BeritaGaya Hidup & BudayaPendidikan

Saat Orang Asal Bicara Demi Cari Panggung, Mahfuzah “Tarkul Jawabi” Mengajarkan Cara Elegan Menjaga Martabat dan Akal Sehat

27
×

Saat Orang Asal Bicara Demi Cari Panggung, Mahfuzah “Tarkul Jawabi” Mengajarkan Cara Elegan Menjaga Martabat dan Akal Sehat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi gambar yang memperlihatkan topik narasi rilisan berita, penuh dengan rasa kemaslahatan masyarakat demi menegakkan keadilan. (Foto: Mantv7.com)

Mantv7.com | Tangerang — Di tengah derasnya perdebatan dan kegaduhan yang mudah viral hari ini, publik mulai melihat satu fenomena yang makin sering terjadi di media sosial maupun ruang publik. Banyak orang bicara paling lantang, paling percaya diri, bahkan paling keras menyerang, namun isi ucapannya justru tidak nyambung dengan substansi yang sedang dibahas.

Fenomena itu belakangan ramai diperbincangkan setelah berbagai polemik sosial di Kabupaten Tangerang ikut dipenuhi komentar emosional, saling sindir, hingga serangan personal yang makin jauh dari inti persoalan. Akibatnya, ruang diskusi publik yang seharusnya sehat malah berubah menjadi arena adu ego dan adu paling benar.

Di sisi lain, masyarakat sebenarnya mulai bisa membedakan mana kritik yang lahir dari kepedulian dan mana ocehan yang sekadar ingin mencari panggung. Apalagi di era digital sekarang, potongan video, komentar, atau narasi provokatif sangat cepat viral tanpa banyak orang benar-benar memahami konteks utuh persoalan.

Buyung E, aktivis kontrol sosial yang tergabung di YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai kondisi itu menjadi pengingat penting bagi semua pihak agar lebih dewasa dalam menyampaikan pendapat. Menurutnya, kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus dibangun dengan logika, data, dan etika komunikasi yang sehat.

“Sekarang banyak orang merasa paling berani bicara, padahal substansinya kosong. Yang lebih bahaya lagi kalau sudah bicara ngawur tapi tetap merasa paling benar. Ini yang bikin ruang publik makin gaduh dan masyarakat jadi bingung membedakan mana edukasi, mana provokasi,” ujar Buyung, Senin (25/05/2026).

Ia mengatakan, dalam dunia jurnalistik, aktivisme, maupun kontrol sosial, kemampuan komunikasi bukan sekadar gaya bicara. Cara menyampaikan kritik sangat menentukan apakah pesan itu akan diterima publik sebagai masukan atau justru memicu konflik baru yang tidak perlu.

Menurutnya, kritik yang baik harus fokus membedah persoalan, bukan sibuk menyerang pribadi. Sebab ketika diskusi mulai dipenuhi hinaan, ejekan, atau emosi berlebihan, maka substansi masalah biasanya ikut tenggelam. Situasi seperti itu juga berpotensi memunculkan salah paham, fitnah, hingga persoalan hukum.

Buyung mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers maupun aturan dalam UU ITE pada dasarnya mengajarkan pentingnya tanggung jawab dalam menyampaikan informasi di ruang publik. Karena itu, semua pihak diminta lebih bijak agar kebebasan berpendapat tidak berubah menjadi ruang saling menjatuhkan.

Ia juga menyoroti bagaimana sebagian orang terkadang terlalu sibuk membalas semua komentar atau provokasi yang muncul di media sosial. Padahal, tidak semua ucapan memang layak ditanggapi. Dalam banyak situasi, respons yang terlalu emosional justru memperbesar kegaduhan dan memberi panggung lebih luas bagi keributan yang sebenarnya tidak penting.

Di tengah kondisi itu, masyarakat mulai kembali mengingat satu mahfuzah Arab yang cukup dikenal, yakni “Tarkul jawabi ala jahili jawabun” (تَرْكُ الجَوَابِ عَلَى الجَاهِلِ جَوَابٌ), yang memiliki makna bahwa tidak menjawab orang bodoh sejatinya sudah menjadi sebuah jawaban. Pesan ini mengajarkan bahwa tidak semua provokasi harus dibalas dengan kemarahan atau debat panjang yang melelahkan.

Bagi banyak pemerhati sosial, sikap tenang, fokus pada substansi, dan menjaga martabat dalam berdiskusi justru jauh lebih kuat daripada sekadar menang adu suara. Sebab pada akhirnya, publik bisa menilai sendiri siapa yang benar-benar membawa manfaat, dan siapa yang hanya sibuk berbicara tanpa arah.

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks