Mantv7.com | Tangerang — Setelah sekitar dua dekade menjadi kawasan yang belum tertata dan belum dimanfaatkan secara optimal, Pasar Segitiga Balaraja kini kembali menjadi perhatian. Bedanya, kali ini pembicaraan tidak lagi datang dari satu atau dua orang. Gagasan untuk menghidupkan kawasan tersebut mulai mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat, dari tokoh Balaraja sebagai inisiator Letnan Kolonel Inf. Dodi Fahrurozi, M.M. hingga para tokoh dan sepuh Balaraja. Mereka mulai duduk bersama, menyampaikan pandangan dan mencari kemungkinan perubahan yang bisa dilakukan.
Karena Dodi lahir dan tumbuh hingga dewasa di Balaraja, gagasan yang dibawanya berangkat dari kepedulian terhadap daerahnya sendiri. Ia mendorong agar Pasar Segitiga Balaraja dapat dihidupkan kembali sebagai sentra kuliner UMKM, tanpa harus selalu memulai pembangunan dari nol. Konsep yang ditawarkan mengusung semangat “Cepat, Murah, Rapi dan Rame”, dengan gambaran sekitar 30 kios kuliner, area makan, penerangan, toilet, tempat wudu, parkir, CCTV, taman, serta ruang untuk kegiatan seni dan budaya. Meski demikian, gagasan tersebut masih dalam tahap pembahasan dan tentu perlu disesuaikan dengan tata ruang, kewenangan, kajian teknis, serta keputusan pemerintah daerah.

Dalam perjalanannya, pembicaraan semakin meluas. Ucu Samsu Komar alias Bacung membawa perspektif pemuda, seni dan budaya. Ahmad Saefi Sobur, S.E., yang biasa dipanggil Ujang Sobur, tokoh publik dan profesional asal Balaraja, turut memberikan pandangan dari pengalaman pendidikan nonformal dan kegiatan sosial. Qomaruzaman, M.Ed. bersama jajaran pengurus Balad Raja, para ketua organisasi kemasyarakatan serta Heri Djauhari, S.H. ikut memberikan perspektif adat, sosial dan hukum. Perlahan, persoalan Pasar Segitiga mulai dilihat bukan hanya sebagai persoalan bangunan, tetapi juga menyangkut ekonomi rakyat, ruang publik, sejarah dan wajah Balaraja.
Pandangan para sepuh kemudian semakin memperkuat pembicaraan. Drs. H. Engkos Kosasih, M.Si. mengingatkan bahwa Pasar Segitiga Balaraja memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah daerah. Menurutnya, Balaraja memiliki sejarah pemerintahan yang panjang dan pernah menjadi tempat bupati berkantor hingga dua kali. Karena itu, ia berharap sejarah dan identitas kawasan tersebut tidak ikut hilang ketika dilakukan penataan.
“Balaraja punya sejarah yang cukup panjang; bupati dulu dua kali berkantor di Balaraja. Terus kenapa ada patung? Patung Buyut Alim itu yang benar sebenarnya yang tangannya ke atas. Ini juga harus diluruskan supaya Balaraja tidak malu sebagai daerah yang punya historis panjang,” ujar H. Kosasih kepada wartawan Mantv7.com.
Menurut H. Kosasih, Balaraja juga pernah dikenal sebagai daerah pendidikan. Ia mengingat keberadaan SPG dan perjalanan pendidikan yang kemudian berkaitan dengan SMA Negeri 1 Balaraja. Karena itu, ia merasa prihatin ketika kawasan yang berada di bagian depan Balaraja justru terlihat kumuh dan terbengkalai. “Kalau Balaraja kelihatan depannya seperti itu, kumuh dan terbengkalai, malu sekali. Betul, malu sekali,” katanya.

Ia bahkan menggambarkan kondisi tersebut dengan melihatnya dari flyover. Menurutnya, masyarakat bisa merasa bangga ketika melihat flyover, tetapi pemandangan di bawahnya justru menimbulkan keprihatinan. “Kalau kita naik ke atas flyover, kita bisa bangga dengan adanya flyover. Tapi kalau menengok ke bawah, miris. Ibarat sebuah TV bagus tapi antenanya tidak ada, kumuh, banyak semutnya,” ujarnya. Bagi H. Kosasih, pembangunan tidak cukup hanya memperhatikan infrastruktur utama, tetapi juga harus memperhatikan kawasan yang menjadi wajah kota.
Selain soal wajah kota, ia mengingatkan persoalan keselamatan. H. Kosasih mengaku melihat kondisi bangunan lama yang menurut pengamatannya sudah cukup ringkih, sementara masih ada masyarakat dan pedagang yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menunggu sampai terjadi musibah. “Jangan sampai menunggu celaka dulu baru bertindak,” tegasnya.
H. Kosasih juga menyoroti kepastian sekitar 33 pedagang yang sebelumnya disebut memiliki rencana relokasi ke Sentiong. Menurutnya, para pedagang perlu mendapat kejelasan apakah tempat relokasi tersebut masih tersedia atau mereka tetap berada di kawasan Pasar Segitiga Balaraja. Baginya, penataan tidak boleh hanya memikirkan bangunan baru, tetapi juga harus memperhatikan masyarakat yang selama ini mencari nafkah di kawasan tersebut.
Ia juga mengingatkan agar rencana penataan tidak berjalan tanpa memperhatikan RTRW dan RDTR. Menurutnya, status tata ruang kawasan perlu dipastikan lebih dahulu agar konsep yang dibuat tidak salah arah. Jika nantinya kawasan memiliki fungsi RTH, menurut dia, masih dapat dibicarakan kemungkinan pemanfaatan yang mendukung masyarakat, seperti ruang publik, kuliner dan UMKM, sepanjang sesuai dengan aturan. Ia juga menyebut persoalan ini bukan aspirasi baru karena sudah beberapa kali disampaikan dalam forum Musrenbang.
Sementara itu, (Purn.) AKP Akhmad Suryadi, yang akrab disapa Amak, melihat gerakan yang mulai tumbuh ini sebagai sesuatu yang perlu dijaga. Ia mengaku prihatin melihat daerah lain yang terus berkembang sementara sebagian wajah Balaraja masih membutuhkan perhatian. “Kita miris, kadang-kadang sedih juga melihat kota-kota lain itu luar biasa, kok Balaraja pemukimannya seperti itu,” ujar Amak.
Amak meminta Dodi dan para tokoh yang sudah mulai bergerak agar tidak berhenti di tengah jalan. Menurutnya, komunikasi dengan pemerintah harus terus dibangun dari tingkat bawah sampai kabupaten. “Pak Dodi dan kawan-kawan tetap semangat, komunikasikan dengan pemerintah daerah. Pergerakan ini jangan berhenti; kita satukan persepsi di bawah, komunikasikan dengan pemerintah daerah baik tingkat desa, kelurahan, kecamatan maupun kabupaten,” tuturnya.
Ia juga berharap gerakan tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. Tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pemuda dan elemen lainnya perlu memiliki tujuan yang sama untuk memperbaiki Balaraja. “Saya memang berharap gerakan ini bisa kita satukan, baik dengan para tokoh, ormas maupun elemen masyarakat Balaraja lainnya, sehingga kita satu suara bagaimana Balaraja ini bisa indah kembali,” katanya.
Amak kemudian mengingat masa ketika nama Balaraja dikenal hingga luar daerah. Ia yang pernah tinggal sekitar 10 tahun di Sumatera mengatakan banyak orang di sana mengenal Balaraja, salah satunya karena dahulu kawasan tersebut memiliki terminal yang menjadi titik penting sebelum adanya jalan tol. “Balaraja itu sebenarnya sudah terkenal sampai ke Sumatera. Saya pernah tinggal di Sumatera selama 10 tahun, dan orang-orang di sana pada kenal Balaraja,” ungkapnya. Kenangan itu pula yang membuatnya merasa miris melihat kondisi kawasan yang menjadi salah satu bagian penting dari wajah Balaraja saat ini.

Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari YLPK PERARI Kabupaten Tangerang. Melalui Buyung E., YLPK PERARI menyatakan dukungan penuh terhadap upaya mendorong perubahan di Pasar Segitiga Balaraja. Dukungan tersebut diberikan dengan catatan prosesnya tetap terbuka, melibatkan masyarakat dan berjalan sesuai mekanisme yang berlaku. “Yang kami lihat bukan siapa yang paling menonjol. Yang penting adalah gagasannya membawa manfaat atau tidak bagi masyarakat. Kalau memang baik, tentu harus dikawal bersama dan ditempuh melalui mekanisme yang benar,” ujar Buyung E.
Dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat, pembicaraan mengenai Pasar Segitiga Balaraja kini mulai memasuki tahap yang lebih serius. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah kawasan tersebut perlu dibenahi, tetapi bagaimana konsepnya, bagaimana nasib pedagang yang sudah ada, bagaimana status tata ruangnya, bagaimana aspek keselamatannya dan bagaimana prosesnya dapat dilakukan sesuai aturan. Gagasan 90 hari yang sebelumnya muncul pun lebih tepat dipahami sebagai dorongan untuk memulai langkah, bukan janji bahwa seluruh pembangunan akan selesai dalam waktu tersebut.
Dua dekade tentu bukan waktu yang singkat. Namun, yang mulai berubah hari ini adalah cara masyarakat melihat persoalan tersebut. Dari gagasan Dodi, dukungan Bacung, Ujang Sobur, Balad Raja, para ketua organisasi masyarakat, Heri Djauhari, hingga suara Drs. H. Engkos Kosasih, M.Si. dan (Purn.) AKP Akhmad Suryadi alias Amak, pembicaraan mulai menemukan satu titik temu. Pasar Segitiga Balaraja tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu dicari jalan keluarnya secara bersama-sama.
Kini, Balaraja seperti sedang membuka kembali percakapan yang lama tertunda. Bukan soal siapa yang paling berjasa, bukan pula soal siapa yang paling dulu bergerak. Yang sedang dicari adalah perubahan yang nyata, terukur dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dari Dodi hingga para sepuh, dari tokoh masyarakat hingga YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, pesan yang muncul semakin jelas: kalau ingin Pasar Segitiga Balaraja berubah, maka semua elemen harus bergerak bersama.
(RED)











