Beginikah Standar Pemkab Tangerang? Pekerja Memanjat Konstruksi Tinggi Hanya Beralas Bambu Tanpa Pelindung Diri

83
×

Beginikah Standar Pemkab Tangerang? Pekerja Memanjat Konstruksi Tinggi Hanya Beralas Bambu Tanpa Pelindung Diri

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Kabupaten Tangerang – Proyek bernilai miliaran rupiah di jantung Puspem Tigaraksa kembali menjadi buah bibir. Pembangunan Gapura Pintu Gerbang Puspem yang dikelola Dinas Tata Ruang dan Bangunan diduga sarat kejanggalan, mulai dari prioritas anggaran yang tidak jelas hingga pola kerja lapangan yang terkesan “asal berdiri, asal selesai”.

Warga Tigaraksa mempertanyakan motif di balik proyek Rp 2,44 miliar yang terlihat lebih menonjolkan gengsi ketimbang urgensi. “Kalau bicara kebutuhan masyarakat, gapura itu bukan prioritas. Ini lebih ke proyek mempercantik citra, bukan proyek yang membuka manfaat,” ujar warga.

Sorotan publik makin panas setelah puluhan unggahan warganet dan media lokal menampilkan aktivitas pekerjaan yang penuh tanda tanya. Meski sudah viral, metode kerja tetap terlihat seperti berjalan autopilot tanpa standar, tanpa urgensi, dan tanpa malu karena dilakukan terang-terangan.

Secara administratif, PT Sagara Agung Persada Utama memang tampak rapi di atas kertas. Namun dugaan ketidaksesuaian semakin kuat ketika masyarakat melihat pekerja memanjat struktur konstruksi hanya dengan bambu seadanya, tanpa helm, tanpa body safety, tanpa tali pengaman. “Ini proyek pemerintah atau latihan bertahan hidup?” sindir warga.

Dugaan pelanggaran K3 pun makin mengemuka karena apa yang terjadi di lapangan bertolak belakang dengan standar keselamatan yang diwajibkan pemerintah. Banyak yang menilai keselamatan pekerja ditempatkan di urutan terakhir, tak lebih penting dari tanda tangan di SPMK atau rapat evaluasi bulanan.

Di tengah kerumunan kritik itu, aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang Rian Hidayat ikut angkat suara. Dengan nada tegas, ia menilai proyek ini penuh kejanggalan yang tidak bisa dibiarkan. “Kalau di lokasi saja hal dasar seperti keselamatan kerja sampai diduga diabaikan, bagaimana publik bisa percaya bahwa anggarannya dikelola dengan benar? Jangan sampai proyek ini hanya jadi panggung pencitraan, sementara nyawa pekerja digampangkan,” ujar Rian.

Rian juga menegaskan bahwa konsultan pengawas tidak boleh bersembunyi di balik meja rapat. “Ke mana pengawasnya? Jangan-jangan yang diawasi hanya berkas, bukan lapangan. Kalau seperti ini, dugaan pembiaran wajar muncul dan publik punya hak penuh untuk mempertanyakannya,” tambahnya.

Ironi memuncak ketika tepat di sekitar lokasi terpampang spanduk besar HAKORDIA 2025 bertuliskan “Lanjutkan Aksi Basmi Korupsi”. Foto Bupati Maesyal Rasyid dan Wakil Bupati Intan Nurul Hikmah berdiri gagah, namun di baliknya dugaan kejanggalan justru menari tanpa hambatan.

Warga menyebutnya “ironi level dewa”: seruan anti-korupsi dipajang megah, tetapi dugaan kejanggalan anggaran, dugaan lemah pengawasan, dan dugaan abainya K3 justru terlihat jelas di area yang sama tanpa ada yang buru-buru memperbaikinya.

Lokasi proyek di Tugu Welcome Park Puspemkab Tangerang, Kadu Agung yang seharusnya jadi etalase kerapihan malah memperkuat dugaan kekacauan teknis. Semua orang bisa melihat langsung apa yang semestinya tidak layak dilakukan di proyek pemerintah.

Di tengah derasnya sorotan, publik Tigaraksa mendesak ketegasan Bupati Tangerang. Dengan semua dugaan yang tumpang tindih, mulai dari pengawasan hingga keselamatan kerja, masyarakat menuntut tindakan nyata: panggil dinasnya, tegur konsultannya, evaluasi kontraktornya, dan buka hasilnya secara terang.

Publik ingin pemimpin yang turun ke lapangan, bukan hanya terpampang di baliho.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks