Mantv7.com | Selasa, 30 Agustus 2025 – Sore itu, Bundaran UGM tidak hanya dipenuhi doa dan suara ibu-ibu yang berisik karena peduli. Di tengah suasana yang hangat sekaligus getir, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Fathul Wahid, berdiri dan membacakan sebuah puisi yang membuat banyak orang terdiam. Judulnya sederhana, bahkan terdengar provokatif: “Tetaplah Bodoh.”
Namun isinya jauh dari kata sembrono.
Puisi itu dibacakan dalam acara Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik, 22 Desember 2025. Bait demi baitnya menyentil hal-hal yang selama ini kerap dianggap biasa: hutan yang berganti nama jadi kebun, bencana yang diperkecil jadi angka, empati yang seolah baru sah setelah tayang di layar kaca.
Tidak ada nada marah.
Tidak ada teriakan.
Justru di situlah kekuatannya.
Lewat puisinya, Fathul Wahid seperti mengajak publik berhenti sejenak dan bertanya: benarkah semua yang disebut “pintar” itu masih sejalan dengan akal sehat dan rasa kemanusiaan?
Sebagai pimpinan perguruan tinggi, langkah Fathul Wahid ini dinilai bukan sekadar ekspresi sastra.
Ia menunjukkan bahwa kampus masih punya suara, dan akademisi tidak harus selalu bersembunyi di balik data dan istilah teknokratis ketika nurani terusik. Sikap tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari.

Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Perjuangan Anak Negeri (YLPK PERARI).
Ketua Umum YLPK PERARI, Hefi Irawan, S.H., M.H., menyebut puisi “Tetaplah Bodoh” sebagai pengingat penting di tengah derasnya pencitraan dan pembenaran kebijakan. “Yang disampaikan Prof. Fathul Wahid itu sederhana tapi kena. Ini bukan soal puisi, tapi soal keberanian menjaga akal sehat di ruang publik,” kata Hefi.

Menurutnya, tidak banyak pimpinan institusi pendidikan yang berani menyampaikan kegelisahan sosial secara terbuka, apalagi dengan bahasa yang jujur dan mudah dipahami masyarakat. “Kadang kita terlalu sibuk terlihat pintar, sampai lupa bertanya: siapa yang sebenarnya menanggung akibat dari kebijakan-kebijakan itu? Di situ letak nilai dari apa yang dilakukan Rektor UII,” lanjutnya.
Hefi juga menilai pesan dalam puisi tersebut sejalan dengan kerja-kerja advokasi YLPK PERARI, terutama dalam mengkritisi kebijakan yang tampak rapi di atas kertas, tetapi meninggalkan luka di lapangan baik soal lingkungan, bencana, maupun hak-hak masyarakat kecil.
Di akhir puisinya, Fathul Wahid mengajak publik untuk “tetap bodoh” dengan nada ironis. Sebuah ajakan agar orang tidak larut dalam kepintaran semu yang membenarkan ketidakadilan.
Di tengah zaman yang gemar menampilkan citra dan prestasi, sikap seperti ini terasa langka.Dan mungkin, justru karena itu, layak didengar.
(OIM)











