Berita

Saat Video Intimidasi Wartawan Viral Semua Bersuara Keras, Tapi Kini Mendadak Sunyi, Publik Mulai Curiga Marwah Pers Sedang Diuji Diam-Diam

114
×

Saat Video Intimidasi Wartawan Viral Semua Bersuara Keras, Tapi Kini Mendadak Sunyi, Publik Mulai Curiga Marwah Pers Sedang Diuji Diam-Diam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang — Video pria di wilayah Sukadiri, Kabupaten Tangerang, yang ucapannya dinilai bernada intimidatif terhadap wartawan sempat mengguncang berbagai grup WhatsApp, media sosial, hingga komunitas kontrol sosial beberapa hari terakhir. Banyak pihak awalnya tampil keras membela marwah pers dan kebebasan jurnalistik.

Namun setelah kegaduhan itu perlahan mereda, suasana kini justru terasa berbeda. Yang tadinya ramai bersuara mulai terlihat diam. Yang sebelumnya lantang bicara soal demokrasi kini perlahan menghilang dari pembahasan publik. Kondisi ini memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat.

Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Publik menilai persoalan tersebut bukan sekadar soal video viral biasa. Yang disorot masyarakat adalah pesan besarnya. Ketika wartawan menjalankan fungsi kontrol sosial lalu mendapat ucapan bernada tekanan atau intimidasi, maka publik otomatis akan bertanya ada apa sebenarnya di balik kegaduhan tersebut.

Video itu sendiri diketahui sudah menyebar luas di berbagai platform media sosial, grup wartawan, komunitas organisasi, hingga perkumpulan kontrol sosial di Kabupaten Tangerang. Karena itu banyak pihak mulai mengingatkan, kalau persoalan seperti ini tidak sama-sama dikawal, lalu semua memilih diam ketika isu mulai redup, maka marwah wartawan sebagai pilar keempat demokrasi lambat laun bisa dipermainkan dan kehilangan wibawanya di mata publik.

Di tengah mulai sunyinya pengawalan kasus itu, hari ini media Antero.co melakukan konfirmasi langsung kepada Kapolresta Tangerang dan jajaran Satreskrim Polresta Tangerang terkait perkembangan penanganan pria bernama Ken Ken yang videonya sempat viral di berbagai platform media sosial.

Kapolresta Tangerang, Indra Waspada, meminta agar teknis penanganan perkara dikonfirmasi langsung kepada pihak Reskrim. Sementara Wakasat Reskrim Polresta Tangerang, Septa Badoyo, menyampaikan bahwa prosesnya masih berada dalam tahap penyelidikan.

“Proses masih kita lakukan penyelidikan, Bang,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi awak media Antero.co.

Meski proses hukum disebut masih berjalan, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan kenapa gaung solidaritas terhadap wartawan kini terasa jauh lebih lemah dibanding saat awal video tersebut viral dan menghebohkan berbagai komunitas wartawan maupun organisasi sosial di Tangerang.

Padahal Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers secara jelas melindungi kerja jurnalistik. Bahkan Pasal 18 ayat (1) mengatur ancaman pidana terhadap pihak yang dengan sengaja menghambat atau menghalangi kerja pers dalam menjalankan fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Buyung E, aktivis kontrol sosial Kabupaten Tangerang yang tergabung dalam YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai persoalan seperti ini jangan hanya panas di awal lalu perlahan tenggelam ketika perhatian publik mulai turun dan isu baru bermunculan di media sosial.

“Kalau dari awal bicara marwah pers, ya harus dikawal sampai terang. Jangan sampai masyarakat melihat keberanian bela wartawan cuma hidup saat videonya viral. Pers itu pilar demokrasi, bukan pajangan yang ramai dipakai ketika sorotan kamera masih menyala,” tegas Buyung, Minggu (24/05/2026).

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat mulai dari Ormas, LSM, LBH, law firm, aktivis, asosiasi, paguyuban, yayasan perlindungan konsumen hingga awak media untuk ikut mengawal persoalan tersebut sesuai kapasitas dan tupoksi masing-masing agar kebebasan pers dan marwah kontrol sosial di Kabupaten Tangerang tidak perlahan hilang karena pembiaran dan ketakutan untuk bersuara.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks