Mantv7.com | Tangerang — Malam hari seharusnya menjadi waktu paling sakral bagi pasien rumah sakit untuk beristirahat dan memulihkan diri. Namun ketenangan itu diduga terusik di Metro Hospitals M.Toha, yang beralamat di Jl. Moh. Toha No.1 Km. 2, RT.001/RW.004, Nambo Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, menyusul adanya aktivitas pembersihan lorong rawat inap menggunakan Walk-Behind Floor Scrubber Dryer pada Senin malam, 05 Januari 2026, sekitar pukul 23.00 WIB, waktu yang lazim dikenal sebagai jam istirahat total pasien.

Peristiwa tersebut bukan sekadar soal lantai yang dibersihkan, melainkan soal suasana yang berubah. Mesin pembersih bermotor itu menimbulkan suara bising dari sistem vakum dan sikat berputar. Kondisi ini disinyalir, atau setidaknya berindikasi kuat, mengganggu ketenangan pasien yang tengah terlelap, termasuk mereka yang membutuhkan suasana hening demi proses pemulihan kesehatan.
Keresahan itu disampaikan langsung oleh salah satu keluarga pasien yang sedang menunggu, namun memilih identitasnya dirahasiakan. Ia mengaku terganggu dengan suara mesin yang melintas di lorong rawat inap pada jam sensitif. “Pasien baru bisa istirahat malam, tapi justru ada suara mesin keras lewat depan kamar. Rasanya seperti lupa kalau ini rumah sakit, bukan gedung kosong,” ujarnya dengan nada kecewa.
Gangguan tersebut tidak berhenti pada keluhan emosional. Situasi ini sekaligus membuka pertanyaan serius mengenai sensitivitas pelayanan. Lorong rawat inap sejatinya merupakan area yang menuntut ketenangan ekstra. Ketika alat berat dioperasikan di jam istirahat malam, maka kondisi tersebut patut diduga sebagai kurangnya kepekaan operasional, atau minimal lemahnya pengaturan teknis di lapangan.
Lebih jauh, praktik ini memunculkan tanda tanya soal kepatuhan terhadap kebijakan internal rumah sakit. Umumnya, fasilitas kesehatan memiliki pengaturan ketat terkait penggunaan alat berisik. Jika aktivitas semacam ini tetap berlangsung pada jam istirahat pasien, maka situasi tersebut layak dicermati sebagai indikasi kelalaian prosedural, meski tetap berada dalam ranah klarifikasi dan membutuhkan penjelasan resmi dari pihak manajemen.
Dari sudut pandang pelayanan kesehatan, efisiensi kerja semestinya tidak mengorbankan hak dasar pasien atas ketenangan. Kebersihan memang penting, namun waktu dan metode pelaksanaannya menjadi faktor penentu. Alternatif seperti penjadwalan ulang ke pagi hari, penggunaan mesin dengan tingkat kebisingan rendah, atau pembersihan manual sementara di malam hari sejatinya dapat menjadi solusi yang lebih manusiawi.

Sorotan terhadap peristiwa ini semakin menguat setelah Buyung E, aktivis Kabupaten Tangerang yang tergabung dalam YLPK Perari Kabupaten Tangerang, angkat bicara. Dari perspektif kontrol sosial, Buyung menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. “Jika benar aktivitas itu dilakukan pada jam istirahat malam, maka hal tersebut patut disinyalir sebagai bentuk pengabaian terhadap hak pasien atas kenyamanan dan ketenangan,” tegasnya.

Menurut Buyung, rumah sakit harus menempatkan empati sebagai fondasi utama pelayanan. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan tuntutan efisiensi tidak boleh berdiri di atas rasa tidak nyaman pasien. “Rumah sakit adalah ruang pemulihan, bukan ruang uji toleransi kebisingan. Jangan sampai kebersihan dijadikan pembenaran untuk mengabaikan sisi kemanusiaan,” lanjutnya.
Meski demikian, Buyung mengingatkan agar persoalan ini tetap ditempatkan dalam koridor evaluasi dan klarifikasi, bukan penghakiman sepihak. Ia mendorong pihak Metro Hospitals M.Toha untuk membuka penjelasan resmi terkait standar operasional prosedur (SOP) penggunaan alat pembersih di area rawat inap, agar tidak memunculkan spekulasi berkepanjangan di ruang publik.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Metro Hospitals M.Toha belum memberikan keterangan resmi, dan upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
Pada akhirnya, keberadaan Walk-Behind Floor Scrubber Dryer bukanlah sesuatu yang sepenuhnya keliru. Alat ini memiliki keunggulan dari sisi efisiensi, standar higienitas, serta pengurangan risiko terpeleset. Namun tanpa pengaturan waktu dan lokasi yang tepat, manfaat tersebut justru berpotensi berubah menjadi sumber gangguan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mutu layanan rumah sakit tidak hanya diukur dari lantai yang mengilap, tetapi dari seberapa dalam empati dijaga saat pasien paling membutuhkan ketenangan.
(RED)












Bapak itu foto sekretariatnya ko itu burung garuda ga ada kepala nya terus ada ada gambar palu arit di dalam prisai pancasila yang biasa ada di burung garuda mohon penjelasan ideologi yang di pakai apakah semi komunis yayasan nya?