Mantv7.com | Tangerang — Aniversery ke-3 Media Center Jayanti (MCJ) yang digelar di Gedung Serba Guna Kecamatan Jayanti, Sabtu (23/5/2026), awalnya berjalan hangat dan penuh suasana kekeluargaan. Acara yang dibalut santunan untuk 50 anak yatim itu menjadi momen syukuran sederhana sekaligus penguat hubungan sosial antara media lokal dan masyarakat Jayanti.
Namun suasana hangat itu perlahan berubah jadi bahan perbincangan para tamu undangan. Bukan karena acara berjalan buruk, melainkan karena kursi yang disiapkan untuk pejabat wilayah justru kosong sampai kegiatan selesai berlangsung. Tidak tampak satu pun kepala desa maupun unsur pejabat Kecamatan Jayanti hadir di lokasi, padahal undangan resmi disebut sudah lama disampaikan panitia.

Pemandangan itu cukup menyentil banyak pihak. Sebab selama ini hubungan MCJ dengan pemerintah wilayah Jayanti dikenal cukup dekat dan sudah lama terjalin dalam berbagai kegiatan informasi maupun publikasi masyarakat. Tapi di momen yang membawa tema “Bersama Menjalin Kemitraan”, kehadiran pejabat justru nihil tanpa kabar yang jelas.
Ketua MCJ, Supriyadi atau yang akrab disapa Bonai, mengatakan acara tersebut sengaja dibuat sederhana agar lebih dekat dengan masyarakat. Tidak ada pesta mewah, tidak ada panggung besar. MCJ memilih berbagi dengan anak yatim sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan organisasi media lokal itu yang kini memasuki usia tiga tahun.

“Selama ini MCJ tumbuh bersama masyarakat Jayanti. Jadi kami ingin aniversery ini bukan sekadar tiup lilin atau seremoni biasa, tapi ada manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Bonai saat ditemui wartawan di sela kegiatan.
Namun di balik suasana kebersamaan itu, Bonai mengaku cukup kecewa atas absennya pejabat wilayah yang selama ini disebut sudah menjalin kemitraan dengan MCJ. Menurutnya, pihak panitia tidak mempersoalkan jabatan atau formalitas. Tetapi paling tidak ada bentuk penghargaan terhadap kegiatan sosial masyarakat yang dibuat dengan niat baik.
“Undangan resmi sudah kami layangkan. Tapi sampai acara selesai tidak ada yang hadir, bahkan ucapan selamat saja tidak ada. Jujur kami cukup menyayangkan karena tema acara ini tentang kebersamaan dan kemitraan,” katanya.
Ucapan itu langsung memantik obrolan para tamu yang hadir. Sebagian menilai mungkin ada agenda lain yang membuat pejabat berhalangan hadir. Namun sebagian lainnya mulai menangkap adanya sinyal renggangnya perhatian pemerintah wilayah terhadap komunitas media lokal yang selama ini ikut membantu menyampaikan informasi ke masyarakat.
Ironisnya, media lokal sering kali menjadi pihak yang paling cepat diminta hadir saat ada kegiatan seremonial pemerintahan, publikasi program, hingga kebutuhan pencitraan wilayah. Tapi ketika media menggelar kegiatan sosial secara mandiri bersama masyarakat, justru muncul kesan seperti berjalan sendiri tanpa dukungan moral dari pihak yang selama ini disebut sebagai mitra.
Padahal dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dijelaskan bahwa pers memiliki fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, sekaligus menjadi jembatan komunikasi publik. Artinya, hubungan media dan pemerintah semestinya tidak hanya hidup saat membutuhkan pemberitaan, tetapi juga tumbuh lewat rasa saling menghargai di ruang sosial masyarakat.
Pantauan di lokasi, acara tetap berlangsung hangat hingga selesai. Puluhan anak yatim menerima santunan dari pengurus MCJ. Para tamu undangan juga tetap mengikuti doa bersama dan ramah tamah meski beberapa kali terdengar sindiran halus soal kosongnya kursi pejabat yang sejak awal sudah dipersiapkan panitia.
Di usia ketiganya, MCJ mengaku akan tetap berjalan bersama masyarakat Jayanti tanpa harus bergantung pada pencitraan atau seremoni pejabat. Tapi dari acara itu, ada satu kalimat yang paling membekas dan diam-diam jadi bahan pembicaraan banyak orang malam itu: “Kalau acara sosial masyarakat saja terasa tak penting untuk dihadiri, lalu kemitraan yang selama ini dibangun sebenarnya hidup di lapangan atau cuma bagus di spanduk kegiatan?”
(RED)











