BeritaNasional

Tiga Tangis Indonesia: NTT, Kalimantan, Sumatra Memanggil Nurani untuk Peduli Kita

75
×

Tiga Tangis Indonesia: NTT, Kalimantan, Sumatra Memanggil Nurani untuk Peduli Kita

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | INDONESIA — Ada suara yang hanya beberapa detik, tetapi mampu tinggal lama di kepala. “Sakit, Pak… Bapak di mana?” Sebuah video kampanye yang dibagikan melalui akun media sosial @nnutia mengajak publik menatap tiga wajah persoalan Indonesia: NTT yang masih menghadapi dampak gempa, Kalimantan yang meminta alam berhenti dilukai, dan Sumatra yang belum sepenuhnya pulih.

Di NTT, suara bantuan terdengar seperti jeritan seseorang yang terlalu lama menahan takut. “Gempa susulan masih terus terjadi, kami butuh bantuan lebih.” Di balik kalimat itu ada keluarga yang ingin kembali merasa aman dan harapan agar perhatian tidak ikut pergi setelah bencana berlalu. Pemulihan bukan sekadar bangunan berdiri, tetapi bagaimana rasa aman dan kehidupan warga dapat kembali.

Lalu Kalimantan muncul dengan pesan sederhana: “Jangan dirusak lagi.” Kalimat itu seperti teguran dari alam. Ketika hutan terus tertekan, yang hilang bukan hanya pepohonan. Habitat menyempit, satwa kehilangan ruang hidup, dan keseimbangan lingkungan ikut dipertaruhkan. Jika manusia terus mengambil tanpa memulihkan, apa yang akan diwariskan kepada anak-anak kita?

Dari Kalimantan, layar bergeser ke Sumatra. Warga disebut masih menyeberang menggunakan kabel sling karena jembatan belum pulih. Bayangkan mencari nafkah, sekolah, berdagang atau berobat harus melewati sarana darurat. Ketika jembatan putus, yang terputus bukan hanya beton dan besi. Akses ekonomi, pendidikan, kesehatan dan rasa aman ikut tersendat.

Karena itu, suara “Tolong, Pak… Tolong, Bu…” terasa begitu berat. Bagi warga yang menunggu, bantuan bisa berarti jalan menuju sekolah, pasar, pekerjaan, bahkan keyakinan bahwa mereka tidak ditinggalkan. Bencana tidak selesai saat kamera berhenti merekam.

Video yang dibagikan akun media sosial @nnutia itu kemudian ditutup dengan kalimat paling sederhana sekaligus menusuk: “Tolong bantu kami.” Hanya permintaan agar penderitaan tidak hilang di antara kesibukan sehari-hari. Mungkin perhatian kita terlalu cepat berpindah ketika satu persoalan baru muncul di layar.

Bahwa negara memiliki tanggung jawab dalam penanggulangan bencana, perlindungan masyarakat dan pembangunan infrastruktur. Karena itu, bantuan darurat perlu diikuti pemulihan yang terukur, sarana yang aman, serta pengawasan agar kebutuhan warga benar-benar sampai. Pada saat yang sama, perlindungan lingkungan harus dijaga agar pembangunan tidak meninggalkan persoalan yang lebih panjang.

Kepedulian masyarakat tidak harus menunggu punya banyak uang. Kita bisa membagikan informasi yang benar, membantu melalui saluran terpercaya, menjaga lingkungan, dan ikut mengawasi pemulihan. Kepedulian bukan sekadar membuat mata berkaca-kaca, tetapi mendorong tindakan nyata ketika ada sesama yang membutuhkan.

Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Pendidikan dan Hukum YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, meminta semua orang membuka mata dan hati. “Jangan tunggu penderitaan menjadi viral baru kita peduli. NTT, Kalimantan dan Sumatra adalah bagian dari rumah yang sama. Kalau belum mampu secara materi, sebarkan informasi yang benar dan dorong pihak berwenang bergerak. Yang menyedihkan bukan hanya saat seseorang membutuhkan pertolongan, tetapi ketika banyak orang tahu lalu memilih diam,” tegasnya.

Yuli juga meminta kepedulian disertai keberanian bertanya. “Kita boleh iba, tetapi jangan berhenti pada rasa iba. Tanyakan apakah bantuan sampai, jembatan aman, ekonomi bergerak, dan alam terjaga. Itu bukan permusuhan, melainkan kontrol sosial agar penanganan tidak berhenti pada seremoni,” ujarnya.

Bahwa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup memberikan ruang bagi masyarakat untuk berperan dalam perlindungan lingkungan. Karena itu, kepedulian juga dapat diwujudkan melalui perilaku menjaga alam, menyampaikan informasi secara bertanggung jawab, dan ikut mengawasi kepentingan bersama.

Tiga wilayah itu akhirnya bertemu dalam satu pesan. NTT mengajarkan ketabahan, Kalimantan mengingatkan bahwa alam bukan milik kita untuk dihabiskan, dan Sumatra menunjukkan betapa cepat kehidupan tersendat ketika akses terputus. Kita mungkin tidak mampu menyembuhkan seluruh luka hari ini. Namun satu informasi benar dapat membuka perhatian, satu bantuan dapat meringankan beban, dan satu suara berani dapat membuat persoalan yang terlupakan kembali terlihat.

Pada akhirnya, mencintai tanah air bukan hanya bangga menyebut nama Indonesia. Cinta juga berarti menoleh ketika saudara terluka, berhenti ketika alam mulai dirusak, dan bergerak ketika ada yang meminta pertolongan. Kita mungkin tidak mampu memperbaiki semuanya, tetapi selalu bisa memilih untuk peduli. Sebab Indonesia terasa indah ketika yang kuat memilih menggenggam yang sedang jatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks