Sumatera Berduka: Saat Air Bah Merenggut Rumah, Kenangan, dan Orang-Orang Tercinta

109
×

Sumatera Berduka: Saat Air Bah Merenggut Rumah, Kenangan, dan Orang-Orang Tercinta

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Sumatera hari itu tidak seperti biasanya. Sejak pagi, langit tampak berat seolah menahan sesuatu. Lalu hujan turun, pelan di awalnya, sebelum berubah menjadi deras dan tak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bersiap. Dalam hitungan jam, sungai meluap, tanah bergerak, dan kampung-kampung yang berdiri puluhan tahun runtuh diterjang air yang membawa lumpur, batu, dan kayu-kayu gelondongan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam keterangannya pada 28 November 2025 melaporkan bahwa 174 orang meninggal dunia, 79 dinyatakan hilang, dan 12 mengalami luka-luka akibat rangkaian banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Sumatera Utara sendiri, 116 korban meninggal dan 42 orang masih belum ditemukan. Korban tersebar di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, hingga Kota Sibolga. Data ini disampaikan langsung oleh Kepala BNPB, Suharyanto.

Angka-angka itu memang resmi, tetapi kenyataan di lapangan jauh lebih sunyi dan menusuk perasaan. Di salah satu lokasi yang paling parah, warga menemukan seorang bapak duduk sendirian menatap puing rumahnya. Di tangannya, ia menggenggam mainan kecil milik anak bungsunya. Ketika tim relawan bertanya, ia hanya menjawab lirih, “Ini satu-satunya yang ketemu. Anaknya belum.”

Suasana di pengungsian juga tak kalah berat. Tenda-tenda yang berdiri terburu-buru dipenuhi keluarga yang kehilangan segalanya. Ada yang kehilangan rumah, tetapi ada pula yang kehilangan seluruh anggota keluarga. Malam-malam di tenda itu bukan hanya dingin tetapi juga dipenuhi suara orang dewasa yang berdoa pelan dan sesekali tangis anak-anak yang belum mengerti mengapa rumah mereka tak bisa pulang.

Laporan dari lapangan menunjukkan adanya kayu-kayu besar yang ikut hanyut dalam banjir, membawa dugaan kuat adanya kerusakan hutan di daerah hulu. Aktivis lingkungan di Humbang Hasundutan juga telah mengingatkan sejak lama bahwa pembalakan liar dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) membuat wilayah itu semakin rentan diterjang banjir dan longsor. Ketika alam kehilangan penopangnya, hujan menjadi bencana.

Apa sebenarnya yang terjadi? Di sini, bencana bukan berdiri sendirian. Hujan mungkin datang dari langit, tetapi kerusakan datang dari kebijakan dari izin-izin yang dikeluarkan tanpa perhitungan lingkungan, dari pengawasan yang longgar, dan dari pembiaran terhadap praktik merusak hutan yang berjalan bertahun-tahun. Itulah mengapa pertanyaannya bukan hanya mengapa banjir besar terjadi, tetapi mengapa kita membiarkan kondisi yang membuat banjir menjadi mematikan?

Negara memiliki kewajiban melindungi warganya. Melindungi sebelum bencana datang, bukan sekadar hadir setelah semuanya hancur. Rakyat tidak boleh selalu menjadi korban terakhir dari keputusan-keputusan yang tidak berpihak pada keselamatan lingkungan.
Di tengah kabut duka ini, kami menyampaikan bahwa tragedi ini seharusnya tidak berlalu begitu saja. Ada nyawa yang hilang, ada rumah yang lenyap, dan ada masa depan yang patah. Karena itu, perlu ada langkah tegas: audit seluruh izin perusahaan yang beroperasi di kawasan hulu, evaluasi menyeluruh area rawan, dan penegakan hukum tanpa kompromi bagi siapapun yang merusak hutan atau DAS.

Kami dari YLPK PERARI, keluarga besar Redaksi Mantv7, serta rekan hukum dari Hefi Sanjaya & Partners menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada seluruh keluarga korban. Tidak ada kata yang cukup mampu mengembalikan apa yang hilang, tetapi kami berharap doa, kepedulian, dan perhatian ini dapat menguatkan langkah para penyintas yang sedang mencoba berdiri kembali.

Kami memahami bahwa kehilangan seperti ini bukan sekadar kehilangan harta. Ini kehilangan suara-suara yang biasanya terdengar saat pagi, kehilangan orang-orang yang setiap hari duduk di meja makan, kehilangan tawa, kehilangan rencana, kehilangan masa depan. Dan kami berdoa agar keluarga diberi ketabahan dalam menghadapi cobaan yang amat berat ini.

Kami juga menyerukan agar pemerintah daerah maupun pusat menempatkan keselamatan manusia dan lingkungan sebagai prioritas utama. Sebab duka ini tidak boleh terulang. Tangis ini tidak boleh menjadi rutinitas bencana tahunan. Dan setiap korban yang pergi seharusnya menjadi alasan untuk memperbaiki banyak hal, bukan hanya menjadi angka dalam laporan.

Sumatera telah menangis. Air bah telah membawa banyak jiwa pergi. Namun dari kesedihan yang amat dalam ini, kita berharap lahir komitmen baru dan keberanian baru untuk melindungi hutan, sungai, dan manusia yang hidup di sekitarnya. Karena ketika alam jatuh, manusia ikut jatuh. Dan ketika manusia jatuh, negara harus berdiri di depan bukan sekadar hadir saat semua sudah terlambat.

Semoga duka ini menjadi pelajaran yang diperhatikan, bukan sekadar dibicarakan. Dan semoga Sumatera menemukan kembali cahaya setelah gelap yang memanjang ini.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks