Mantv7.com | Sumatra masih basah oleh duka. Air mungkin mulai surut di sebagian wilayah, tetapi luka belum sepenuhnya kering. Lumpur masih menempel di lantai rumah, kelelahan masih bersarang di tubuh warga, dan doa-doa terus terucap agar Allah SWT memberi ketabahan yang kuat bagi saudara-saudara kita yang diuji oleh banjir. Di tengah suasana itu, sebuah video sederhana dari Aceh beredar luas dan diam-diam mengoyak hati banyak orang. Tidak ada teriakan, tidak ada ratapan, tidak ada drama yang direkayasa. Hanya beberapa gadis kecil, dengan pakaian seadanya, membersihkan masjid yang terdampak banjir dengan sapu, tangan kecil, dan niat yang besar.
Seorang relawan bertanya, mungkin karena heran, mungkin karena terharu, “Siapa yang nyuruh bersihin masjid, dek?” Jawaban itu keluar begitu polos namun menghunjam, “Gak ada, Om. Kemauan kami sendiri. Sebentar lagi Ramadan, kami mau ngaji di sini.”
Kalimat itu seharusnya tidak berlalu begitu saja. Ia bukan sekadar jawaban anak-anak, melainkan tamparan iman bagi kita semua. Di saat sebagian orang dewasa sibuk membicarakan Ramadan dari sisi menu buka, pakaian baru, dan agenda seremonial, anak-anak ini justru memikirkan hal yang paling hakiki: tempat mengaji harus bersih agar Al-Qur’an bisa kembali dibaca.

Relawan lain kembali bertanya, “Rumah kalian gak kena banjir?” Mereka tersenyum, senyum yang terlalu dewasa untuk usia mereka. “Kena lah, Om. Tapi sudah ada mamak sama bapak yang bersihin lumpur di rumah.”
Pertanyaan itu berlanjut, seolah ingin mencari celah logika orang dewasa, “Rumahnya sudah bersih?” Jawaban mereka jujur dan tenang, “Belum, Om. Lumpurnya masih banyak. Mamak sama bapak masih bersih-bersih kok.” Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Tidak ada drama kehilangan.
Lalu mereka menutup percakapan dengan kalimat yang terasa seperti doa paling murni: “Kami ingin tempat ngaji kami cepat bersih, Om. Biar kami semua ngaji lagi bersama-sama.” Sebuah kalimat yang membuat dada terasa sempit dan mata terasa panas.
Di situlah nurani kita diuji. Anak-anak yang rumahnya belum layak, justru mendahulukan rumah Allah. Anak-anak yang terdampak bencana, justru takut kehilangan waktu mengaji. Sementara kita yang hidup dalam kenyamanan sering menunda masjid karena lelah, malas, atau merasa selalu ada esok hari.

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menyebut kisah ini sebagai cermin yang terlalu jujur bagi umat Islam. “Ini bukan kisah viral biasa. Ini pelajaran tauhid yang hidup. Anak-anak itu mengajarkan bahwa ketika hati sudah terikat kepada Allah, maka ibadah tidak menunggu keadaan ideal,” ujarnya dengan nada sendu.
Menurut Ustadz Ambia, jawaban “sebentar lagi Ramadan” dan “biar kami semua ngaji lagi bersama-sama” adalah tanda iman yang tumbuh alami. “Mereka tidak belajar ini dari ceramah panjang, tetapi dari keteladanan. Masjid bagi mereka adalah pusat kehidupan, bukan sekadar bangunan,” tuturnya.
Kalimat “Sebentar lagi Ramadan, kami mau ngaji di sini” sesungguhnya menelanjangi kita semua. Anak-anak itu mempersiapkan Ramadan dengan iman, sementara kita sering mempersiapkannya dengan dunia. Mereka membersihkan masjid agar Al-Qur’an kembali hidup, sementara kita kadang membiarkan Al-Qur’an berdebu di rak rumah.
Dan saat mereka berkata, “Biar kami semua ngaji lagi bersama-sama,” tersimpan kerinduan yang lebih dalam dari sekadar belajar. Ada rindu kebersamaan dalam ibadah, ada kesadaran bahwa iman tidak tumbuh sendirian, tetapi dirawat bersama. Sebuah sindiran sunyi bagi kita yang merasa cukup beribadah sendiri, lupa bahwa masjid adalah tempat menyatukan hati umat.
Kisah ini adalah tamparan tanpa suara, namun bekasnya lama terasa. Jika anak-anak yang rumahnya tenggelam masih memikirkan Al-Qur’an, lalu apa alasan kita yang rumahnya utuh, tubuhnya sehat, dan jalannya mudah? Aceh tidak hanya mengirim kabar duka, tetapi juga mengirim pelajaran iman bahwa di tengah lumpur dan bencana, iman justru bisa berdiri paling tegak.
(OIM)











