BeritaNasionalPendidikan

Sekolah Negeri Masih Betah Mendidik Murid Jadi Pendengar: Saat Dunia Mendorong Nalar, Indonesia Masih Menguji Kepatuhan

97
×

Sekolah Negeri Masih Betah Mendidik Murid Jadi Pendengar: Saat Dunia Mendorong Nalar, Indonesia Masih Menguji Kepatuhan

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Pemandangan ini masih jamak ditemui di banyak sekolah negeri: guru berbicara panjang lebar di depan kelas, murid duduk rapi, diam, mencatat, lalu pulang dengan kepala penuh materi tapi minim pemahaman. Pola ajar “mendengarkan dan menyimak” seolah tak tergoyahkan, meski zaman telah berubah jauh dari sekadar papan tulis dan buku paket.

Masalahnya bukan pada disiplin atau ketertiban kelas. Persoalannya lebih dalam. Pola ajar seperti ini perlahan membentuk karakter murid yang terbiasa patuh, takut salah, dan enggan bertanya. Sekolah menjadi ruang latihan kepatuhan, bukan tempat tumbuhnya nalar dan keberanian berpikir.

Kondisi tersebut kembali mengemuka setelah sebuah video analisis pendidikan oleh Guru Gembul beredar luas di Instagram dan TikTok pada akhir 2024. Video itu ramai dibagikan bukan karena sensasional, melainkan karena isinya menampar kenyataan pahit tentang literasi generasi muda Indonesia.

Dalam video tersebut, Guru Gembul mengutip hasil kajian akademik internasional berbahasa Inggris yang menyebut bahwa hanya sekitar 15 persen lulusan SMA di Indonesia yang mampu menemukan kalimat inti dari sebuah paragraf. Bukan soal memahami teori rumit, melainkan kemampuan dasar membaca yang semestinya dikuasai sejak bangku sekolah.

Menurut Guru Gembul, dampaknya berantai. Kemampuan berkomunikasi, menyerap informasi, dan menyampaikan pemahaman secara runtut hanya dimiliki sebagian kecil generasi muda. Ia bahkan menyebut kondisi ini sebagai salah satu tingkat literasi terendah secara global, sebuah fakta yang jarang dibicarakan secara jujur di ruang publik.

Lebih mengkhawatirkan lagi, lemahnya kemampuan memahami teks membuat generasi muda rentan terhadap hoaks dan manipulasi informasi. Ketika data salah, narasi menyesatkan, atau tafsir keliru disebarkan, hanya sebagian kecil yang mampu memverifikasi dan menarik kesimpulan logis. Sisanya terombang-ambing tanpa alat berpikir yang memadai.

Aktivis pendidikan di bidang literasi dan edukasi publik, Widia Lestari, menilai persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari budaya belajar di sekolah. Menurutnya, “Selama murid hanya dilatih mendengar dan menghafal, mereka tidak pernah benar-benar belajar membaca makna, apalagi mengkritisi informasi. Literasi itu soal berpikir, bukan sekadar bisa membaca huruf.”

Widia menegaskan, pendidikan modern menuntut perubahan cara mengajar, bukan sekadar perubahan kurikulum di atas kertas. “Dunia sekarang membutuhkan warga yang mampu memahami data, konteks, dan dampak sosial. Itu tidak lahir dari kelas yang membungkam pertanyaan,” ujarnya.

Ironisnya, di tengah jargon “merdeka belajar” dan berbagai pelatihan guru, pola ajar lama masih bertahan kuat. Murid yang terlalu banyak bertanya kerap dianggap mengganggu. Diskusi sering dipersempit oleh target materi dan administrasi. Akhirnya, kemerdekaan berpikir hanya menjadi slogan, bukan praktik.

Jika dibandingkan dengan sekolah internasional setara SD, SMP, dan SMA, perbedaannya terasa mencolok. Kurikulum seperti International Baccalaureate (IB), Cambridge International, atau American Curriculum justru menempatkan murid sebagai subjek aktif. Bertanya, berdiskusi, dan berdebat sehat adalah bagian dari keseharian belajar.

Di sekolah-sekolah tersebut, guru berperan sebagai fasilitator. Murid dilatih menemukan gagasan utama, membaca data, menyusun argumen, dan mempertanggungjawabkan pendapatnya. Kesalahan tidak dipermalukan, tetapi dijadikan bahan belajar. Proyek dan riset lebih dihargai daripada sekadar angka ujian.

Pola ajar lama di sekolah negeri Indonesia jelas tidak bisa terus dipertahankan. Dunia kerja, demokrasi, dan kehidupan sosial membutuhkan manusia yang mampu berpikir mandiri, bukan sekadar patuh. Tanpa perubahan cara mengajar, sekolah hanya akan melahirkan lulusan yang rapi di kelas, tetapi rapuh di realitas.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang pembebasan pikiran, bukan pabrik kepatuhan. Selama sekolah masih nyaman mendidik murid untuk diam dan mendengar, krisis literasi dan nalar akan terus berulang. Dan ketika generasi muda gagal memahami informasi di sekelilingnya, itu bukan kegagalan murid melainkan kegagalan sistem yang terlalu lama menolak berubah.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks