BeritaKabupatenPemerintahan

Kekecewaan Warga Balaraja Memuncak, YLPK PERARI Kabupaten Tangerang Layangkan Surat ke Bupati, Inspektorat, dan DPRD

161
×

Kekecewaan Warga Balaraja Memuncak, YLPK PERARI Kabupaten Tangerang Layangkan Surat ke Bupati, Inspektorat, dan DPRD

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Balaraja — Dulu warga membayangkan RTH sebagai ruang hijau yang hidup. Tempat berteduh, tempat anak bermain, tempat keluarga berkumpul. Tapi yang tersaji hari ini justru seperti tamparan pelan yang lama-lama terasa keras. Minggu sore ba’da ashar, warga, tokoh, dan para sepuh turun langsung ke lokasi. Bukan tanpa alasan. Rasa penasaran bercampur kecewa membawa mereka memastikan sendiri kondisi yang selama ini hanya jadi cerita dari mulut ke mulut.

Begitu sampai, jawabannya langsung terlihat. Area kering, jalan tanah berlubang dan becek, bangunan terlihat tidak terurus. Dengan anggaran miliaran rupiah, muncul indikasi kuat adanya ketimpangan antara rencana dan kenyataan.

Dari situ, perhatian bergeser ke detail. Rangka besi mulai berkarat, kanopi robek, dan fasilitas tampak dibiarkan. Ini memunculkan kecurigaan publik soal kualitas pekerjaan yang dipertanyakan sejak awal.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya. Kalau bangunan sudah berdiri, kenapa tidak hidup? Kios UMKM yang seharusnya jadi denyut ekonomi justru kosong. Ini memberi sinyal bahwa fungsi utama tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Masalah tidak berhenti di situ. Akses menuju lokasi masih becek dan sulit dilalui. Kondisi ini memunculkan perkiraan adanya ketidaksinkronan dalam perencanaan atau potensi pekerjaan yang belum maksimal.

Dari sini, benang merah mulai terlihat. Perencanaan dianggap tidak matang, lokasi tidak mendukung, dan hasil akhirnya tidak memberi manfaat. Muncul anggapan proyek ini hanya mengejar realisasi anggaran tanpa arah jelas.

Sorotan pun melebar ke pelaksanaan dan pengawasan. Semua lini punya peran, dari dinas teknis, PPK, PPTK, pengawas lapangan hingga Inspektorat. Jika hasilnya seperti ini, publik wajar mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengawal.

Buyung. E, aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menyampaikan, “Kalau ada indikasi atau temuan sementara, jangan ditutup. Ini soal kepercayaan. Uang rakyat harus jelas ke mana dan untuk apa.”

Di tengah kondisi itu, suara dari masyarakat sendiri semakin keras. Aktivis senior Balaraja menyampaikan, “Balaraja ini mau dibawa ke mana? Kalau bukan kita yang benahi, siapa lagi. Jangan sampai orang luar hanya datang ambil hasil. Kita harus kompak supaya ke depan anak cucu kita bisa menikmati, bukan cuma jadi penonton.”

Akhirnya, semua kembali ke satu titik. Ini bukan sekadar soal bangunan, tapi soal rasa. Ketika harapan warga tidak terjawab, yang muncul bukan hanya kecewa, tapi juga kehilangan percaya. Publik menunggu jawaban, bukan penjelasan yang berputar

Dan jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin suara warga akan berubah jadi tuntutan yang lebih besar.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks