BeritaGaya Hidup & BudayaNasionalPemerintahan

Logika, Etika, dan Keadilan: Pesan Hari Logika Sedunia dari YLPK PERARI, Mantv7.com, dan Law Firm Hefi Sanjaya And Partners

104
×

Logika, Etika, dan Keadilan: Pesan Hari Logika Sedunia dari YLPK PERARI, Mantv7.com, dan Law Firm Hefi Sanjaya And Partners

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tanggal 14 Januari diperingati sebagai Hari Logika Sedunia, sebuah momentum penting untuk mengingat kembali peran akal sehat dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah derasnya arus informasi, opini, dan kepentingan, logika menjadi kompas utama agar publik tidak tersesat dalam kesimpulan yang tergesa-gesa.

Logika sejatinya bukan hanya soal menentukan siapa benar dan siapa salah. Lebih dari itu, logika mengajarkan manusia memahami proses menuju kebenaran melalui fakta, data, penalaran, dan sikap terbuka terhadap argumen yang dapat diuji secara rasional.

Dalam semangat tersebut, YLPK PERARI bersama Media Mantv7.com dan Law Firm Hefi Sanjaya & Partners menghadirkan pesan edukatif kepada masyarakat bahwa berpikir logis adalah fondasi penting dalam membangun keadilan sosial, perlindungan konsumen, serta penegakan hukum yang beradab.

Ketua Umum YLPK PERARI, Hefi Irawan, S.H., M.H., menyampaikan bahwa logika adalah alat perjuangan yang paling jujur. Dalam kerja advokasi konsumen, nalar yang sehat menjadi penuntun agar pembelaan hak masyarakat tidak terjebak emosi, prasangka, atau tekanan kepentingan tertentu.

“Berpikir logis berarti berani menelusuri persoalan dari hulunya, memahami regulasi, serta menimbang fakta secara adil. Keadilan tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari proses berpikir yang runtut dan bertanggung jawab,” ungkap Hefi Irawan dalam pernyataan edukatifnya.

Ia menekankan bahwa masyarakat yang dibekali logika tidak mudah terprovokasi, tidak cepat menyimpulkan, dan mampu membedakan antara fakta, opini, serta kepentingan. Inilah dasar penting agar hak konsumen dapat diperjuangkan secara bermartabat dan sah secara hukum.

Dari sisi media, Pimpinan Redaksi Mantv7.com, Rian Hidayat, menegaskan bahwa logika adalah roh jurnalisme. Media, menurutnya, tidak cukup hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga wajib menjelaskan konteks dan proses agar publik memahami kebenaran secara utuh.

“Jurnalisme yang logis adalah jurnalisme yang memverifikasi, menimbang, dan menjelaskan. Media harus membantu masyarakat berpikir, bukan menggiring opini atau memperkeruh keadaan,” tutur Rian Hidayat.

Ia menambahkan bahwa di era digital, logika menjadi benteng utama melawan hoaks dan disinformasi. Ketika media bekerja dengan nalar dan etika, kepercayaan publik akan tumbuh, dan ruang publik menjadi lebih sehat.

Sementara itu, Donny Putra T., S.H., advokat dari Law Firm Hefi Sanjaya & Partners, memandang logika sebagai inti dari praktik hukum yang adil. Baginya, hukum tanpa penalaran yang jernih hanya akan menjadi prosedur kosong.

“Dalam advokasi hukum, logika digunakan untuk merangkai fakta, norma, dan argumentasi. Kebenaran hukum tidak lahir dari asumsi, melainkan dari proses berpikir yang bisa diuji dan dipertanggungjawabkan,” jelas Donny.

Ia menilai edukasi logika kepada masyarakat sangat penting agar publik memahami bahwa kritik, gugatan, maupun pembelaan hukum harus dibangun di atas proses yang rasional, bukan sekadar dorongan emosi atau tekanan massa.

Melalui peringatan Hari Logika Sedunia ini, YLPK PERARI, Media Mantv7.com, dan Law Firm Hefi Sanjaya & Partners mengajak masyarakat menjadikan logika sebagai budaya bersama. Karena pada akhirnya, berpikir logis bukan sekadar mencari siapa yang benar, melainkan memahami jalan panjang menuju kebenaran yang berkeadilan.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks