Berita

20 Tahun Terabaikan, Tokoh Balaraja Bergerak Dorong Pasar Segitiga Balaraja Menjadi Sentra Kuliner UMKM

141
×

20 Tahun Terabaikan, Tokoh Balaraja Bergerak Dorong Pasar Segitiga Balaraja Menjadi Sentra Kuliner UMKM

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tangerang — Kawasan Pasar Segitiga Balaraja, yang dikenal sebagai Eks Terminal Balaraja, telah cukup lama menghadapi persoalan pemanfaatan dan penataan. Hampir 20 tahun berlalu, kawasan yang memiliki potensi tersebut dinilai belum memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Berawal dari diskusi dua tokoh Balaraja mengenai kondisi tersebut, kemudian muncul sebuah gagasan untuk mendorong perubahan dan menghidupkan kembali potensi kawasan. Gagasan itu kini semakin berkembang setelah Letnan Kolonel Inf. Dodi Fahrurozi, M.M., tokoh Balaraja yang bertugas di lingkungan militer sekaligus salah satu penggagas awal, berkolaborasi dengan Ucu Samsu Komar alias Bacung, tokoh pemuda yang aktif dalam bidang seni dan budaya, serta Ahmad Saefi Sobur, S.E., M.Si., tokoh masyarakat Balaraja yang sejak masa muda aktif dalam pendidikan nonformal dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Ketiganya membawa satu gagasan yang sama, yakni menghidupkan kembali kawasan yang ada, membuka ruang bagi UMKM, dan menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi masyarakat. Gagasan tersebut kemudian dituangkan Dodi Fahrurozi dalam konsep “Menghidupkan Kembali Eks Terminal Balaraja/Pasar Segitiga Balaraja: Dari Lahan Kurang Produktif Menjadi Sentra Kuliner UMKM.”

Dalam konsep yang disampaikan Dodi, kawasan tersebut disebut telah sekitar 20 tahun berada dalam kondisi yang kurang produktif. Bangunan dan lingkungan di kawasan itu dinilai membutuhkan penataan agar kembali memiliki fungsi yang lebih bermanfaat. Dodi melihat persoalan tersebut sekaligus sebagai peluang. Di satu sisi terdapat kawasan yang dapat dikembangkan, sementara di sisi lain banyak pelaku kuliner UMKM masih berjualan di ruang terbatas dan sekitar pinggir jalan. Kondisi itu, menurut gagasan tersebut, membuat pedagang menghadapi panas, hujan, keterbatasan ruang, hingga persoalan keamanan dan kenyamanan.

“Aset tidur” dan ekonomi rakyat yang berjuang di pinggir jalan dinilai menjadi ironi yang perlu dicarikan jalan keluar. Karena itu, muncul gagasan agar kawasan Eks Terminal Balaraja/Pasar Segitiga Balaraja dapat ditata menjadi sentra kuliner yang lebih layak.

Balaraja membutuhkan ruang kuliner yang dapat menjadi tempat makan sekaligus ruang berkumpul masyarakat, khususnya pada sore hingga malam hari. Gagasannya adalah menyediakan tempat resmi dan tertata bagi pelaku UMKM sehingga aktivitas perdagangan tidak harus bergantung pada bahu jalan. Dengan begitu, pedagang mendapatkan tempat usaha yang lebih nyaman, sementara masyarakat dapat menikmati ruang kuliner yang lebih tertib.

Jika nantinya direalisasikan melalui kajian dan persetujuan pihak yang berwenang, kawasan itu diharapkan dapat menjadi tujuan kuliner warga Balaraja dan wilayah sekitar seperti Cikupa, Tigaraksa dan sekitarnya. Konsepnya Sederhana, Bukan Gedung Mewah. Dodi menawarkan konsep “Cepat, Murah, Rapi dan Rame”. Artinya, pengembangan tidak harus dimulai dengan pembangunan gedung besar dan mahal.

Konsep awal yang ditawarkan antara lain sekitar 30 kios kuliner UMKM berukuran 4 x 4 meter, dengan penataan yang seragam dan bersih. Jenis usaha dapat dibuat beragam melalui pembagian zona agar para pedagang tidak saling berebut jenis pasar. Selain kios, konsep tersebut juga mencakup area makan bersama, penerangan, kipas, toilet, tempat wudu, area parkir, CCTV, taman dan spot foto. Ruang tersebut juga dapat digunakan untuk kegiatan seni atau musik akustik pada waktu tertentu apabila nantinya mendapatkan izin dan pengelolaan yang sesuai.

Jam operasional yang digagas sekitar 16.00–23.00 WIB, dengan catatan seluruh pelaksanaannya tetap menyesuaikan ketentuan, kondisi kawasan dan keputusan pihak yang berwenang. Gagasan tersebut tidak berhenti pada pembangunan kios. Tujuan yang lebih besar adalah menciptakan ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Jika kawasan dapat ditata dengan baik, manfaatnya berpotensi dirasakan oleh banyak pihak. Pedagang mendapatkan tempat usaha, pemasok memperoleh pasar, pekerja mendapatkan kesempatan kerja, sementara masyarakat memperoleh ruang publik yang bersih dan nyaman. Penataan juga diharapkan dapat membantu mengurangi aktivitas perdagangan di lokasi yang berpotensi mengganggu lalu lintas, tentu apabila proses relokasi dilakukan secara manusiawi, bertahap dan berdasarkan kesepakatan serta kewenangan yang sah.

Dodi menilai gagasan tersebut tidak mungkin dijalankan oleh satu atau dua orang saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, pelaku UMKM dan masyarakat. Pemerintah dapat berperan sesuai kewenangannya dalam aspek penataan, regulasi, perizinan, fasilitas dan pengawasan. Dunia usaha dapat dilibatkan melalui program CSR. Sementara pelaku UMKM dapat membentuk wadah atau koperasi pengelola yang bertugas menjaga kebersihan, ketertiban dan keberlangsungan kawasan.

Dengan pola tersebut, pengelolaan diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan awal, tetapi dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan. Salah satu pesan utama dari gagasan Dodi “Jangan bangun dari nol. Hidupkan yang sudah ada.”

Menurut konsep tersebut, bagian depan kawasan Eks Terminal Balaraja/Pasar Segitiga Balaraja dapat ditata menjadi sentra kuliner UMKM. Sementara bagian bangunan atau lingkungan yang terlihat kumuh dapat dibenahi secara bertahap agar lebih bersih, terang dan enak dipandang.

Dengan begitu, yang dibangun bukan sekadar kios, tetapi juga harapan bagi pelaku UMKM untuk memiliki tempat usaha yang layak, harapan bagi warga untuk memiliki ruang berkumpul, serta harapan bagi Balaraja untuk memiliki ikon ekonomi baru. Karena itu, kepada para pedagang lama dan pelaku UMKM di Pasar Segitiga Balaraja, tidak perlu khawatir.

Gagasan ini bukan untuk mengambil ruang usaha yang sudah ada, melainkan mencari cara agar kawasan tersebut dapat ditata dan dikembangkan bersama sehingga semua pihak mendapatkan manfaat. Jangan takut pada perubahan. Yang harus kita takutkan adalah ketika potensi Balaraja terus dibiarkan tanpa arah. Mari berjalan bersama, bukan saling menjatuhkan. Kita tidak sedang berjalan untuk saling menggantikan. Kita sedang mencari jalan agar bisa berjalan bersama-sama.

Harapannya, kawasan tersebut tidak lagi identik dengan kesan kumuh atau tidak terawat, tetapi perlahan dapat menjadi bagian dari wajah baru Balaraja yang lebih hidup, bersih dan memiliki nilai ekonomi. YLPK PERARI Kabupaten Tangerang melalui Buyung E. menyatakan dukungannya terhadap gagasan tersebut sepanjang prosesnya dilakukan secara terbuka, sesuai aturan dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami melihat semangatnya. Bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mau bergerak dan memberikan manfaat bagi masyarakat Balaraja. Kalau gagasan ini memang baik, tentu harus dibicarakan bersama dan ditempuh melalui mekanisme yang benar,” ujarnya.

Dukungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perubahan daerah tidak selalu harus menunggu pemerintah bergerak. Tokoh masyarakat, pemuda, pelaku UMKM dan warga juga dapat menyampaikan gagasan serta menawarkan solusi, sementara keputusan akhirnya tetap berada pada pihak yang memiliki kewenangan.

Pada akhirnya, Balaraja tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang hanya pandai menunjuk persoalan. Balaraja membutuhkan lebih banyak orang yang mau turun, mendengar, berdiskusi, bekerja dan mencari jalan keluar. Dodi Fahrurozi, Bacung dan Ahmad Saefi Sobur kini membawa satu gagasan yang sama: menghidupkan kembali kawasan yang ada, membuka ruang bagi UMKM, dan menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi masyarakat.

Karena perubahan tidak selalu dimulai dari anggaran besar. Kadang perubahan dimulai dari keberanian untuk melihat sesuatu yang terbengkalai, kemudian berkata: “Kita pasti bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi Balaraja.”

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks