Berita

Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H., Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23: Budaya Lampung Adalah Identitas yang Harus Dijaga

35
×

Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H., Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23: Budaya Lampung Adalah Identitas yang Harus Dijaga

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Semangat pelestarian budaya Lampung kembali bergema dalam prosesi adat yang berlangsung di wilayah Marga Way Handak, Kalianda, Lampung Selatan. Acara yang berlangsung khidmat dan meriah tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh adat, pemerintah daerah, serta masyarakat dari berbagai kabupaten di Provinsi Lampung.

Dalam kegiatan tersebut hadir Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H., Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, mantan Bupati Lampung Selatan Zainudin Hasan, para penyimbang adat, serta rombongan peserta adat dari Lampung Barat, Pesisir Barat, Tanggamus, Pringsewu, dan sejumlah daerah lainnya.

Puncak prosesi adat ditandai dengan pelepasan pakaian kebesaran atau “kawai” yang kemudian diserahkan kepada generasi penerus. Prosesi ini menjadi simbol estafet tanggung jawab, kehormatan, serta pelestarian nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan adat tersebut. Ia menegaskan bahwa tradisi leluhur bukan sekadar seremoni, melainkan sarana untuk memperkuat identitas dan persatuan masyarakat Lampung di tengah perkembangan zaman.

“Acara adat seperti ini memiliki makna yang sangat mendalam. Di dalamnya terdapat nilai penghormatan kepada leluhur, pendidikan bagi generasi muda, serta penguatan ikatan sosial antar masyarakat adat. Warisan budaya tidak boleh berhenti pada generasi hari ini, tetapi harus terus diwariskan kepada anak cucu kita,” ujar Edward Syah Pernong.

Ia juga menegaskan bahwa keberadaan lembaga adat dan para penyimbang memiliki peran penting dalam menjaga marwah budaya Lampung agar tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi. Menurutnya, kemajuan daerah harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya sebagai fondasi karakter masyarakat.

Edward turut menyambut baik kehadiran berbagai unsur masyarakat dan rombongan adat dari sejumlah kabupaten yang ikut memeriahkan acara tersebut. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masyarakat Lampung masih terjaga dengan baik.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam sambutannya menegaskan bahwa budaya Lampung merupakan jati diri yang harus terus dijaga oleh seluruh masyarakat.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga diwujudkan melalui interaksi sosial yang baik, kehidupan yang guyub, serta sikap saling menghormati antarsesama.

“Budaya Lampung adalah jati diri yang harus terus dijaga oleh kita semua. Harus ada interaksi sosial yang baik, kehidupan yang guyub, dan saling menghargai agar nilai-nilai budaya Lampung tetap lestari dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ujar Mirza.

Pernyataan tersebut mendapat dukungan penuh dari Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H. Ia menilai bahwa menjaga budaya berarti menjaga persatuan masyarakat Lampung. Nilai-nilai seperti piil pesenggiri, sakai sambayan, nemui nyimah, dan nengah nyappur harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kekuatan sosial dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Acara adat di Marga Way Handak berlangsung penuh khidmat dan nuansa kebersamaan. Berbagai atraksi budaya, iringan adat, serta kehadiran para penyimbang dari berbagai daerah menambah semarak kegiatan yang menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat adat Lampung.

Di akhir acara, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Pangeran Edward Syah Pernong, S.H., M.H. mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak melupakan akar budaya dan sejarahnya. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan perkembangan zaman tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitas sebagai orang Lampung.

“Budaya adalah warisan yang tak ternilai. Jika kita mampu menjaganya, maka kita sedang menjaga kehormatan, sejarah, dan masa depan Lampung itu sendiri,” pungkasnya.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks