Mantv7.com | Setiap tanggal 11 Mei, dunia memperingati World Ego Awareness Day atau Hari Kesadaran Ego Sedunia. Peringatan ini bukan sekadar agenda simbolis tahunan, melainkan momentum refleksi agar manusia lebih sadar terhadap dampak ego dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah era modern yang dipenuhi persaingan, pencitraan, dan kebutuhan akan pengakuan, ego sering tumbuh tanpa disadari hingga perlahan merusak hubungan sosial, persaudaraan, bahkan ketenangan batin seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, ego hadir dalam banyak bentuk. Dalam pertemanan, ego membuat seseorang sulit meminta maaf dan merasa pendapatnya paling benar. Dalam hubungan saudara kandung, ego memicu gengsi, iri hati, dan pertengkaran yang akhirnya merenggangkan silaturahmi keluarga. Bahkan dalam kehidupan bertetangga, sikap acuh, mudah tersinggung, dan sulit menerima kritik menjadi gambaran bagaimana ego dapat mengikis rasa peduli terhadap sesama.
Islam mengajarkan bahwa kesombongan merupakan sifat yang harus dikendalikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 37: “Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah makhluk yang memiliki keterbatasan dan tidak layak meninggikan diri di hadapan orang lain.
Di era digital, ego bahkan semakin sulit dikendalikan. Media sosial sering menjadi ruang pertarungan gengsi, emosi, dan keinginan untuk selalu terlihat paling benar. Banyak konflik bermula dari perdebatan sederhana yang akhirnya berkembang menjadi penghinaan, fitnah, hingga permusuhan berkepanjangan. Tidak sedikit pula persoalan hukum lahir akibat seseorang gagal mengendalikan emosi dan perkataan di ruang publik digital.
Dalam dunia bisnis dan pekerjaan, ego yang berlebihan juga dapat memicu persaingan tidak sehat. Keinginan untuk selalu unggul, sulit menerima masukan, hingga meremehkan orang lain sering menjadi awal hilangnya kepercayaan dan rusaknya hubungan profesional. Padahal keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari kemampuan menjaga etika, kejujuran, dan hubungan baik dengan sesama manusia.

Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Yuli Murtia, S.H., menilai bahwa ego yang tidak terkendali sering menjadi akar munculnya konflik sosial hingga persoalan hukum di tengah masyarakat. “Ketika ego lebih dikedepankan daripada kesabaran dan akal sehat, seseorang bisa kehilangan kontrol dalam berbicara maupun bertindak. Dari persoalan kecil dapat berkembang menjadi penghinaan, ancaman, hingga tindakan yang berujung proses hukum. Karena itu masyarakat perlu membangun kesadaran hukum, empati, dan budaya dialog,” ujar Yuli Murtia, S.H.

Senada dengan hal tersebut, Donny Putra T, S.H. dari Law Firm Hefi Sanjaya and Partners menegaskan bahwa banyak perkara hukum sebenarnya lahir dari emosi sesaat dan keinginan mempertahankan gengsi pribadi. “Ketika ego lebih besar daripada kesabaran, konflik akan semakin panjang. Padahal musyawarah, kepala dingin, dan saling menghormati jauh lebih baik dibanding mempertahankan emosi yang akhirnya merugikan diri sendiri,” tegas Donny Putra T, S.H.

Sementara itu, Pimpinan Redaksi Mantv7.com, Rian Hidayat, menyampaikan bahwa media memiliki tanggung jawab menghadirkan informasi yang tidak hanya aktual, tetapi juga memberi nilai edukasi dan keteduhan bagi masyarakat. “Di tengah derasnya arus informasi saat ini, masyarakat membutuhkan pesan yang mampu menenangkan hati dan membangun kesadaran sosial. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang mampu menjaga hati, menghargai sesama, dan tetap rendah hati dalam setiap keadaan,” ujar Rian Hidayat.
Hari Kesadaran Ego Sedunia sejatinya menjadi pengingat bahwa ego mungkin mampu membuat seseorang terlihat hebat untuk sesaat, namun hanya kerendahan hati yang mampu membuat manusia dikenang dengan hormat, dicintai dengan tulus, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup di hati banyak orang.
(RED)











