Mantv7.com | Menjelang Ramadan, ketika langit seolah lebih dekat dan hati manusia lebih mudah retak oleh kesadaran, sebuah kisah dari channel YouTube Buka Buku Ini datang seperti bisikan yang tak bisa diabaikan. Ia bukan pejabat sejak awal. Bukan anak orang besar. Ia hanya seorang office boy yang setiap pagi menyapa lantai dengan pel, bukan menyapa investor dengan proposal.
Ia datang ketika lampu-lampu kantor masih redup. Tangannya menggenggam sapu, membersihkan jejak hari kemarin agar orang lain bisa memulai hari tanpa beban. Ia mengepel ruang rapat tempat keputusan miliaran rupiah dibuat. Ia merapikan meja sebelum eksekutif duduk. Ia mengharumkan kamar mandi sebelum siapa pun mengeluh. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan. Hanya sunyi yang menjadi saksi niatnya.
Bagi sebagian orang, pekerjaannya mungkin biasa. Bahkan dipandang rendah. Namun baginya, setiap sudut ruangan adalah ladang pahala. Ia pernah mengatakan dalam wawancara itu, “Ibadah bukan hanya yang kita lakukan untuk diri sendiri.” Sholat, puasa, haji adalah fondasi. Tetapi membahagiakan orang lain, memudahkan urusan mereka, menghadirkan kenyamanan tanpa diminta itulah ibadah yang hidup.
Ia mencuci kendaraan karyawan sebelum mereka pulang agar perjalanan terasa ringan. Ia memastikan meja bersih agar pagi dimulai dengan semangat. Ia menjaga kebersihan kamar mandi agar tak ada yang terganggu. Hal-hal kecil yang sering tak dianggap, justru ia anggap sebagai titipan amal. Ia tidak bekerja untuk dilihat manusia. Ia bekerja karena yakin ada Dzat Yang Maha Melihat.
Dari keyakinan itulah lahir konsistensi. Ia tak pernah tahu kapan doanya dijawab. Ia hanya tahu tugasnya adalah menjaga niat. Tanpa ia sadari, ketulusan itu terlihat. Ia dipercaya membantu administrasi. Belajar membaca laporan keuangan. Mengamati rapat-rapat penting dari sudut ruangan. Ia tak hanya membersihkan meja direksi ia membersihkan cara berpikirnya tentang masa depan.
Proses itu panjang. Tidak instan. Ia tetap rendah hati saat tanggung jawab bertambah. Dari staf, menjadi manajer. Dari manajer, dipercaya duduk di jajaran direksi. Hingga akhirnya, namanya tercatat sebagai pemegang saham perusahaan terbuka. Dari tangan yang dulu memeras kain pel, kini menandatangani keputusan strategis perusahaan.
Namun ketika ditanya apa yang paling ia syukuri, ia tidak menyebut jabatan. Ia menyebut kesempatan melayani. Ia menyebut sujud-sujud panjang yang ia lakukan saat istirahat. Ia menyebut doa-doa lirih yang hanya ia dan Allah yang tahu. Baginya, jabatan hanyalah amanah baru, bukan tujuan akhir.

Menanggapi kisah tersebut, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), menegaskan bahwa Islam memuliakan siapa pun yang bekerja dengan amanah. “Kemuliaan bukan pada jabatan, tetapi pada ketakwaan dan manfaatnya bagi sesama. Siapa pun yang bekerja dengan niat ibadah, Allah bisa angkat derajatnya dari arah yang tak disangka,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, Ramadan bukan hanya soal memperbanyak ritual, tetapi memperbaiki niat dalam setiap aktivitas. “Kalau bekerja diniatkan ibadah, maka kantor bisa menjadi ladang pahala sebagaimana masjid,” tambahnya. Pesan itu terasa menohok, terutama bagi kita yang sering memisahkan antara dunia kerja dan dunia ibadah.
Kisah ini bukan dongeng motivasi kosong. Ia nyata. Ia lelah, pernah diremehkan, pernah dipandang sebelah mata. Tetapi ia tidak membalas dengan kebencian. Ia memilih membalas dengan kualitas kerja dan doa. Dari posisi paling bawah, ia belajar arti sabar. Dari sunyi, ia belajar arti syukur.
Menjelang Ramadan, cerita ini seperti cermin besar yang memantulkan wajah kita sendiri. Sudahkah pekerjaan kita bernilai ibadah? Sudahkah kita menyenangkan orang-orang di sekitar kita tanpa pamrih? Atau kita hanya sibuk mengejar jabatan tanpa memperbaiki niat?
Ramadan akan segera tiba. Bulan ketika pahala dilipatgandakan dan hati diuji ketulusannya. Dari seorang OB kita belajar, bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh titik awal, melainkan oleh kesetiaan menjaga niat. Dari lantai yang ia pel setiap pagi, Allah angkat derajatnya setinggi yang tak pernah ia bayangkan.
(OIM)











