Berita

Jangan Pernah Meremehkan Doa Ibu, Sebab Ketulusannya Menguatkan Ikhtiar, Membuka Jalan Kebaikan, Menghadirkan Keberkahan Sejati Bagi Semua Anak

55
×

Jangan Pernah Meremehkan Doa Ibu, Sebab Ketulusannya Menguatkan Ikhtiar, Membuka Jalan Kebaikan, Menghadirkan Keberkahan Sejati Bagi Semua Anak

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Di tengah derasnya arus kehidupan modern, banyak orang berlomba mengejar kesuksesan, jabatan, dan kemapanan materi. Namun di balik setiap ikhtiar, terdapat kekuatan yang sering terlupakan, yakni doa seorang ibu. Saat sebagian besar manusia masih terlelap, seorang ibu telah lebih dahulu menengadahkan tangan memohon kepada Allah SWT agar anak-anaknya dianugerahi kesehatan, keselamatan, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, akhlak mulia, dan masa depan yang penuh keberkahan. Doa yang lahir dari kasih sayang tanpa syarat itulah yang menjadi kekuatan batin dalam perjalanan hidup seorang anak.

Islam menempatkan doa sebagai inti ibadah sekaligus wujud ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa doa orang tua termasuk doa yang sangat dekat dengan pengabulan Allah. Karena itu, menghormati, memuliakan, dan membahagiakan kedua orang tua bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari ibadah yang menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.

Nilai luhur tersebut tercermin dalam perjalanan hidup Imam Al-Bukhari rahimahullah. Sejak kecil beliau mengalami kebutaan pada kedua matanya. Sang ibu tidak pernah kehilangan harapan. Dengan keyakinan, kesabaran, dan doa yang terus dipanjatkan siang maupun malam, ia memohon agar Allah SWT mengembalikan penglihatan putranya. Hingga suatu malam, ia bermimpi bertemu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengabulkan doa-doanya. Saat pagi menjelang, penglihatan Imam Al-Bukhari benar-benar pulih atas izin Allah SWT.

Kisah tersebut menjadi bukti bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan tawakal memiliki kekuatan luar biasa sesuai kehendak Allah SWT. Peristiwa itu juga mengajarkan bahwa tidak ada ikhtiar yang sia-sia apabila disertai keyakinan, kesabaran, dan pengharapan kepada Sang Pencipta. Dari seorang ibu yang tidak pernah menyerah, lahirlah seorang ulama besar yang hingga kini ilmunya menjadi cahaya bagi umat Islam di seluruh dunia.

Pelajaran yang tidak kalah berharga hadir melalui kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Saat sedang melaksanakan salat sunnah, ia mengabaikan panggilan ibunya hingga sang ibu merasa kecewa. Ujian berat kemudian menimpanya melalui fitnah yang mencoreng kehormatannya. Namun Allah SWT memperlihatkan kebenaran dengan cara yang luar biasa sehingga nama baik Juraij dipulihkan. Kisah ini mengingatkan bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan selaras dengan penghormatan kepada kedua orang tua.

Ketua Umum Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen Perjuangan Anak Negeri (YLPK-PERARI), Hefi Irawan, S.H., M.H., menilai bahwa doa orang tua bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi fondasi pendidikan karakter yang menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Menurutnya, keluarga merupakan sekolah pertama tempat lahirnya nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, disiplin, dan akhlak mulia.

“Kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pembangunan fisik, kemajuan teknologi, maupun pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang benar-benar kuat adalah bangsa yang mampu menjaga adab, menghormati kedua orang tua, serta menjadikan keluarga sebagai pusat pembentukan karakter. Doa seorang ibu bukan sekadar ungkapan kasih sayang, melainkan energi spiritual yang membangun integritas, optimisme, dan keberkahan dalam setiap ikhtiar kehidupan,” tegas Hefi Irawan.

Ia menambahkan bahwa kisah Imam Al-Bukhari dan Juraij tidak boleh dipandang hanya sebagai cerita sejarah, melainkan sebagai media edukasi yang relevan sepanjang zaman. Nilai-nilai keteladanan tersebut penting diwariskan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan berdampingan dengan akhlak, adab, dan penghormatan kepada kedua orang tua.

Hefi Irawan juga mengajak masyarakat membiasakan meminta doa restu kepada orang tua sebelum belajar, bekerja, membangun usaha, maupun mengambil keputusan penting. Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut akan memperkuat ketenangan batin, menumbuhkan rasa syukur, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati selalu melibatkan doa, ikhtiar, dan ridha orang tua.

“Jangan pernah menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya doa seorang ibu. Selama beliau masih ada, bahagiakan hatinya, hormati nasihatnya, ringankan bebannya, dan jangan pernah lelah meminta doa restunya. Sangat mungkin keberhasilan yang kita rasakan hari ini bukan semata hasil kerja keras, melainkan buah dari doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan pada setiap sujudnya. Ketika adab kepada orang tua dijaga, insya Allah pintu keberkahan akan terbuka semakin luas,” pungkas Hefi Irawan.

Pada akhirnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan, kekayaan, ataupun popularitas, melainkan dari keberkahan yang menyertai setiap langkah kehidupan. Selama kedua orang tua masih bersama kita, jadikan bakti sebagai kehormatan, bukan sekadar kewajiban.

Sebab di balik senyum seorang ibu tersimpan doa yang mampu menguatkan harapan, membuka jalan kemudahan, dan mengantarkan setiap anak menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks