AgamaBeritaPendidikanVideo

Ketika Iblis Justru Menjadi Penunjuk Jalan: Pelajaran Subuh tentang Godaan, Kesabaran, dan Maghfirah Allah

125
×

Ketika Iblis Justru Menjadi Penunjuk Jalan: Pelajaran Subuh tentang Godaan, Kesabaran, dan Maghfirah Allah

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Dalam khazanah dakwah Islam, kisah-kisah hikmah tidak sekadar berfungsi sebagai cerita pengantar ceramah. Ia menjadi media edukasi spiritual yang menanamkan kesadaran tentang bagaimana manusia menghadapi godaan hidup, kesabaran dalam ujian, serta luasnya maghfirah atau ampunan Allah SWT. Salah satu kisah yang kerap disampaikan para mubalig adalah tentang seorang hamba yang berjalan menuju masjid di waktu subuh hingga bahkan iblis pun merasa khawatir terhadap keteguhan imannya.

Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa iblis memiliki satu tujuan utama: menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Godaan itu tidak selalu datang dalam bentuk dosa besar, tetapi sering kali melalui hal-hal sederhana seperti rasa malas, putus asa, menunda ibadah, hingga membuat manusia merasa lelah dalam kebaikan. Namun, di sisi lain, kesabaran manusia dalam menghadapi godaan itulah yang justru menjadi pintu turunnya rahmat Allah.

Kisah ini bermula pada sebuah subuh yang gelap. Seorang pria saleh keluar dari rumahnya untuk menunaikan salat Subuh berjamaah di masjid. Jalan yang ia lalui licin dan penuh lumpur setelah hujan semalam. Langkahnya berhati-hati, namun takdir membuatnya tergelincir dan jatuh hingga pakaian yang dikenakannya kotor.

Alih-alih mengeluh, ia memilih pulang ke rumah untuk bersuci kembali. Ia mandi, mengganti pakaian yang bersih, lalu kembali berjalan menuju masjid. Bagi sebagian orang, kejadian seperti itu mungkin cukup menjadi alasan untuk menunda ibadah. Namun bagi pria tersebut, jatuh bukan alasan untuk berhenti mendekat kepada Allah.

Perjalanan kedua ternyata lebih berat. Di tempat yang hampir sama, ia kembali tergelincir dan jatuh untuk kedua kalinya. Tubuhnya kembali kotor oleh lumpur yang sama. Meski demikian, ia tidak marah dan tidak pula menyalahkan keadaan. Ia kembali pulang untuk membersihkan diri, lalu memulai perjalanan menuju masjid sekali lagi.

Ketika ia berjalan untuk ketiga kalinya, tiba-tiba muncul seseorang yang membawa lentera terang. Orang itu berkata dengan tenang bahwa ia ingin menerangi jalan agar pria tersebut tidak jatuh lagi. Dengan bantuan cahaya itu, akhirnya pria saleh tersebut dapat mencapai masjid dengan selamat.

Setibanya di depan masjid, pria itu mengajak orang tersebut masuk untuk salat berjamaah. Namun ajakan itu ditolak. Rasa heran membuatnya bertanya siapa sebenarnya orang yang telah menolongnya di jalan yang gelap itu.

Jawaban yang ia terima justru membuatnya terkejut. Orang itu berkata bahwa dirinya adalah iblis. Mendengar pengakuan tersebut, pria saleh itu semakin bingung mengapa makhluk yang dikenal sebagai musuh manusia justru membantunya menuju masjid.

Iblis kemudian menjelaskan alasan sebenarnya. Saat pria itu jatuh untuk pertama kalinya lalu kembali bersuci, Allah mengampuni seluruh dosa-dosanya. Ketika ia jatuh untuk kedua kalinya namun tetap sabar dan kembali menuju masjid, Allah mengampuni dosa seluruh keluarganya.

Iblis pun mengaku khawatir jika pria tersebut jatuh untuk ketiga kalinya namun tetap bersabar dan kembali bersuci, maka Allah akan memberikan maghfirah yang lebih luas hingga mencakup seluruh penduduk kampungnya. Karena itulah ia memilih menerangi jalan agar pria tersebut tidak jatuh lagi.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menjelaskan bahwa kisah ini mengandung pelajaran penting tentang strategi godaan iblis dan kekuatan kesabaran manusia. Menurutnya, iblis akan terus menggoda manusia agar meninggalkan kebaikan. Namun ketika manusia tidak tergoda, iblis terkadang justru berusaha menghalangi datangnya pahala dan rahmat yang lebih besar.

“Iblis selalu berusaha menjerumuskan manusia. Tetapi jika manusia tidak tergoda dan tetap sabar dalam ujian, maka kesabaran itu bisa menjadi sebab turunnya maghfirah Allah. Bahkan terkadang rahmat itu bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungannya,” ujar Ustadz Ambia.

Ia menambahkan bahwa setiap cobaan dalam hidup pada hakikatnya adalah kesempatan bagi manusia untuk meraih hadiah spiritual dari Allah. Kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keikhlasan dalam menjalankan ibadah, serta keteguhan untuk terus bangkit setelah jatuh merupakan nilai yang sangat tinggi dalam pandangan agama.

“Karena itu, jangan pernah menyerah ketika diuji. Setiap langkah menuju kebaikan selalu dicatat oleh Allah. Setiap kesabaran memiliki ganjaran. Dan setiap cobaan bisa menjadi pintu datangnya ampunan,” tutupnya.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks