AgamaBeritaGaya Hidup & BudayaPendidikan

Keramat Orang Tua: Jalan Paling Nyata Menuju Ridho Allah yang Sering Diabaikan

105
×

Keramat Orang Tua: Jalan Paling Nyata Menuju Ridho Allah yang Sering Diabaikan

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat dan penuh tuntutan, manusia kerap mencari keberkahan ke tempat yang jauh dan simbol yang rumit. Padahal Islam sejak awal telah menunjukkan sumber keberkahan yang paling dekat dan paling nyata: orang tua, ayah dan ibu, yang oleh Allah dijadikan pintu rahmat dalam kehidupan manusia.

Al-Qur’an menempatkan bakti kepada orang tua tepat setelah perintah tauhid. Dalam Surah Al-Isra ayat 23, Allah menggandengkan larangan menyekutukan-Nya dengan perintah berbuat ihsan kepada kedua orang tua, menandakan bahwa kemurnian iman selalu diikuti oleh adab kepada ayah dan ibu.

Ayat tersebut memberi pesan tegas bahwa ridho Allah tidak hadir di ruang kosong. Ia mengalir melalui sikap seorang anak kepada orang tuanya. Ketika hati orang tua dijaga, ucapan ditata, dan ego ditundukkan, di situlah keberkahan bekerja secara nyata, meski sering tidak disadari.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menegaskan bahwa keramat orang tua adalah ketetapan wahyu. “Allah sendiri yang mengaitkan ridho-Nya dengan ridho orang tua. Ini bukan tradisi, tapi perintah langsung dari Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut Ustadz Ambia, banyak orang keliru dalam memahami jalan keberkahan. “Sebagian sibuk mencari amalan besar, tetapi lupa menjaga hati orang tua. Padahal Al-Qur’an mengingatkan agar jangan berkata ‘ah’ sekalipun kepada mereka. Ini menunjukkan betapa sensitifnya urusan ini,” tegasnya, merujuk lanjutan Surah Al-Isra ayat 23.

Dalam Surah Luqman ayat 14, Allah kembali menegaskan pentingnya berbakti kepada orang tua dengan mengingatkan perjuangan seorang ibu yang mengandung dalam keadaan lemah bertambah-tambah. Ayat ini mengajarkan bahwa bakti bukan sekadar kewajiban, melainkan kesadaran akan pengorbanan yang sering terlupakan.

Dari perspektif pendidikan Islam, birrul walidain adalah madrasah karakter paling awal. Di sanalah seorang anak belajar sabar, rendah hati, dan ikhlas. Nilai-nilai ini selaras dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15, yang mengajarkan doa dan sikap syukur seorang anak kepada kedua orang tuanya.

Secara psikologis dan sosial, mereka yang memuliakan orang tua cenderung memiliki ketenangan batin dan kestabilan emosi. Islam menyebut ini sebagai sunnatullah, sebagaimana ditegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 97 bahwa kehidupan yang baik akan Allah berikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Praktik memuliakan orang tua sejatinya sederhana namun berdampak besar. Al-Qur’an mengajarkan untuk merendahkan diri di hadapan orang tua dengan penuh kasih sayang, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra ayat 24, sebuah adab yang bisa diwujudkan dalam tutur kata, sikap, dan perhatian sehari-hari.

Di sinilah letak inovasi nilai yang relevan sepanjang zaman. Ketika dunia menawarkan perubahan instan, Islam justru mengajarkan perubahan mendasar yang dimulai dari rumah, dari cara seorang anak mempraktikkan nilai Al-Qur’an dalam relasinya dengan ayah dan ibu.

Pada akhirnya, tidak ada tempat yang lebih keramat daripada orang tua. Tidak ada doa yang lebih bening selain doa mereka. Dan tidak ada jalan yang lebih pasti menuju ridho Allah selain menjaga ridho ayah dan ibu, sebagaimana telah Allah tetapkan berulang kali dalam firman-Nya.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks