BeritaGaya Hidup & BudayaNasional

Dulu Datang Menunduk Kini Berjalan Paling Tinggi, Fenomena Relasi Sosial Ini Dinilai Menjadi Tamparan Keras Bagi Kehidupan Masyarakat

50
×

Dulu Datang Menunduk Kini Berjalan Paling Tinggi, Fenomena Relasi Sosial Ini Dinilai Menjadi Tamparan Keras Bagi Kehidupan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Di tengah ramainya hubungan pertemanan, komunitas, hingga keluarga yang terlihat harmonis di media sosial, perlahan muncul keresahan yang kini ramai dibicarakan masyarakat. Banyak orang mulai merasa hubungan sosial hari ini tak lagi dibangun karena ketulusan, melainkan lebih dekat pada kepentingan yang datang dan pergi sesuai keadaan. Fenomena itu terasa makin nyata di lingkungan sekitar.

Ada yang datang saat terdesak, bicara lembut penuh harapan, lalu mendadak berubah ketika keadaan mulai aman. Situasi seperti ini memunculkan kesan bahwa sebagian hubungan hanya aktif ketika membutuhkan bantuan, namun perlahan menjauh setelah kepentingannya selesai.

Ironisnya, pola itu kini dianggap seperti kebiasaan yang mulai dinormalisasi. Saat susah hadir seperti kucing pemalu, penuh rasa butuh dan ingin dibantu. Tapi ketika celah terbuka dan support datang, perlahan berubah menjadi “macan garang” yang merasa paling kuat, bahkan lupa siapa yang dulu didatangi sambil meminta tolong.

Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Apakah relasi hari ini masih dibangun atas rasa saling menghargai, atau hanya sebatas tempat singgah saat keadaan sulit? Sebab banyak orang mengaku lelah berada di hubungan yang hanya ramai ketika ada kebutuhan tertentu.

Fenomena itu seolah memperkuat pesan motivator nasional Merry Riana yang pernah mengingatkan bahwa lingkungan perlahan bisa membentuk watak seseorang. Ia mengibaratkan, jika terlalu lama berada dekat pandai besi, percikan api kecil lambat laun bisa melubangi pakaian tanpa disadari. Begitu pula hubungan sosial, ketika terlalu lama terbiasa memanfaatkan orang lain, rasa tahu diri perlahan ikut hilang.

Buyung. E, aktivis Kabupaten Tangerang yang tergabung dalam YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai mulai ada kecenderungan hubungan sosial yang kehilangan nilai empati. Menurutnya, sebagian orang kini hanya pandai mendekat ketika butuh bantuan, namun berubah sikap setelah merasa memiliki posisi aman.

“Yang lebih sakit itu bukan saat dimintai tolongnya, tapi ketika orang yang dulu datang menunduk malah berubah paling dominan setelah dibantu. Seolah lupa siapa yang dulu membuka pintu saat dia kesulitan,” ujar Buyung kepada wartawan.

Buyung menambahkan “Kunjungilah yang mengunjungimu, balas orang yang berbuat baik padamu, dan abaikan mereka yang terus mengabaikanmu. Jangan terus memberi hormat pada orang yang tidak pernah menghargaimu. Karena pada akhirnya, menghargai diri sendiri jauh lebih penting daripada memaksa bertahan di hubungan yang hanya penuh kepentingan.”

IST

Menurutnya, kondisi seperti ini jangan dianggap hal biasa. Sebab jika terus dibiarkan, masyarakat perlahan akan hidup dalam hubungan yang penuh kepentingan dan miskin rasa menghargai. Ia menilai ada indikasi sebagian lingkungan sosial mulai membentuk karakter oportunis yang memanfaatkan kebaikan orang lain demi kepentingan pribadi.

Buyung juga menyoroti adanya potensi tekanan mental yang muncul dari hubungan tidak sehat. Banyak orang bertahan di lingkaran toxic hanya karena takut kehilangan teman, relasi, atau dianggap tidak setia. Padahal hubungan yang terus menguras mental perlahan bisa merusak rasa percaya diri seseorang.

Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia disebutkan bahwa setiap orang berhak memperoleh perlakuan yang menghormati martabat manusia. Sementara dalam kehidupan sosial, menghargai orang yang pernah membantu di masa sulit merupakan bagian dari etika dan nilai kemanusiaan yang tidak boleh hilang hanya karena keadaan berubah.

Pada akhirnya, waktu akan membuka siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya datang membawa kebutuhan. Sebab hubungan yang sehat tidak dibangun dari siapa yang paling sering meminta, melainkan siapa yang tetap punya rasa tahu diri setelah menerima bantuan. Di tengah dunia yang makin keras dan penuh kepentingan, menjaga hati agar tetap tahu berterima kasih mungkin menjadi sikap sederhana yang kini mulai langka.

Dari situlah banyak orang akhirnya belajar, tidak semua yang datang layak dipertahankan, dan tidak semua yang pergi pantas disesali.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks