BeritaKabupatenPemerintahan

Saat Piala Terus Bertambah Dan Keluhan Warga Tak Kunjung Padam, Kabupaten Tangerang Sedang Merayakan Prestasi Atau Mengabaikan Pertanyaan Publik?

34
×

Saat Piala Terus Bertambah Dan Keluhan Warga Tak Kunjung Padam, Kabupaten Tangerang Sedang Merayakan Prestasi Atau Mengabaikan Pertanyaan Publik?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang — Di atas panggung, penghargaan terus berdatangan. Piagam dipajang, trofi dipamerkan, dan prestasi diumumkan dengan bangga. Namun di bawah, di jalan-jalan kampung, di sekolah, di lingkungan perumahan, dan di ruang tunggu pelayanan publik, masih terdengar suara masyarakat yang bertanya: mengapa keluhan yang sama terus muncul meski penghargaan terus bertambah?

Pertanyaan itu bukan lahir dari kebencian. Pertanyaan itu lahir dari kenyataan yang dirasakan warga setiap hari. Sebab ketika rapor pelayanan publik mendapat apresiasi, masyarakat justru masih menyoroti berbagai persoalan yang belum sepenuhnya terjawab. Inilah yang kemudian memunculkan paradoks yang menjadi perbincangan publik: prestasi bertambah, tetapi kritik tak kunjung berkurang.

Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Di sektor pendidikan misalnya, muncul sorotan mengenai pungutan yang disebut sebagai sumbangan atau bentuk partisipasi tertentu pada jenjang sekolah negeri. Padahal masyarakat memahami bahwa konstitusi melalui Pasal 31 UUD 1945 serta berbagai regulasi pendidikan mengamanatkan akses pendidikan yang tidak memberatkan warga. Karena itulah publik menunggu penjelasan yang terbuka agar tidak berkembang menjadi persepsi yang semakin luas.

Beranjak ke sektor infrastruktur, perhatian warga tertuju pada pekerjaan cor manual di kawasan Vila Balaraja. Sejumlah masyarakat mempertanyakan aspek keterbukaan informasi proyek. Menurut warga, apabila pembangunan menggunakan anggaran publik, maka informasi dasar mengenai kegiatan tersebut semestinya dapat diketahui publik sebagaimana semangat yang terkandung dalam UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

“Kami tidak sedang mencari kesalahan siapa pun. Kami hanya ingin tahu proyek ini seperti apa, anggarannya berapa, dan siapa yang mengerjakan. Kalau informasi tidak terlihat jelas, tentu masyarakat akan bertanya,” ujar seorang warga Vila Balaraja.

Sorotan lain datang dari pelayanan air bersih. Sejumlah pelanggan PERUMDAM TKR mengeluhkan distribusi air yang dinilai belum stabil. Keluhan itu menjadi pembicaraan karena muncul di tengah berbagai penghargaan yang diterima perusahaan daerah tersebut.

Kolase ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

“Kami bayar tagihan tepat waktu, tetapi air kadang mengalir sangat kecil. Ada yang harus menunggu sampai malam bahkan dini hari. Warga berharap pelayanan bisa sebaik penghargaan yang diterima,” ungkap salah seorang pelanggan.

Di tengah berbagai catatan tersebut, Buyung E, aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai bahwa kritik yang muncul tidak boleh dipandang sebagai serangan terhadap pemerintah. Menurutnya, kritik adalah bagian dari kontrol sosial yang dijamin dalam negara demokrasi.

“Kalau penghargaan bertambah tetapi pertanyaan masyarakat juga bertambah, maka yang dibutuhkan bukan sekadar seremoni prestasi. Yang dibutuhkan adalah keberanian menjawab suara rakyat. Sebab keberhasilan pemerintah bukan hanya soal apa yang tertulis dalam laporan, melainkan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Buyung E.

Ia juga menyoroti adanya sejumlah catatan publik yang hingga kini masih menunggu klarifikasi. Mulai dari pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, hingga komunikasi pejabat terhadap masyarakat dan media. Menurutnya, semakin cepat dijelaskan, semakin kecil ruang spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Catatan kritis lainnya muncul ketika masyarakat membandingkan banyaknya penghargaan dengan berbagai persoalan yang masih menjadi keluhan. Di sinilah publik mulai bertanya: apakah indikator keberhasilan yang dirayakan sudah benar-benar sejalan dengan kenyataan di lapangan? Pertanyaan tersebut sah muncul karena penghargaan pada dasarnya bukan tujuan akhir, melainkan alat ukur yang harus tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, berbagai temuan awal, sinyal persoalan, maupun pertanyaan yang berkembang di masyarakat perlu dijawab secara terbuka oleh pihak terkait. Ruang klarifikasi tetap harus diberikan, sebagaimana prinsip keberimbangan dalam jurnalistik. Namun di saat yang sama, suara warga juga tidak boleh diabaikan. Sebab diamnya jawaban sering kali justru memperbesar tanda tanya.

Pada akhirnya, rakyat tidak hidup dari piagam yang dipajang di dinding kantor. Rakyat hidup dari kualitas pendidikan yang mereka terima, dari air yang mengalir ke rumah mereka, dari jalan yang mereka lalui setiap hari, serta dari pelayanan yang mereka rasakan secara nyata. Ketika suara warga dan prestasi pemerintah berjalan seiring, itulah keberhasilan yang sesungguhnya.

Tetapi ketika keduanya berjalan berlawanan arah, maka pertanyaan publik akan terus mengetuk pintu kekuasaan sampai ada jawaban yang benar-benar memuaskan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks