BeritaNasionalPendidikan

MetroTV Q&A Mengurai Makna Salat: Dari Ibadah Menuju Disiplin Moral, Kejujuran, dan Keteguhan Hidup Bersama

67
×

MetroTV Q&A Mengurai Makna Salat: Dari Ibadah Menuju Disiplin Moral, Kejujuran, dan Keteguhan Hidup Bersama

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | EDUKASI — Dialog Ustadz Das’ad Latif dan Sujiwo Tejo dalam MetroTV Q&A menghadirkan pertanyaan sederhana: mengapa seseorang rajin salat, tetapi masih berbuat salah? Pertanyaan ini penting karena ibadah semestinya menjadi pendidikan batin yang membentuk cara manusia berpikir dan bertindak.

Ustadz Das’ad menjelaskan salat sebagai ibadah yang istimewa. Dalam tradisi Islam, kewajiban salat berkaitan dengan Isra dan Mi’raj, sementara Al-Qur’an juga berkali-kali memerintahkan mendirikannya. Karena itu, salat sebagai “kunci” tepat dipahami sebagai penegasan kedudukannya, bukan untuk meremehkan ibadah lain.

Pesan itu kuat ketika dikaitkan dengan QS Al-Ankabut ayat 45, bahwa salat mendorong manusia menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Bukan hanya seberapa sering seseorang bersujud, tetapi sejauh mana nilai salat hadir ketika berhadapan dengan uang, jabatan dan kepentingan.

Pertanyaan tentang orang yang salat tetapi korupsi membuka pelajaran penting. Salat bukan “stempel kesalehan” yang membuat seseorang kebal dari kritik moral. Ketika seorang Muslim masih korupsi, berbohong atau mengambil hak orang lain, perilakunya yang perlu diperbaiki. Ibadah dan akhlak semestinya berjalan beriringan.

Secara pendidikan karakter, salat mengajarkan keteraturan melalui waktu, kesiapan melalui wudu, ketenangan melalui bacaan dan kerendahan hati melalui sujud. Kebiasaan yang dilakukan sadar dapat menjadi pengingat untuk berhenti sejenak, mengendalikan dorongan lalu kembali beraktivitas. Manfaat psikologisnya tetap perlu dibahas proporsional.

Kepala yang direndahkan ketika sujud menyimpan pesan. Kepala dapat menjadi simbol kehormatan, sedangkan sujud menggambarkan pengakuan atas keterbatasan manusia. Pelajarannya sederhana: semakin tinggi seseorang merasa dirinya, semakin penting ia merendahkan ego, mengakui kesalahan dan menghormati orang lain.

Dalam perspektif literasi pendidikan dan hukum, Yuli Murtia, S.H., Kabid Literasi Hukum dan Pendidikan YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, menilai bahwa nilai ibadah semestinya diterjemahkan menjadi perilaku bertanggung jawab. “Literasi tidak cukup membuat seseorang tahu mana yang benar; yang penting membangun kebiasaan memilih yang benar. Salat dapat menjadi latihan disiplin, kejujuran dan pengendalian diri agar nilai agama hadir dalam tindakan,” ujarnya.

Dalam perspektif hukum, bahwa pengetahuan tentang benar dan salah harus disertai kesadaran menghormati hak orang lain. Korupsi, penipuan, manipulasi dan penyalahgunaan amanah tidak dapat dibenarkan hanya karena pelakunya beribadah. Literasi hukum membantu mengenali hak, kewajiban, bukti dan prosedur; literasi agama menguatkan kesadaran moral.

Gangguan saat hendak salat dapat dibaca praktis. Manusia menghadapi distraksi berupa telepon genggam, pekerjaan dan kecemasan. Menjaga waktu salat, menyiapkan wudu, memahami bacaan dan mengurangi gangguan perangkat menjadi ikhtiar agar ibadah tidak terburu-buru. Perhatian lahir melalui latihan.

Dialog itu mengingatkan bahwa kekhusyukan bukan alasan menunda salat sampai merasa sempurna. Ada orang yang masih belajar dan mudah kehilangan fokus. Jalan keluarnya bukan berhenti, melainkan terus memperbaiki. Salat dapat menjadi tempat kembali setiap kali gagal, lalu membawa pelajaran dari sajadah menuju kehidupan.

Karena itu, “password” salat dapat dimaknai sebagai metafora tentang pintu menuju kedekatan kepada Allah. Namun password tidak berarti jika setelah “masuk” seseorang menyakiti sesama. Salat yang bernilai semestinya mendorong kejujuran ketika tidak diawasi, amanah ketika dipercaya, sabar ketika diuji dan adil ketika berkuasa.

Pada akhirnya, dialog ini bukan ajakan mencari siapa paling saleh, melainkan mengajak setiap orang bercermin. Setelah salat, apakah kita lebih sulit berbohong? Apakah tangan lebih enggan mengambil yang bukan hak? Apakah hati lebih mudah meminta maaf? Pertanyaan itu membuat ibadah menjadi hidup, sebab perubahan indah terlihat dalam kebiasaan yang berubah.

Tawakal bukan menyerah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil setelah ikhtiar. Jika langkah keliru, perbaiki; jika hati goyah, kuatkan; jika jalan berat, lanjutkan dengan sabar. Di situlah keindahan salat: bersujud rendah hati, lalu bangkit dengan hati jernih untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Nilai agama hidup saat dipraktikkan setiap hari.!

(RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks