar.
Bencana melumpuhkan akses vital.

Jalur Sidempuan–Sibolga, Sipirok–Medan, hingga Singkuang–Tabuyung putus total. Ratusan kendaraan terjebak, banyak sopir tak berani tidur, dan tim logistik harus memutar ratusan kilometer untuk mencapai satu titik bantuan. Media nasional seperti MetroTV, NetralNews, dan Detik News mengulang satu pesan sama: kondisi lapangan jauh lebih buruk dari yang terlihat pada gambar.

BMKG menegaskan bencana besar ini dipicu Siklon Tropis Senyar yang membawa hujan ekstrem dan angin kencang fenomena langka yang masuk ke Selat Malaka. Namun para ahli dan laporan investigatif menyebut faktor lain: deforestasi, pembukaan lahan liar, serta kerusakan sungai yang dibiarkan berlangsung bertahun-tahun ikut memperparah dampaknya.

Di tengah kegetiran ini, berbagai ungkapan duka mengalir dari banyak pihak. Donny Putra T., S.H., ketua IKM (Ikatan Keluarga Minangkabau) yang juga pengurus Law Firm Hefi Sanjaya and Partners menyampaikan belasungkawa mendalam sembari mengajak seluruh pihak memperkuat empati dan kepedulian.

“Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah di Sumatera. Semoga keluarga korban diberi kekuatan, dan para relawan diberi kekuatan dalam setiap langkah penanganan. Semoga Allah SWT merahmati para korban dan membuka jalan pemulihan yang cepat bagi seluruh wilayah terdampak,” ucapnya.

Di desa-desa yang terputus, warga bertahan di atap rumah menunggu perahu karet. Ada yang menggenggam foto keluarga, ada yang hanya membawa pakaian di badan. Malam mereka sunyi, dingin, dan dipenuhi doa agar nama orang yang mereka cari tidak masuk daftar korban hari berikutnya.

Dan hari ini, Sumatera menangis. Bukan hanya karena kehilangan rumah, tetapi karena kehilangan pegangan hidup. Di antara lumpur, reruntuhan, dan kabut duka, satu harapan tetap terucap lirih: semoga negeri ini benar-benar belajar bukan setelah air surut, tetapi sebelum air mata kembali jatuh untuk bencana yang sama.

(Oim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks