Mantv7.com | Tangerang – Banyak orang mengira kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” hanya diucapkan saat duka. Seperti tanda kehilangan, sedih, atau perpisahan. Padahal, kalau direnungkan lebih dalam, kalimat itu justru bisikan cinta Allah yang paling lembut dan romantis.
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa setiap yang kita miliki hanyalah titipan. Orang, harta, waktu, semuanya bukan milik kita. Saat sesuatu pergi, Allah seperti berbisik pelan: “Jangan sedih, kalian itu milik-Ku, dan kalian akan kembali kepada-Ku.”
Di sebuah potongan video pendek yang viral di TikTok @oneminddaily, musisi sekaligus stand up comedian Raim Laode menuturkan:
“Kalau kita sayang sama orang, biasanya kita bilang: kamu milikku, aku milikmu. Nah kalimat Innalillahi wa inna ilaihi raji’un itu cara Tuhan bilang: kalian milik-Ku, dan kalian akan kembali ke-Ku. Itu kalimat paling romantis.”
Ucapan sederhana itu membuat banyak orang terdiam. Selama ini kita terlalu fokus pada kata “kehilangan”, padahal di dalam kalimat itu ada cinta Allah yang sangat dalam dan lembut.
Bayangkan, saat orang yang kita cintai pergi, atau saat sesuatu yang kita sayangi hilang, Allah sedang menenangkan hati kita. Dia seperti memeluk kita pelan dan berkata: “Kamu bukan sendiri. Aku selalu menyayangimu. Kau milik-Ku.”
Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an, bahwa manusia dan seluruh yang ada di dunia hanyalah titipan. Suatu saat semuanya akan kembali kepada-Nya. Semua yang hilang, semua yang pergi, sebenarnya hanya sedang menunggu kita kembali kepada Allah.
Di pertengahan Ramadhan yang ke-15, kalimat ini terasa lebih dalam. Puasa membuat hati lebih lembut, lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah. Kehilangan terasa bukan lagi menyakitkan, tapi justru membuka mata hati kita untuk menyadari cinta Allah yang abadi.
Ketika kita mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, bukan sekadar bersabar. Itu seperti menenggelamkan diri dalam romansa Ilahi. Kita tersadar bahwa cinta Allah lebih lembut dari pelukan manusia, lebih hangat dari apapun yang kita miliki, dan selalu menunggu kita kembali.
Kita sering terlalu sibuk mencintai dunia. Terlalu sibuk merasa bahwa semua yang kita miliki adalah milik kita. Padahal cinta sejati adalah menyadari bahwa kita adalah milik Allah, dan segala yang kita cintai hanyalah titipan-Nya.
Di hari-hari Ramadhan yang setengah jalan ini, mungkin saatnya kita bertanya pada diri sendiri: Apakah aku benar-benar merasakan romantisme cinta Allah setiap detik hidupku, atau aku masih terlalu sibuk mencintai yang fana?
(OIM)











