AgamaBeritaGaya Hidup & BudayaNasional

Ketika Allah Yang Maha Segala Maha Menyentuh Hamba-Nya Melalui Sakit di Pengujung Ramadhan

56
×

Ketika Allah Yang Maha Segala Maha Menyentuh Hamba-Nya Melalui Sakit di Pengujung Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Tabgerang – Di sisa hari-hari terakhir Ramadhan 2026, ketika malam semakin hening dan doa-doa mulai dipanjatkan dengan penuh harap, ada sebagian manusia yang justru terbaring lemah. Tubuh terasa panas lalu menggigil, kepala berdenyut, dada terasa sempit, dan langkah terasa berat untuk berdiri dalam shalat. Di tengah keadaan itu, hati sering bertanya lirih: mengapa Allah Yang Maha Pengasih justru menyentuh manusia melalui sakit, bahkan ketika seorang hamba ingin lebih dekat kepada-Nya?

Namun bagi orang-orang yang merenung dengan hati yang dalam, sakit sering kali bukan sekadar penderitaan. Sakit adalah cara Allah Yang Maha Agung menegur manusia dengan kelembutan yang tidak terlihat. Ketika manusia terlalu lama merasa kuat dengan kesehatannya, terlalu sibuk dengan urusan dunia, dan lupa bahwa setiap detik kehidupan sebenarnya adalah titipan dari Allah Yang Maha Kaya, maka Allah terkadang mengingatkannya dengan cara yang sunyi: dengan melemahkan tubuh agar hati kembali hidup.

Dijelaskan dalam video pendek seorang Ustad yang sering di entertaimen dalam akun Tiktok @meediadakwah. Manusia sering berjalan di bumi dengan merasa seolah dirinya kuat. Nafas keluar masuk tanpa pernah disadari, makanan terasa nikmat tanpa pernah dipikirkan, tubuh bergerak tanpa pernah dianggap sebagai keajaiban. Padahal semua itu adalah karunia yang begitu besar dari Allah Yang Maha Pemurah. Al-Qur’an telah mengingatkan dengan kalimat yang sangat mengguncang kesadaran manusia:

“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim:34)

Ayat ini bukan sekadar pengingat, tetapi juga teguran bagi manusia yang sering lupa. Sebab sering kali manusia baru memahami nilai sebuah nikmat ketika sebagian kecil saja dari nikmat itu diambil sementara oleh Allah. Ketika dada terasa sesak, manusia baru sadar betapa mahalnya udara yang selama ini dihirup tanpa rasa syukur. Ketika kepala nyut-nyutan dan tubuh demam, manusia baru menyadari bahwa kesehatan yang selama ini dianggap biasa ternyata adalah karunia yang luar biasa.

Dalam sejarah para nabi, sakit bahkan menjadi jalan kemuliaan. Nabi Ayyub dikenal sebagai salah satu manusia yang diuji dengan penyakit yang sangat lama. Tubuhnya melemah, hartanya hilang, bahkan orang-orang menjauhinya. Namun di tengah penderitaan yang panjang itu, Nabi Ayyub tidak pernah berhenti memuji kebesaran Allah. Kesabarannya menjadi pelajaran abadi bahwa sakit bukan selalu hukuman, melainkan bisa menjadi jalan bagi Allah Yang Maha Tinggi untuk meninggikan derajat seorang hamba.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), dalam salah satu tausiyahnya pernah menyampaikan renungan yang sangat dalam tentang makna sakit. Beliau mengatakan bahwa sakit sering kali adalah bahasa kasih sayang Allah yang paling sunyi kepada hamba-Nya.

Menurut beliau, “Allah Yang Maha Agung tidak selalu memanggil manusia dengan kemudahan. Kadang Allah menyentuh hamba-Nya melalui sakit agar hati yang keras kembali lembut, agar manusia yang terlalu percaya pada kekuatannya kembali sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.”

Beliau juga mengingatkan bahwa di penghujung Ramadhan seperti sekarang ini, manusia sedang berada di salah satu waktu yang paling mulia dalam setahun. Malam-malam penuh rahmat sedang terbuka, pintu ampunan sedang diluaskan, dan Allah Yang Maha Rahman sedang sangat dekat dengan doa-doa hamba-Nya. Maka ketika sakit datang di masa ini, bisa jadi itu adalah cara Allah membersihkan dosa, melembutkan hati, dan mengangkat derajat seorang hamba tanpa ia sadari.

Renungan ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang sedang kuat menjalankan ibadah. Pesan ini juga untuk semua orang tanpa kecuali: bagi yang berpuasa ataupun yang tidak, bagi yang sempat menjalankan tarawih ataupun yang belum mampu melangkah ke masjid. Sebab kasih sayang Allah tidak pernah terbatas hanya pada satu kelompok manusia. Allah adalah Tuhan seluruh alam, yang rahmat-Nya meliputi semua manusia.

Di ujung Ramadhan 2026 ini, mungkin ada orang yang berdiri kuat dalam shalat malam, membaca Al-Qur’an dengan suara yang lirih di dalam masjid. Namun ada pula yang hanya mampu berbaring di tempat tidur, menahan sakit dengan tubuh yang lemah sambil memanjatkan doa yang pelan. Di hadapan Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, keduanya tetap memiliki pintu yang sama untuk kembali.

Sebab terkadang satu doa yang lahir dari tubuh yang sakit dan hati yang penuh harap bisa lebih jujur daripada ribuan kata yang diucapkan tanpa kesadaran. Dari situlah manusia akhirnya memahami bahwa sakit bukan hanya penderitaan. Sakit sering kali adalah sentuhan lembut dari Allah Yang Maha Segala Maha sebuah panggilan agar manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali mengenal Tuhannya dengan hati yang lebih hidup.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks