BeritaGaya Hidup & BudayaPendidikan

Film “Jangan Buang Ibu”, Cerminan Kehidupan Modern yang Mengajak Pulang, Menghargai Orang Tua, dan Merawat Nurani Kemanusiaan

11
×

Film “Jangan Buang Ibu”, Cerminan Kehidupan Modern yang Mengajak Pulang, Menghargai Orang Tua, dan Merawat Nurani Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, ketika kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, dan ambisi pribadi menyita sebagian besar waktu, film Jangan Buang Ibu hadir bukan sekadar sebagai hiburan keluarga. Film ini menjadi cermin sosial yang mengajak masyarakat menengok kembali hubungan dengan orang tua, khususnya ibu, yang sering kali menjadi pihak paling setia mencintai tanpa syarat, namun justru paling mudah terlupakan oleh keadaan.

Diproduksi oleh Leo Pictures dan diadaptasi dari novel karya Wahyu Derapriyangga, film garapan Hadrah Daeng Ratu ini mengisahkan perjuangan Ristiana, seorang ibu tunggal yang membesarkan ketiga anaknya setelah ditinggal sang suami. Dalam keterbatasan ekonomi dan himpitan utang keluarga, ia tetap berdiri teguh, bekerja tanpa mengenal lelah, serta menempatkan kebahagiaan anak-anaknya di atas kepentingan dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak yang dahulu dibesarkan dengan penuh pengorbanan tumbuh dewasa dan meraih kehidupan yang lebih baik. Namun realitas modern menghadirkan tantangan baru. Kesibukan pekerjaan, persoalan rumah tangga, dan tekanan hidup perlahan menciptakan jarak emosional hingga sang ibu harus menerima kenyataan pahit dititipkan ke panti jompo karena dianggap tak lagi memungkinkan dirawat di rumah.

Kisah ini terasa dekat dengan kehidupan banyak orang saat ini. Tidak sedikit orang tua yang tercukupi secara materi, tetapi miskin perhatian. Mereka tinggal di rumah yang nyaman, namun menunggu suara anak yang jarang pulang. Mereka memiliki kebutuhan yang terpenuhi, tetapi merindukan percakapan sederhana yang dulu begitu akrab mengisi ruang keluarga.

Kemajuan teknologi memang mendekatkan jarak, tetapi belum tentu mendekatkan hati. Kita begitu sigap membalas pesan pekerjaan, menghadiri rapat, atau memenuhi berbagai undangan, namun sering menunda mengangkat telepon dari ibu dengan alasan sedang sibuk. Padahal, bagi orang tua, beberapa menit perhatian dari anak bisa menjadi kebahagiaan yang tak ternilai.

Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum, YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Yuli Murtia, S.H., menilai bahwa film ini membawa pesan pendidikan sosial yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari jabatan, penghasilan, atau pencapaian pribadi, melainkan dari kemampuan seseorang menjaga nilai kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab terhadap keluarganya.

“Jangan sampai kita menjadi generasi yang pandai mengejar impian, tetapi lalai menghargai orang-orang yang dahulu memperjuangkan masa depan kita. Orang tua tidak selalu membutuhkan harta berlimpah. Mereka hanya ingin ditemani, didengar, dan diyakinkan bahwa cinta anak-anaknya tidak berkurang oleh waktu maupun kesibukan,” ujar Yuli.

Ia menambahkan, dari sudut pandang pendidikan sosial dan hukum, menghormati orang tua merupakan bagian penting dalam membangun karakter bangsa. Keluarga adalah sekolah pertama bagi lahirnya empati, tanggung jawab, kesabaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika nilai-nilai tersebut tumbuh di rumah, masyarakat pun akan melahirkan generasi yang lebih peduli dan berkeadaban.

Pesan itu sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, saat Rasulullah SAW ditanya tentang siapa yang paling berhak memperoleh perlakuan terbaik, beliau menjawab, “Ibumu.” Kemudian beliau mengulanginya lagi, “Ibumu.” Lalu untuk ketiga kalinya, “Ibumu.” Setelah itu barulah beliau bersabda, “Kemudian ayahmu.” Hadits tersebut menjadi pengingat tentang besarnya penghormatan terhadap pengorbanan orang tua, khususnya seorang ibu yang mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak dengan cinta yang nyaris tak berbatas.

Momentum ini terasa semakin bermakna karena masyarakat akan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan Selasa, 16 Juni 2026, dan telah resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026. Dengan adanya akhir pekan yang disusul hari kejepit, banyak keluarga memiliki kesempatan untuk pulang, bersilaturahmi, dan menghadirkan kembali kehangatan yang mungkin lama tertunda.

Jika masih diberi kesempatan, pulanglah sejenak. Tengok ibu dan ayah. Cium tangannya, peluk dirinya, lalu dengarkan cerita-ceritanya meski terdengar berulang. Ingatlah, ibu pernah sesabar itu kepada kita. Saat masih balita dan belum mampu menyusun kata dengan benar, ia berusaha memahami. Saat kita menangis tanpa alasan yang jelas, ia menggendong tanpa keluhan. Kini, ketika langkah mereka mulai melambat dan cerita mereka sering terulang, mungkin inilah saatnya kita membalas sedikit dari kesabaran yang dahulu mereka berikan tanpa syarat.

Pada akhirnya, Jangan Buang Ibu bukan hanya film yang menyentuh perasaan, melainkan pengingat agar kita tidak terlambat mencintai. Sebab pekerjaan akan selalu ada, kesibukan tak pernah benar-benar usai, tetapi kesempatan memeluk orang tua tidak datang selamanya. Selagi pintu rumah masih terbuka dan doa mereka masih mengiringi langkah kita, pulanglah.

Karena sering kali, keberhasilan terbesar dalam hidup bukanlah tentang seberapa tinggi kita melangkah, melainkan ketika kita masih memiliki waktu untuk menunduk, mencium tangan orang tua, lalu mendengar dengan penuh syukur kalimat sederhana yang membuat hati hangat, “Alhamdulillah… anakku pulang.”

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks