BeritaBisnis & PasarNasional

Rupiah Sentuh Rp18 Ribu Per Dolar AS, Saat Angka Di Layar Mulai Terasa Di Kantong Dan Meja Makan Rakyat

12
×

Rupiah Sentuh Rp18 Ribu Per Dolar AS, Saat Angka Di Layar Mulai Terasa Di Kantong Dan Meja Makan Rakyat

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah bergerak di kisaran Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat. Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai data ekonomi. Namun bagi masyarakat luas, pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung pada biaya hidup sehari-hari.

Berdasarkan data pasar keuangan, dolar AS sempat bergerak di kisaran Rp18.015 per dolar AS sebelum kembali turun tipis. Meski pergerakannya berubah setiap saat, kondisi ini tetap menjadi sorotan karena menunjukkan tekanan yang masih dihadapi mata uang nasional.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya dolar AS serta naiknya harga minyak dunia yang mendekati US$100 per barel. Kondisi global tersebut turut memberi tekanan terhadap banyak mata uang di Asia, termasuk Indonesia.

Di dalam negeri, perhatian juga tertuju pada defisit Neraca Pembayaran Indonesia yang pada kuartal I 2026 tercatat mencapai US$9,15 miliar. Sementara transaksi berjalan yang sebelumnya surplus berubah menjadi defisit sekitar US$4 miliar.

Di saat yang sama, inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kelompok pangan, tetapi juga mulai dirasakan pada sektor transportasi, kesehatan, pendidikan, restoran, hingga kebutuhan perawatan pribadi.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Jika berlangsung dalam waktu yang panjang, kondisi ini dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, harga barang elektronik, biaya pendidikan luar negeri, hingga berbagai kebutuhan yang bergantung pada produk impor.

Sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah mulai mencermati perkembangan tersebut. Mereka khawatir kenaikan biaya produksi akan berdampak pada harga jual barang dan jasa, yang pada akhirnya kembali membebani konsumen.

Di berbagai daerah, masyarakat juga mulai menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan meningkatnya harga kebutuhan pokok. Meski dampaknya belum sepenuhnya dirasakan saat ini, banyak warga berharap stabilitas ekonomi tetap terjaga agar daya beli tidak semakin tertekan.

Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Yuli Murtia, S.H., menilai masyarakat perlu memperoleh informasi ekonomi yang jelas dan mudah dipahami. Menurutnya, literasi ekonomi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum tentu utuh dan dapat mengambil keputusan secara bijak.

“Ketika rupiah melemah, yang perlu dijaga bukan hanya stabilitas pasar, tetapi juga ketenangan masyarakat. Pemerintah perlu memastikan informasi tersampaikan secara terbuka dan mudah dipahami agar masyarakat mengetahui langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk menjaga ekonomi nasional. Literasi ekonomi juga menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah panik menghadapi situasi yang berkembang,” ujar Yuli.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah bukan hanya tentang angka di layar perdagangan. Di baliknya ada pedagang kecil, pekerja, pelaku usaha, dan keluarga yang berharap kebutuhan hidup tetap terjangkau. Karena itu, masyarakat menaruh harapan agar pemerintah, Bank Indonesia, dan seluruh pemangku kebijakan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli rakyat di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

(RED)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks