BeritaGaya Hidup & Budaya

Saat 7 Art’s Kembali Tanpa Jarak dan Tetap Sama, 2 Angel Hadir Menjadi Penjaga Hangatnya Rasa dan Cerita

90
×

Saat 7 Art’s Kembali Tanpa Jarak dan Tetap Sama, 2 Angel Hadir Menjadi Penjaga Hangatnya Rasa dan Cerita

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang – Tidak semua pertemuan layak dikenang lama. Namun ada yang berbeda dari Sabtu, 11 April kemarin. Reuni “7 Art’s” bukan sekadar temu, melainkan potongan cerita yang kembali hidup dengan cara yang sederhana tanpa perlu dibuat-buat. Sejak terakhir berkumpul pada 2018, waktu membawa mereka ke arah masing-masing. Ada yang sibuk dengan keluarga, pekerjaan, dan tanggung jawab yang tidak ringan. Tapi menariknya, tidak ada satu pun yang benar-benar hilang dari lingkaran ini.

Berawal dari Daar el Qolam angkatan ke-29, mereka tumbuh dalam kebersamaan yang dulu terasa biasa. Namun justru dari situlah fondasi itu terbentuk tanpa disadari, tanpa dibuat formal, tapi cukup kuat untuk bertahan hingga hari ini. Kini, ketika mereka kembali bertemu, tidak ada suasana yang terasa asing. Tidak ada jeda yang canggung. Seolah percakapan lama hanya sempat terhenti, lalu dilanjutkan kembali di titik yang sama.

Masing-masing datang dengan cerita hidup yang berbeda. Sudah berkeluarga, memiliki pasangan, dan anak. Namun semua itu tidak mengubah cara mereka saling melihat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi, tidak ada yang merasa harus menyesuaikan diri. Mereka duduk dalam satu meja dengan cara yang sama seperti dulu. Saling menimpali, saling meledek, dan tertawa tanpa batas. Tidak ada yang berusaha terlihat lebih baik. Tidak ada yang menahan diri untuk sekadar menjaga kesan.

Alhamdulillah, kehadiran “2 Angel” Filian dan Naily menjadi warna yang melengkapi. Kehadiran mereka bukan hanya menambah, tapi menjaga keseimbangan. Membuat suasana tetap hangat, tetap nyaman, dan tetap terasa utuh. Candaan yang hadir pun tidak pernah benar-benar baru. Justru yang lama itulah yang kembali menemukan tempatnya. Tawa yang muncul terasa jujur, ringan, dan tidak membutuhkan alasan.

Di antara mereka, Sutan Fredianica tetap dengan ciri khasnya. Sosok yang dikenal dengan julukan “Casanova”, dengan pesona yang masih sama. Disukai banyak wanita, namun langkahnya tetap pasti. Dalam sebuah celetukan santai yang disambut tawa, ia mengatakan, “Yang suka boleh banyak, tapi yang saya sayang tetap satu istri.” Kalimat sederhana yang justru menegaskan arah hidupnya kini.

Sementara itu, Naily hadir dengan ketenangannya yang khas. Sosok guru yang tetap membawa perannya ke dalam lingkaran ini tidak pernah lelah mengingatkan ketika ada kata yang kurang pas, dan dengan lembut mengajak untuk tidak melupakan waktu sholat. Tanpa menggurui, tapi selalu tepat pada waktunya. Kehadirannya seperti penjaga ritme, membuat kebersamaan ini tetap hangat sekaligus terarah.

Di tengah hangatnya kebersamaan, “Mbah” bukan sekadar hadir ia adalah nyawa yang menghidupkan suasana. Keterlambatannya yang khas bukan kebetulan, melainkan “ritual” yang selalu ditunggu. Semua seolah paham, tanpa kehadirannya, pertemuan belum benar-benar dimulai. Ia tidak mencari perhatian, tapi selalu berhasil menjadi pusat rasa yang menyatukan.

“Hukuman” traktiran di tangannya berubah menjadi simbol kelas tentang memberi dengan elegan dan menjaga kebersamaan tanpa banyak kata. Dari “Mbah”, mereka belajar bahwa persahabatan tidak butuh hal besar, cukup konsistensi dalam menjaga rasa. Dan satu hal yang pasti, tanpa “Mbah”, cerita tetap berjalan namun tak akan pernah terasa sama.

Waktu berjalan tanpa terasa. Dari pukul 14.00 hingga menjelang 21.00, semuanya mengalir begitu saja. Tidak ada yang benar-benar ingin beranjak. Bahkan tanpa disadari, pertemuan panjang itu terasa begitu singkat seperti baru saja dimulai. Tidak ada yang terasa dibuat. Tidak ada yang dipaksakan. Semua berjalan sebagaimana adanya, mengalir dengan ringan, seolah waktu tidak pernah benar-benar memberi jarak.

Yang membuat pertemuan ini terasa utuh bukan karena tempatnya, bukan karena acaranya. Tapi karena mereka masih bisa hadir sebagai diri sendiri, tanpa perlu membawa apa pun selain rasa yang dulu pernah ada. Dan mungkin, tanpa perlu banyak kata, pertemuan seperti ini selalu punya caranya sendiri untuk meninggalkan kesan.

Bukan karena ingin diperlihatkan, tapi karena memang nyata adanya bahwa ada persahabatan yang tetap berjalan, tanpa berubah arah, tanpa kehilangan makna.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks