Berita

Ujian Berubah Jadi Luka Mental: Tangis Siswa Pecah di Ruang Ujian, Dugaan Diskriminasi Akademik di SDN 2 Padang Cermin Disorot

14
×

Ujian Berubah Jadi Luka Mental: Tangis Siswa Pecah di Ruang Ujian, Dugaan Diskriminasi Akademik di SDN 2 Padang Cermin Disorot

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Pesawaran — Polemik mengenai larangan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) Selasa 28 April 2026 di SD Negeri 2 Padang Cermin semakin memanas. Orang tua dari tiga siswa kelas 6 menyatakan keberatan setelah anak-anak mereka diminta keluar dari ruang kelas saat ujian berlangsung dengan alasan kemampuan akademik yang dianggap di bawah rata-rata.

Salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya atas perlakuan pihak sekolah. Menurutnya, tindakan mengeluarkan siswa dari kelas sangat melukai mental anak.

“Kami tidak terima anak kami dikeluarkan dari kelas hanya karena dianggap tidak layak ikut ujian TKA. Alasan kemampuan di bawah rata-rata itu sangat menyakitkan. Seharusnya sekolah membimbing, bukan malah membedakan anak di depan teman-temannya,” ujarnya dengan nada kecewa.

“,Dan ini bukan pertama kejadian sudah yang ketiga kalinya kejadian yang serupa dengan anak saya dan salah satu murid duduk di kelas tiga akan di keluarkan dari sekolah dengan alasan yang tidak terseparan dalam ambil keputusan “, Tamba nya.

Sebelumnya, Wali Kelas 6, Bapak Ardian, menyatakan bahwa ketiga murid tersebut memang dianggap tidak layak mengikuti ujian tersebut karena TKA bersifat tidak wajib dan hanya untuk siswa yang siap secara akademik

Namun, upaya media dan orang tua untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari pimpinan sekolah menemui jalan buntu.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah SDN 2 Padang Cermin belum bisa ditemui untuk dimintai keterangan.

“Kepala sekolah sedang tidak ada di tempat, beliau sedang ada urusan di luar,” ujar salah satu staf sekolah saat dikonfirmasi di lokasi.

Ketidakhadiran Kepala Sekolah di tengah konflik ini disayangkan oleh para wali murid yang berharap adanya solusi atau mediasi agar anak-anak mereka tidak merasa dikucilkan secara akademik.

“,Kami dari wali murid mengharapkan dari dinas pendidikan kabupaten pesawaran untuk menindak lanjuti masalah ini supaya untuk kedepannya tidak terulang lagi, ” ungkap wali murid.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks