Berita

Pilih Dibenci karena Jujur atau Disukai karena Kepalsuan? Donny Putra T., S.H.: Kejujuran Kini Menjadi Barang Langka, Generasi Muda Harus Diselamatkan dari Krisis Moral

17
×

Pilih Dibenci karena Jujur atau Disukai karena Kepalsuan? Donny Putra T., S.H.: Kejujuran Kini Menjadi Barang Langka, Generasi Muda Harus Diselamatkan dari Krisis Moral

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | TANGERANG — Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, kejujuran menjadi nilai kehidupan yang perlu terus dijaga. Dalam berbagai aspek kehidupan sosial, kepentingan pribadi, tuntutan materi, hingga keinginan memperoleh pengakuan terkadang dapat menguji prinsip seseorang dalam mempertahankan kebenaran.

Ungkapan “Pilih Dibenci karena Jujur, atau Disukai karena Kepalsuan?” menjadi refleksi penting bagi masyarakat untuk kembali mempertanyakan arah kehidupan, karakter, serta nilai-nilai moral yang diwariskan oleh para pendahulu bangsa.

Pesan tersebut disampaikan oleh Donny Putra T., S.H., Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kabupaten Tangerang. Ia menilai bahwa kejujuran harus menjadi fondasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat, terutama di tengah tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Menurut Donny, menyampaikan kebenaran tidak selalu membuat seseorang disukai. Dalam situasi tertentu, orang yang berani menyampaikan kenyataan justru dapat menghadapi penolakan, kritik, atau ketidaknyamanan dari pihak yang memiliki pandangan berbeda.

Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengorbankan prinsip dan integritas.

“Kejujuran memang memiliki harga yang mahal, dan tidak semua orang sanggup membayarnya. Ketika seseorang memilih berkata apa adanya, ia harus siap menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan menerima kebenaran tersebut. Tetapi jangan pernah menukar prinsip hidup hanya demi mendapatkan pengakuan manusia,” demikian pesan reflektif yang disampaikan Donny.

Baginya, kejujuran bukan tentang seberapa banyak orang yang menyukai seseorang, melainkan tentang keberanian mempertahankan prinsip tanpa kehilangan tanggung jawab dan penghormatan terhadap sesama.

Budaya Bangsa Jangan Sampai Tergerus Perubahan Zaman

Donny menilai, perubahan zaman dan derasnya arus globalisasi membawa tantangan tersendiri bagi upaya menjaga identitas budaya bangsa Indonesia.

Menurutnya, keterbukaan terhadap budaya luar bukan sesuatu yang harus ditolak sepenuhnya. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, kedisiplinan, kreativitas, serta etos kerja dari berbagai negara dapat menjadi bahan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Namun, keterbukaan tersebut harus disertai kemampuan memilah dan memilih pengaruh yang masuk.

Jangan sampai kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup membuat masyarakat melupakan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi bagian dari identitas bangsa, seperti sopan santun, penghormatan kepada orang tua, kepedulian sosial, gotong royong, serta keberanian mengakui kesalahan.

“Budaya bangsa kita jangan sampai perlahan-lahan terkikis. Kita boleh mengikuti perkembangan dunia, tetapi jangan sampai kehilangan karakter sebagai bangsa Indonesia. Kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya moralitas,” menjadi pesan yang ditekankan dalam refleksi tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa identitas bangsa tidak hanya tercermin melalui pakaian adat, bahasa daerah, kesenian, maupun tradisi seremonial.

Identitas bangsa juga terlihat dari perilaku sehari-hari, terutama dalam menjaga kejujuran, menjalankan tanggung jawab, menghormati sesama, serta menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Budaya yang kuat bukan hanya budaya yang diwariskan melalui simbol, melainkan budaya yang benar-benar hidup dalam perilaku masyarakat.

Dunia Pendidikan Harus Menjadi Benteng Kejujuran

Salah satu hal yang menjadi perhatian Donny adalah dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik, gelar, ijazah, dan keberhasilan memperoleh pekerjaan. Pendidikan juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, integritas, serta tanggung jawab moral bagi generasi penerus bangsa.

Ia mengingatkan bahwa kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan kejujuran. Sebab, kemampuan intelektual tanpa integritas berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan yang merugikan orang lain.

Fenomena menyontek, plagiarisme, manipulasi data, praktik jual beli jawaban, hingga penyalahgunaan teknologi untuk memperoleh hasil secara tidak jujur merupakan contoh perilaku yang perlu dicegah melalui pendidikan karakter.

Meski demikian, persoalan tersebut tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh generasi muda. Masih banyak anak muda Indonesia yang memiliki integritas, prestasi, semangat belajar, serta kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Namun, setiap persoalan yang berkaitan dengan perilaku tidak jujur harus menjadi bahan evaluasi bagi keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah.

“Jangan sampai anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang hanya mengejar uang dan pengakuan, tetapi kehilangan rasa malu ketika berbuat curang. Kepintaran tanpa kejujuran bisa menjadi ancaman bagi masyarakat. Kita membutuhkan generasi yang cerdas sekaligus memiliki hati nurani,” menjadi pesan penting dalam membangun pendidikan berkarakter.

Menurutnya, guru harus menjadi teladan, orang tua harus memberikan contoh, dan lembaga pendidikan harus menerapkan aturan secara adil.

Sebab, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang mereka dengar, tetapi juga dari perilaku orang dewasa yang mereka lihat setiap hari.

Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori. Kejujuran harus dicontohkan, dibiasakan, dan ditegakkan secara konsisten.

Al-Qur’an Menegaskan Pentingnya Kejujuran

Dalam ajaran Islam, kejujuran bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari perintah Allah SWT yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu firman Allah SWT yang menegaskan pentingnya kejujuran terdapat dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 119:

QS. At-Taubah ayat 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga ketakwaan dan berada di lingkungan orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran.

Kejujuran bukan hanya diucapkan melalui lisan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan, keputusan, pekerjaan, serta hubungan antarmanusia.

Pesan tentang pentingnya berkata benar juga ditegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 70–71.

QS. Al-Ahzab ayat 70

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa perkataan harus disampaikan dengan benar, tidak memfitnah, tidak memanipulasi, serta tidak digunakan untuk merugikan orang lain.

Kejujuran juga berkaitan dengan sikap adil dalam memberikan dan menerima hak.

Dalam Surah Al-Mutaffifin ayat 1–3, Allah SWT berfirman:

QS. Al-Mutaffifin ayat 1

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ

Artinya:

“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)!”

Ayat selanjutnya menjelaskan tentang orang-orang yang meminta takaran penuh untuk dirinya, tetapi mengurangi takaran ketika memberikan kepada orang lain.

Pesan moralnya sangat relevan dengan kehidupan saat ini: jangan mengharapkan hak secara penuh apabila kita sendiri tidak mau memberikan hak orang lain secara jujur.

Sementara itu, Surah An-Nisa ayat 58 menegaskan pentingnya menjaga amanah.

QS. An-Nisa ayat 58

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa amanah dan kejujuran harus menjadi dasar dalam menjalankan tanggung jawab, termasuk dalam kepemimpinan, pendidikan, pekerjaan, serta kehidupan bermasyarakat.

Rasulullah SAW Mengajarkan Kejujuran sebagai Jalan Kebaikan

Rasulullah Muhammad SAW juga memberikan perhatian besar terhadap kejujuran.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa kejujuran merupakan jalan menuju kebaikan. Sebaliknya, kebohongan yang terus dilakukan dapat membawa seseorang kepada perilaku buruk.

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya:

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila diberi amanah, ia berkhianat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menjadi pengingat agar setiap orang menjaga perkataan, menepati janji, dan memelihara amanah.

Pesan ini tidak seharusnya digunakan untuk menghakimi orang lain, melainkan menjadi bahan introspeksi bagi setiap individu dalam memperbaiki perilaku dan menjaga hubungan dengan sesama.

Kejujuran Harus Dimulai dari Diri Sendiri

Persoalan moral tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, sekolah, ataupun generasi muda.

Keluarga, tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, pejabat publik, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun budaya kejujuran.

Jangan sampai masyarakat menuntut anak-anak muda untuk jujur, sementara orang dewasa justru memberikan contoh perilaku yang bertentangan dengan nilai tersebut.

Jangan mengajarkan amanah apabila tanggung jawab sendiri diabaikan. Jangan pula menuntut orang lain berlaku jujur apabila diri sendiri belum mampu menjaga integritas.

Kejujuran harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan yang disampaikan ketika peringatan hari besar atau kegiatan seremonial.

Keteladanan menjadi kunci. Sebab, nilai moral akan lebih mudah diterima ketika masyarakat melihatnya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sedikit Teman tetapi Tulus, Lebih Baik daripada Banyak tetapi Palsu

Dalam kehidupan sosial, tidak semua pujian harus diterima begitu saja, sebagaimana tidak semua kritik harus dianggap sebagai kebencian.

Masyarakat perlu belajar membedakan kritik yang membangun dengan kebencian, serta membedakan hubungan yang tulus dengan hubungan yang hanya didasarkan pada kepentingan.

Kejujuran juga harus disampaikan dengan adab. Berkata benar bukan berarti bebas menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain.

Kebenaran harus disertai kebijaksanaan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.

Pada akhirnya, kehormatan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak orang yang menyukainya, tetapi juga oleh kemampuannya mempertahankan prinsip kebenaran ketika menghadapi berbagai tekanan.

Kejujuran tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap kasar, sebagaimana kesantunan tidak boleh dijadikan alasan untuk menyembunyikan kebenaran.

Pesan Moral untuk Generasi Penerus Bangsa

Donny Putra T., S.H. mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga dan dunia pendidikan, untuk kembali menanamkan nilai kejujuran sejak usia dini.

Generasi muda harus diberikan pemahaman bahwa keberhasilan sejati bukan semata-mata tentang banyaknya uang, tingginya jabatan, atau popularitas di media sosial.

Keberhasilan juga diukur dari integritas, tanggung jawab, kemampuan menghargai orang lain, dan keberanian mempertahankan kebenaran.

Jangan sampai generasi penerus bangsa tumbuh menjadi pribadi yang pandai berbicara, tetapi tidak mampu mempertanggungjawabkan perkataannya.

Jangan sampai mereka memiliki kecerdasan tinggi, tetapi kehilangan kejujuran dalam menggunakan ilmunya.

Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang berakhlak, amanah, dan berintegritas.

Karena itu, membangun karakter generasi muda bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Penutup: Lebih Baik Jujur meskipun Tidak Selalu Disukai

Pada akhirnya, pilihan hidup kembali kepada masing-masing individu.

Apakah seseorang memilih untuk selalu mengikuti keinginan orang lain demi mendapatkan pengakuan, meskipun harus mengorbankan kebenaran? Ataukah ia berani tetap jujur, meskipun terkadang harus menghadapi penolakan?

Kejujuran memang tidak selalu memberikan keuntungan secara langsung. Namun, kejujuran menjaga kehormatan, membangun kepercayaan, dan memberikan ketenangan hati.

Sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 119, hendaknya setiap orang senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan bersama orang-orang yang benar.

“Jangan takut kehilangan teman karena kejujuran. Takutlah kehilangan harga diri karena kepalsuan. Sebab, manusia mungkin bisa menipu manusia lainnya, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengawasan Allah SWT.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kejujuran bukan sekadar pilihan dalam kehidupan sosial, melainkan prinsip yang harus dijaga dalam setiap perkataan, tindakan, dan tanggung jawab.

Sebab, lebih baik menghadapi ketidaknyamanan karena menyampaikan kebenaran daripada memperoleh pengakuan melalui kepalsuan.

Mantv7.com — Mengawal Kebenaran, Menyuarakan Keadilan.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks