BeritaKabupatenPemerintahan

868 Kekuatan Sosial: Jika Bergerak Serempak, Tangerang Bisa Benar-Benar Gemilang

84
×

868 Kekuatan Sosial: Jika Bergerak Serempak, Tangerang Bisa Benar-Benar Gemilang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang — Di tengah sorotan soal pengawasan pembangunan yang dinilai belum maksimal, ada satu fakta yang sering luput dari perhatian. Hingga Mei 2025, tercatat 868 organisasi ormas, LSM, yayasan, paguyuban, lembaga perlindungan konsumen, hingga media lokal resmi terdaftar di Kabupaten Tangerang melalui Bakesbangpol.

Jumlah ini bukan sekadar angka administratif. Ia adalah kekuatan sosial yang nyata di tengah masyarakat. Mereka hadir di lapangan, melihat langsung kondisi, mendengar keluhan warga, dan sering kali lebih cepat menangkap indikasi persoalan, kecurigaan, maupun temuan sementara yang muncul.

Namun persoalan besar muncul di sini: kekuatan ini belum berjalan dalam satu arah. Masing-masing aktif, bersuara, tapi belum menjadi gelombang yang cukup kuat untuk mendorong perubahan nyata.

Jika ditarik ke belakang, kritik sebenarnya sudah lama muncul. Media lokal telah memberitakan, aktivis bersuara, bahkan beberapa temuan awal sempat jadi perhatian. Tapi semua itu terasa berhenti sendiri, tidak terkonsolidasi. Puluhan hingga ratusan pemberitaan kejanggalan proyek dari tahun ke tahun tetap berulang, tanpa perubahan signifikan.

Dari situ muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan: kenapa suara-suara ini belum berdampak? Jawabannya, kekuatan besar itu belum terkoneksi. Bahkan sepertinya kita harus turun ke jalan bantu Bupati Tangerang, karena tiap tahun begitu saja uang negara keluar, kritik sudah disampaikan, tapi tetap begini-begini saja.

Padahal kalau disatukan, 868 organisasi ini bisa jadi kekuatan kontrol sosial yang luar biasa. Saat satu melihat potensi masalah, yang lain bisa ikut menguatkan. Ketika muncul kecurigaan atau sinyal persoalan, tidak berhenti di satu titik, tapi menjadi perhatian bersama.

Buyung E, aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai peluang ini belum dimaksimalkan. “Kalau bicara kontrol sosial, masyarakat sudah punya kekuatan besar. Tinggal mau disatukan atau tidak. Kalau kompak, tidak perlu menunggu siapa pun, perubahan bisa digerakkan dari bawah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa selama ini banyak sinyal, perkiraan, dan indikasi persoalan yang muncul, tapi berhenti karena tidak ada penyatuan. “Kadang ada yang bicara, tapi tidak dikawal bareng. Akhirnya hilang begitu saja. Padahal kalau dijaga bersama, hasilnya pasti terasa,” tambahnya.

Dari pernyataan itu terlihat bahwa persoalannya bukan pada kurangnya kepedulian. Kepedulian itu ada, tapi belum terkoneksi. Semua bergerak, tapi belum satu irama. Di sinilah peluang sekaligus tantangan yang nyata.

Peran pemerintah tetap penting, terutama membuka ruang kolaborasi. Bakesbangpol bisa menjadi jembatan agar organisasi tidak hanya aktif secara administratif, tapi juga berdampak nyata di lapangan. Pada akhirnya, harapan tetap ada.

Jika 868 organisasi benar-benar bersatu, Kabupaten Tangerang tidak hanya akan baik-baik saja, tapi bisa benar-benar gemilang. Tinggal satu pilihan: tetap sendiri-sendiri atau mulai bergerak bersama.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks