Mantv7.com | Kabupaten Tangerang – Fenomena game online semakin marak di kalangan anak-anak dan remaja. Meski menawarkan hiburan dan interaksi sosial, ternyata ada dampak yang tidak boleh diabaikan, yaitu potensi membuat anak menjadi malas dalam belajar dan menurunkan produktivitas akademik.
Menurut Widia Lestari, Kabid Edukasi dan Literasi Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, kekhawatiran terhadap pengaruh game online terhadap perilaku anak bukanlah tanpa dasar. “Kami menemukan adanya pola perilaku anak yang mulai mengutamakan game dibanding belajar, bahkan sampai mengabaikan waktu tidur dan kegiatan sehari-hari,” jelas Widia.
Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering bermain game online cenderung mengalami penurunan motivasi belajar. Aktivitas game yang adiktif membuat anak kehilangan fokus pada tugas sekolah dan aktivitas produktif lainnya.
Widia menambahkan, “Dampak ini seringkali terlihat ketika anak menunjukkan sikap enggan mengerjakan PR, menunda-nunda belajar, atau bahkan merasa bosan dengan kegiatan yang sifatnya edukatif. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius bagi orang tua dan pendidik.”
Selain itu, ada risiko sosial yang menyertai kecanduan game online. Anak-anak yang terlalu sering bermain game cenderung menarik diri dari interaksi sosial langsung, mengurangi komunikasi keluarga, dan mengalami kesulitan membangun empati dengan teman sebaya.
YLPK PERARI mendorong adanya pengawasan yang seimbang antara kebebasan digital anak dan kontrol edukatif dari orang tua. Widia menekankan, “Orang tua harus aktif membimbing, menetapkan batas waktu bermain, dan mengenalkan kegiatan alternatif yang bermanfaat seperti olahraga, membaca, atau belajar keterampilan baru.”
Dalam konteks sekolah, guru dan tenaga pendidik juga memiliki peran strategis. Menurut Widia, integrasi literasi digital dan edukasi tentang pengelolaan waktu dapat membantu anak memahami bahwa game hanyalah hiburan, bukan prioritas utama dalam hidup mereka.
Beberapa langkah preventif yang disarankan YLPK PERARI antara lain membuat jadwal harian anak yang jelas, mengawasi konten yang diakses, dan memberi contoh perilaku digital sehat. Hal ini bertujuan agar anak tidak kehilangan keseimbangan antara dunia virtual dan dunia nyata.
Widia juga menyoroti pentingnya edukasi tentang dampak psikologis game online. “Anak perlu memahami konsekuensi dari kecanduan game, seperti gangguan konsentrasi, kelelahan mental, dan berkurangnya minat belajar. Edukasi ini bisa dimulai dari diskusi ringan di rumah hingga kegiatan literasi digital di sekolah.”
YLPK PERARI terus melakukan sosialisasi dan workshop bagi orang tua dan guru di Kabupaten Tangerang untuk meningkatkan kesadaran tentang manajemen penggunaan gadget dan game online. Tujuannya, agar anak-anak dapat menikmati hiburan digital tanpa mengorbankan kualitas pendidikan mereka.
Widia menegaskan, “Kesadaran kolektif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting. Game online boleh menjadi hiburan, tetapi tidak boleh menguasai hidup anak. Literasi digital dan disiplin waktu adalah kunci agar generasi muda tetap cerdas, produktif, dan berprestasi.”
(OIM)











