AgamaBeritaNasional

21 Desember dan Hari Meditasi Dunia: Saat Dunia Mencari Tenang, Islam Telah Menawarkannya Sejak Awal

128
×

21 Desember dan Hari Meditasi Dunia: Saat Dunia Mencari Tenang, Islam Telah Menawarkannya Sejak Awal

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Kabupaten Tangerang – Tanggal 21 Desember diperingati secara global sebagai World Meditation Day atau Hari Meditasi Dunia, sebuah inisiatif yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengajak masyarakat dunia memberi perhatian pada kesehatan mental, ketenangan batin, dan harmoni sosial di tengah tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks.

Penetapan ini lahir dari kegelisahan global: meningkatnya stres, kecemasan, konflik sosial, dan kelelahan jiwa manusia modern. Dunia seolah berhenti sejenak dan mengakui bahwa pembangunan fisik tanpa ketenangan batin telah melahirkan krisis baru yang tak kalah serius.

Namun bagi umat Islam, seruan global ini sejatinya bukan hal baru. Islam telah lebih dahulu menghadirkan konsep ketenangan jiwa yang utuh, berlandaskan wahyu, dan berorientasi pada perbaikan diri serta kemaslahatan sosial, bukan sekadar menenangkan pikiran sesaat.

Al-Qur’an dengan tegas menempatkan sumber ketenangan pada satu poros utama: Allah SWT. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menjadi jawaban mendasar atas kegelisahan batin manusia lintas zaman.

Dzikir dalam Islam bukan sekadar repetisi lafaz, melainkan proses membersihkan hati, mengendalikan emosi, dan menjaga akhlak. Dari dzikir lahir pribadi Muslim yang tenang, tidak mudah marah, tidak reaktif, dan mampu menjaga adab dalam perbedaan.

Islam juga mengajarkan tafakur, perenungan mendalam atas kehidupan dan tanda-tanda kebesaran Allah. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran: 190). Tafakur melatih umat berpikir jernih, tidak tergesa-gesa, dan bertindak dengan hikmah.

Dari tafakur tumbuh syukur, kesadaran bahwa setiap keadaan lapang maupun sempit adalah bagian dari rencana Allah. “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu,” (QS. Ibrahim: 7). Syukur menenangkan jiwa dan menjauhkan manusia dari kegelisahan yang lahir dari keluh kesah tanpa akhir.

Dalam proses pembenahan diri, Islam menekankan muhasabah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati,” (HR. Tirmidzi). Muhasabah membentuk kejujuran batin dan meruntuhkan kesombongan yang sering menjadi sumber konflik sosial.

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa) Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.H., M. Ag., menegaskan bahwa seluruh ajaran tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk ketenangan jiwa sekaligus akhlak sosial umat. “Dalam Islam, ketenangan jiwa dicapai melalui dzikir, tafakur, syukur, muhasabah, dan doa. Inilah jalan ruhani yang diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah SAW untuk membentuk Muslim yang tenang, ramah, taat, dan berakhlak,” ujarnya.

Ustad Ambia menambahkan bahwa doa menjadi puncak ketundukan manusia kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan,” (QS. Ghafir: 60). Doa bukan hanya permohonan, tetapi penyerahan diri yang melahirkan keteguhan mental dan harapan hidup.

Islam tidak berhenti pada ketenangan personal. Rasulullah SAW menegaskan dimensi sosialnya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR. Ahmad). Ketenangan sejati dalam Islam harus berbuah pada sikap yang menenangkan orang lain, bukan sebaliknya.

Karena itu, momentum 21 Desember Hari Meditasi Dunia dapat dimaknai umat Islam sebagai pengingat global bahwa Islam tidak kekurangan konsep ketenangan jiwa, bahkan menawarkan kerangka yang lebih lengkap: spiritual, moral, dan sosial tanpa mencampuradukkan akidah, tanpa ritual tanpa dalil.

 

Di saat dunia baru menyadari pentingnya ketenangan batin, Islam telah mengajarkannya sejak lebih dari 14 abad lalu. Bukan dengan mengosongkan hati, tetapi dengan mengisinya dengan iman. Dari sanalah lahir Muslim yang tenang, ramah, taat, dan benar-benar bermanfaat bagi sesama sebuah kemenangan nilai Islam yang bermartabat, sunyi, namun nyata.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks