Mantv7.com — Sebuah cerita binatang klasik berjudul Hasutan Berbahaya Hyena menyimpan pesan moral dan nilai keagamaan yang relevan dengan kehidupan sosial manusia masa kini. Kisah ini menggambarkan bagaimana hasutan, persepsi mayoritas, dan kekuasaan dapat menyesatkan kebenaran, serta bagaimana keadilan sejati pada akhirnya akan terungkap.
Dikisahkan, suatu hari Raja Singa jatuh sakit keras. Seluruh hewan datang menjenguk sebagai bentuk kesetiaan, kecuali seekor serigala. Ketidakhadiran serigala ini dimanfaatkan oleh hyena yang sejak awal menyimpan kebencian. Dengan licik, hyena menghasut sang raja agar menghukum serigala karena dianggap tidak tahu diri dan tidak menghormati pemimpinnya.
Terpengaruh oleh hasutan tersebut, Raja Singa memerintahkan hyena untuk segera memanggil serigala. Namun di hadapan raja, serigala memberikan penjelasan yang mengejutkan. Ia menyatakan bahwa justru karena mendengar Raja Singa sakit, ia pergi mencari tabib. Dari tabib itu, serigala mendengar kabar bahwa penyakit sang raja hanya bisa disembuhkan dengan menguliti dan memakan hyena.
Mendengar penjelasan tersebut, kebenaran pun terungkap. Raja Singa menyadari bahwa hyena-lah sumber masalah dan hasutan. Akhirnya, hyena ditangkap dan diterkam oleh Raja Singa sendiri.
Antara Kebenaran dan Keramaian ,Cerita ini menggambarkan realitas sosial yang sering terjadi:
“orang yang benar ketika sendirian bisa tampak salah, sementara orang yang salah jika didukung ramai-ramai bisa terlihat benar.”
Fenomena ini dalam psikologi sosial dikenal sebagai “Bandwagon Effect”atau efek ikut-ikutan, serta Argumentum ad Populum, yaitu anggapan bahwa sesuatu dianggap benar hanya karena dipercaya oleh banyak orang. Tekanan sosial dan kekuatan mayoritas sering kali membungkam suara kebenaran yang datang dari individu yang terisolasi.
Ketidakadilan persepsi ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu berjalan seiring dengan popularitas. Dalam banyak kasus, yang kuat dan yang banyak pendukungnya justru lebih didengar, meskipun keliru.
Dalam perspektif Islam, Ustadz Ahmad Rustam menegaskan: perbuatan menghasut dan mengadu domba merupakan dosa besar. orang yang senang menyebabkan pertengkaran dan memecah belah akan menuai akibat buruk dari perbuatannya sendiri. Islam sangat menekankan kejujuran, tabayyun (klarifikasi), dan keadilan sebelum menjatuhkan penilaian terhadap seseorang.
Surat ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang hasut menghasut adu domba/provokasi secara tegas melarangnya, terutama terdapat pada Surat Al-Qalam (68) ayat 10-11 yang menyebutkan larangan mengikuti orang yang suka “menebar namimah adu domba/fitnah”, dan Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa pelaku namimah tidak akan masuk surga dan termasuk perbuatan paling buruk.
Larangan ini juga mencakup hasad (dengki) dalam An-Nisa’ ayat 32, yang diperkuat dengan Hadis Riwayat Muslim tentang larangan dengki dan perintah untuk bersaudara, Allah SWT juga memperingatkan agar umat manusia tidak mudah menerima kabar tanpa memastikan kebenarannya, karena hal tersebut dapat menimbulkan penyesalan dan kerusakan.
Pesan Moral:
Cerita ini mengajarkan bahwa hasutan mungkin terlihat kuat di awal, tetapi kebenaran sejati tidak bisa selamanya disembunyikan. Pada akhirnya, orang yang gemar mengadu domba dan memanipulasi kebenaran akan celaka oleh perbuatannya sendiri.
Kisah ini menjadi pengingat agar umat manusia tidak terjebak dalam arus mayoritas yang menyesatkan, serta selalu berpihak pada kebenaran, meskipun harus berdiri sendiri.
Redaksi |Mantv7.com











