AgamaBeritaGaya Hidup & BudayaNasionalVideo

Dari Wahyu ke Teknologi: Ketika Ilmuwan Dunia Takjub, Al-Qur’an Terbukti Membimbing Sains dan Inovasi Peradaban

140
×

Dari Wahyu ke Teknologi: Ketika Ilmuwan Dunia Takjub, Al-Qur’an Terbukti Membimbing Sains dan Inovasi Peradaban

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Peradaban Islam kembali ditegaskan sebagai mata air lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, ketika Al-Qur’an dijadikan cahaya berpikir dan akal dijadikan alat ikhtiar. Sejarah mencatat, jauh sebelum era digital dan revolusi industri, para ilmuwan Muslim telah menorehkan inovasi sains yang lahir dari spirit wahyu, sebagaimana firman Allah, “Dan Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-‘Alaq: 5).

Keselarasan antara wahyu dan ilmu ini tidak hanya diakui oleh umat Islam, tetapi juga mengundang keterkejutan ilmuwan modern, salah satunya Dr. Keith L. Moore, pakar embriologi dunia dan penulis buku rujukan kedokteran The Developing Human. Ia menyatakan takjub ketika menelaah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan proses penciptaan manusia secara bertahap, yang terbukti sejalan dengan temuan ilmiah modern.

 

Dalam video tiktok yang di upload @jalantengah.id dijelaskan Dr. Moore menilai bahwa penjelasan Al-Qur’an tentang fase embrio seperti nuthfah, ‘alaqah, dan mudhghah sangat akurat dan tidak mungkin berasal dari pengetahuan manusia abad ke-7. Hal ini selaras dengan firman Allah, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri” (QS. Fussilat: 53), seakan ilmu modern baru mengejar kebenaran wahyu.

Sejalan dengan itu, sejarah Islam mencatat Ibnu Al-Haytham sebagai tokoh sentral yang membuktikan bahwa Al-Qur’an melahirkan metode ilmiah yang beradab. Melalui riset optik dan eksperimen cahaya, ia menegakkan prinsip observasi dan verifikasi, sejalan dengan perintah Allah, “Tidakkah mereka memperhatikan dengan saksama?” (QS. Al-Mulk: 3–4). Cahaya baginya bukan sekadar fisika, melainkan simbol hidayah.

Dalam bidang rekayasa, Al-Jazari tampil sebagai pelopor otomasi yang menyejukkan peradaban. Jam air dan mesin otomatis ia ciptakan bukan untuk dominasi, melainkan pelayanan umat. Inovasi ini merefleksikan firman Allah, “Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi” (QS. Al-Jatsiyah: 13), bahwa teknologi adalah amanah.

Sementara itu, Ibnu Sina menghadirkan sintesis luhur antara medis, sains, dan spiritualitas. Melalui Al-Qanun fi at-Thibb, ia menegaskan bahwa pengobatan adalah ikhtiar ilmiah yang harus disertai tauhid, sebagaimana firman-Nya, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku” (QS. Asy-Syu‘ara: 80).

Di cakrawala kosmos, Al-Biruni mengajarkan manusia membaca keteraturan langit dan bumi. Perhitungannya tentang waktu dan planet selaras dengan ayat, “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. Ar-Rahman: 5), menjadikan sains sebagai jalan tafakkur.

Di laboratorium, Jabir bin Hayyan mengubah alkimia menjadi kimia eksperimental yang teruji, lahir dari semangat iqra’. Sementara Abbas Ibnu Firnas, dengan eksperimen terbangnya, menunjukkan keberanian ilmiah yang terinspirasi alam, sebagaimana burung terbang dengan izin Allah (QS. An-Nahl: 79).

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Seluruh rangkaian ini menegaskan satu benang merah kuat: Al-Qur’an bukan buku teknik, melainkan kompas peradaban ilmu. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum JAMDAL, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, yang menyatakan, “Ketika ilmu lahir dari dzikir dan fikir, teknologi akan menjadi rahmat, bukan ancaman.”

Ia menambahkan, generasi Muslim hari ini tidak cukup hanya mengagumi sejarah atau kagum pada pengakuan ilmuwan Barat, tetapi harus mempraktikkan budaya riset sebagai ibadah, sebagaimana QS. Az-Zumar: 9 menegaskan keutamaan orang berilmu. Rilisan ini menjadi ajakan reflektif dan praktis bahwa masa depan teknologi Islam bukan utopia, melainkan keniscayaan.

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, akal sebagai alat, dan etika sebagai pagar, umat Islam kembali dipanggil membangun peradaban ilmu yang menyejahterakan, sebagaimana janji Allah, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks