BeritaNasional

Tan Malaka Dan Panggilan Suci Nurani: Menantang Generasi Digital Meneruskan Estafet Gerilya Pikiran Guna Meruntuhkan Ketidakadilan Sosial Masyarakat

18
×

Tan Malaka Dan Panggilan Suci Nurani: Menantang Generasi Digital Meneruskan Estafet Gerilya Pikiran Guna Meruntuhkan Ketidakadilan Sosial Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Setiap bangsa besar memiliki tokoh yang tidak hanya hidup pada zamannya, tetapi juga hidup jauh melampaui zamannya. Indonesia memiliki banyak nama besar dalam sejarah perjuangan, namun sedikit yang kisah hidupnya begitu penuh pengorbanan, keberanian, kecerdasan, dan kesunyian seperti Sutan Ibrahim, putra Minangkabau yang dunia kemudian mengenalnya dengan nama Tan Malaka. Pada tanggal 2 Juni, bangsa ini kembali diingatkan bahwa pernah lahir seorang anak kampung dari Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat, yang berani memimpikan Indonesia merdeka ketika sebagian besar rakyat Nusantara masih hidup dalam bayang-bayang penjajahan.

Jauh sebelum Proklamasi 1945 dikumandangkan, Tan Malaka telah menulis tentang cita-cita besar bernama Republik Indonesia melalui karyanya Naar de Republiek Indonesia pada tahun 1925. Saat banyak tokoh masih berbicara tentang otonomi atau kompromi politik dengan kolonialisme, Tan Malaka sudah melangkah lebih jauh. Ia membayangkan sebuah bangsa yang berdiri tegak, berdaulat penuh, dan menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan penjajah.

Foto: Gambar IST. Mantv7.com

Karena itulah banyak sejarawan menempatkannya sebagai salah satu perintis utama gagasan Republik Indonesia.
Namun yang membuat Tan Malaka dikenang hingga hari ini bukan hanya karena gagasannya yang visioner. Ia memilih jalan hidup yang sangat berat untuk mempertahankan keyakinannya. Selama puluhan tahun hidup dalam pelarian, berpindah dari Rusia, Tiongkok, Filipina, Hong Kong, Singapura hingga berbagai wilayah Asia lainnya, ia menggunakan banyak nama samaran demi menghindari kejaran berbagai kekuatan politik dunia. Hidupnya jauh dari kemewahan, jauh dari kenyamanan, tetapi tidak pernah jauh dari cita-cita kemerdekaan.

Di tengah perjalanan panjang tersebut, Tan Malaka memahami bahwa kemerdekaan tidak akan bertahan tanpa rakyat yang cerdas. Karena itu ia tidak hanya bergerak sebagai aktivis politik, tetapi juga sebagai pendidik. Ia mendirikan sekolah rakyat untuk anak-anak kecil yang tidak memiliki akses pendidikan yang layak. Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan mencari pekerjaan, melainkan alat untuk membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan ketidakberdayaan.

Foto: Gambar IST. Mantv7.com

Pemikiran itu kemudian dituangkannya dalam karya monumental Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang hingga kini masih dianggap sebagai salah satu warisan intelektual terbesar bangsa Indonesia. Melalui Madilog, Tan Malaka mengajak rakyat Indonesia meninggalkan pola pikir yang pasrah terhadap keadaan, mudah percaya tanpa berpikir, dan enggan mempertanyakan sesuatu secara rasional. Ia ingin bangsa ini tumbuh menjadi bangsa yang berani berpikir kritis, mencintai ilmu pengetahuan, dan mampu menyelesaikan persoalan dengan akal sehat.

Hampir satu abad kemudian, gagasan tersebut justru terasa semakin relevan. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat menghadapi tantangan baru berupa hoaks, disinformasi, budaya instan, dan kecenderungan menerima informasi tanpa proses berpikir yang mendalam. Jika dahulu Tan Malaka berjuang melawan kolonialisme fisik, maka generasi hari ini ditantang untuk melawan penjajahan pikiran yang dapat membuat masyarakat kehilangan kemampuan bernalar secara kritis.

Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Yuli Murtia, S.H., menilai bahwa warisan terbesar Tan Malaka bukan semata-mata kisah perjuangan revolusionernya, melainkan keberanian membangun budaya berpikir yang merdeka.

“Tan Malaka mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian berpikir besar. Beliau hidup dalam keterbatasan, pengasingan, bahkan ancaman kematian, tetapi tidak pernah berhenti belajar, menulis, dan memperjuangkan gagasannya. Pesan moral yang paling berharga bagi generasi muda hari ini adalah jangan pernah merasa kecil hanya karena keadaan. Pendidikan, literasi, dan kemauan untuk terus belajar adalah senjata paling kuat untuk mengubah masa depan,” ujar Yuli Murtia.

Menurutnya, semangat yang diwariskan Tan Malaka sesungguhnya sangat dekat dengan kebutuhan generasi saat ini. Di tengah kemudahan teknologi dan akses informasi yang semakin terbuka, masyarakat justru dituntut untuk semakin cerdas dalam menyaring informasi, memperluas wawasan, serta berani menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Jika Tan Malaka mampu memikirkan Indonesia puluhan tahun sebelum republik ini berdiri, maka generasi sekarang seharusnya mampu memikirkan bagaimana membawa Indonesia menjadi lebih maju di masa depan. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pencipta solusi. Jangan hanya menjadi penonton perubahan, tetapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri,” lanjutnya.

Yuli juga mengingatkan bahwa semangat ‘Merdeka 100 Persen’ yang diperjuangkan Tan Malaka tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik. Lebih dari itu, kemerdekaan sejati adalah ketika seseorang mampu membebaskan dirinya dari kemalasan berpikir, mentalitas instan, sikap apatis, dan kebiasaan menyalahkan keadaan.

“Jangan hanya mengagumi Tan Malaka sebagai tokoh sejarah. Jadikan semangatnya sebagai kebiasaan hidup. Bacalah lebih banyak, belajarlah lebih sungguh-sungguh, beranilah menyampaikan kebenaran, dan jangan takut berbeda ketika membela kepentingan rakyat. Sebab bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi masih membutuhkan lebih banyak orang yang berani berpikir, berintegritas, dan bekerja untuk kemaslahatan bersama,” tegasnya.

Ironisnya, sosok yang begitu besar jasanya bagi republik ini justru mengakhiri hidupnya secara tragis. Pada 21 Februari 1949, di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, Tan Malaka dieksekusi tanpa proses pengadilan di tengah situasi revolusi yang penuh gejolak. Namun sejarah membuktikan bahwa peluru hanya mampu menghentikan raganya, bukan gagasan-gagasannya. Nama Tan Malaka tetap hidup karena yang ia perjuangkan bukan kepentingan pribadi, melainkan masa depan bangsa.

Peringatan hari kelahiran Tan Malaka pada 2 Juni seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni mengenang masa lalu. Momentum ini adalah panggilan moral bagi seluruh generasi Indonesia untuk kembali menyalakan semangat belajar, memperkuat literasi, membangun keberanian berpikir, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar menghafal nama para pahlawannya, melainkan bangsa yang mampu meneruskan cita-cita besar yang telah mereka wariskan.

Tan Malaka telah menuntaskan bagian perjuangannya. Kini, estafet itu berada di tangan kita. Jika dahulu ia berjuang melahirkan Republik Indonesia, maka tugas generasi hari ini adalah menjaga, mengisi, dan memajukan republik tersebut melalui ilmu pengetahuan, integritas, inovasi, serta keberanian berpikir demi Indonesia yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih bermartabat.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks