BeritaKabupatenPemerintahan

Kades Cisoka dan Camat Cisoka Sibuk? Cigaru Sedang Heboh, Kok Cuek Saja!

95
×

Kades Cisoka dan Camat Cisoka Sibuk? Cigaru Sedang Heboh, Kok Cuek Saja!

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang – Ratusan media online ramai memberitakan Danau Biru (Telaga Biru) Cigaru. Tapi pertanyaannya jelas: ada apa, ada siapa, dan kenapa ruang publik penting ini dibiarkan begitu saja? Dalam berita sebelumnya, beberapa media menayangkan kritik yang berisi dalih “karaoke keluarga”, padahal fasilitas tersebut menyajikan pemandu lagu seksi dan alkohol sesuai pesanan. Sementara itu, ratusan media lain menayangkan klarifikasi pengelola yang seakan menutupi indikasi praktik hiburan dewasa dan potensi alih fungsi yang menyalahi norma sosial.

Buyung E, aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menegaskan: “Kontrol sosial itu bukan sekadar kritik kosong. Pejabat Desa Cisoka dan Kecamatan Cisoka wajib bertindak. Temuan sementara menunjukkan ruang publik disalahgunakan. Masyarakat menunggu jawaban nyata.”

Ironisnya, camat Cisoka sebelumnya terlihat sigap dan peduli, sampai mau mengeluarkan anggaran untuk klarifikasi di dua media nasional soal ‘hutan bambu’. Tapi soal Cigaru, ruang publik yang jelas bermasalah, malah diabaikan begitu saja. “Kalau soal Cigaru tidak segera ditangani, publik bertanya: apakah ada pertimbangan lain yang membuat pejabat diam?” tegas Buyung.

Lemahnya pengawasan pejabat desa menimbulkan kecurigaan dan sinyal penyimpangan. “Ruang publik seharusnya aman, sehat, dan bernilai sosial, bukan sekadar sumber pemasukan instan. Potensi alih fungsi dan praktik hiburan dewasa ini harus segera diklarifikasi, agar masyarakat tidak dikecewakan,” kata Buyung.

Berita ini makin memprihatinkan karena diduga Danau Biru menyediakan pemandu lagu seksi dan alkohol sesuai pesanan, walau kini tidak lagi menyetok alkohol. “Ini bukan sekadar hiburan, tapi soal moral dan norma masyarakat yang harus dijaga pejabat,” tambah Buyung.

Buyung menegaskan, kritik ini bukan untuk menghantam, tapi menuntut tanggung jawab pejabat desa, kecamatan, dan dinas terkait. “Jika ada potensi pelanggaran, tindakan cepat wajib dilakukan. Perkiraan pelanggaran ini jangan ditunda, masyarakat menunggu kepastian.”

Para aktivis turun tangan, ikut memantau berita Cigaru. “Ini saatnya pejabat bersinergi dengan masyarakat, bukan menutup mata. Sinyal penyimpangan ini harus segera ditindak,” kata Buyung.

Buyung juga mengingatkan, ruang publik bukan sekadar sumber pendapatan instan. “Temuan sementara harus ditindaklanjuti, moral dan norma masyarakat harus dijaga. Tidak ada kompromi bagi pelanggaran,” tegasnya.

Kejadian ini menimbulkan indikasi ketidakseriusan pejabat terhadap tanggung jawab, sementara publik semakin resah. “Masyarakat berhak mendapat jawaban, bukan dalih. Kecamatan dan dinas wajib turun tangan sekarang juga,” tegas Buyung.

Ratusan media kini menyoroti Cigaru. Buyung menutup pernyataannya: “Ini bukan tentang menghantam, tapi menegaskan kewajiban pejabat untuk melindungi ruang publik. Jika diam, publik akan menilai sendiri.”

Kasus Danau Biru Cigaru kini menunggu klarifikasi nyata dari pejabat desa, kecamatan, dan dinas terkait, demi menjaga kepercayaan publik dan nilai sosial masyarakat.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks