Berita

Di Tengah Arus Modernisasi, Anak-Anak Balaraja Buktikan Budaya Leluhur Masih Hidup Lewat Mahkota TIRAJA Bale Raja

56
×

Di Tengah Arus Modernisasi, Anak-Anak Balaraja Buktikan Budaya Leluhur Masih Hidup Lewat Mahkota TIRAJA Bale Raja

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Di tengah derasnya pengaruh budaya modern dan perubahan gaya hidup generasi muda, sekelompok anak-anak di Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, justru memilih menapaki jalan berbeda. Melalui wadah pembinaan seni dan budaya “Mahkota TIRAJA Bale Raja”, mereka tampil membawa semangat pelestarian tradisi leluhur Banten dalam ajang Festival Literasi Tangerang Gemilang dan berhasil meraih Juara 3.

Penampilan mereka tidak hanya menghadirkan hiburan di atas panggung, tetapi juga menjadi pesan sosial tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Dengan penuh percaya diri, anak-anak binaan tersebut menampilkan silat Cimande modern, tari jaipong khas Banten, pencak Cimande, hingga atraksi debus yang mendapat perhatian para pengunjung festival.

Festival Literasi Tangerang Gemilang sendiri menjadi ruang kolaborasi antara pendidikan, budaya, dan penguatan sumber daya manusia. Di tengah meningkatnya tantangan sosial terhadap generasi muda, kegiatan yang menggabungkan literasi dengan pelestarian budaya dinilai menjadi langkah positif dalam membangun karakter anak-anak sejak dini.

Penggagas Mahkota TIRAJA Bale Raja, Riko Filliang, mengatakan gagasan tersebut lahir dari keresahan sosial yang ia rasakan selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang mulai asing terhadap budaya daerahnya sendiri, bahkan tidak lagi mengenal nilai-nilai tradisi yang dahulu tumbuh kuat di lingkungan masyarakat Banten.

“Atas dasar itu kami mencoba membangun ruang belajar budaya yang dekat dengan masyarakat. Bukan hanya untuk tampil, tetapi agar anak-anak memahami bahwa budaya adalah bagian dari jati diri dan warisan yang harus dijaga bersama,” ujar Riko.

Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup dilakukan lewat seremoni formal atau kegiatan musiman. Dibutuhkan pembinaan yang berkelanjutan agar anak-anak memiliki ruang untuk belajar disiplin, menghargai proses, membangun kebersamaan, sekaligus memahami nilai moral yang terkandung dalam tradisi leluhur.

 

Proses latihan yang dijalani anak-anak Mahkota TIRAJA Bale Raja dilakukan secara sederhana dan penuh semangat gotong royong. Sebagian besar peserta berasal dari lingkungan masyarakat sekitar Balaraja yang rutin mengikuti latihan di sela aktivitas sekolah. Kondisi itu menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk menjaga budaya tetap hidup.

Di tengah dominasi gawai dan hiburan digital, keterlibatan anak-anak dalam seni tradisional menjadi pemandangan yang mulai jarang ditemui. Karena itu, kehadiran mereka di atas panggung festival mendapat apresiasi luas dari masyarakat dan para orang tua yang hadir menyaksikan langsung penampilan tersebut.

Salah satu senior Cimande di Balaraja sekaligus pembina Mahkota TIRAJA Bale Raja, Ahmad Saefi Sobur, S.E., M.Si., mengaku bangga melihat semangat generasi muda yang masih mau belajar dan melanjutkan tradisi budaya leluhur, khususnya seni Cimande yang memiliki nilai sejarah panjang dalam masyarakat Banten.

“Anak-anak hari ini adalah penerus budaya kita. Saya merasa bersyukur karena di tengah perkembangan zaman, masih ada generasi muda yang mau belajar Cimande dan mencintai budayanya sendiri. Ini bukan sekadar soal seni bela diri, tetapi tentang menjaga identitas, etika, dan warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya.

Penampilan penuh disiplin dan kekompakan itu akhirnya mengantarkan anak-anak Mahkota TIRAJA Bale Raja meraih Juara 3 dalam Festival Literasi Tangerang Gemilang. Bagi para pembina dan masyarakat sekitar, penghargaan tersebut bukan hanya simbol kemenangan, tetapi bukti bahwa pembinaan budaya mampu menjadi ruang positif bagi pertumbuhan karakter generasi muda.

Keberhasilan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu lahir dari tempat besar atau fasilitas mewah. Dari ruang latihan sederhana di lingkungan masyarakat, semangat menjaga tradisi ternyata masih tumbuh dan diwariskan. Di tangan generasi muda seperti inilah harapan agar budaya lokal tetap hidup, dikenal, dan dihargai di masa mendatang.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks