Mantv7.com | Banten – Tanggal 22 Desember kembali diperingati sebagai Hari Ibu Nasional, sebuah penetapan yang lahir dari Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, bertepatan dengan pembukaan Kongres Perempuan Indonesia. Momentum ini bukan sekadar penanda sejarah, melainkan ruang perenungan bagi bangsa, tentang siapa yang paling banyak memberi tanpa pernah meminta balasan: seorang ibu.

Di setiap rumah, di setiap sudut kehidupan, ibu hadir sebagai sosok yang jarang terlihat dalam sorotan, namun paling terasa dalam kehilangan. Ia adalah muara kasih yang tak pernah kering, pelukan yang selalu terbuka, bahkan ketika anaknya pergi jauh, lupa pulang, atau pulang hanya untuk menyisakan luka.

Sejak kapan pengorbanan ibu bisa dihitung? Sejak kapan lelahnya meminta pengakuan? Ibu terjaga saat anaknya tertidur, berdoa saat dunia memejamkan mata. Ia menahan lapar agar anaknya kenyang, menahan tangis agar anaknya kuat, dan menahan sakit agar anaknya merasa aman.
Hari Ibu hadir untuk mengingatkan siapa, apa, dan mengapa cinta paling tulus itu bermula. Ia bukan hadiah, bukan ucapan manis semata, melainkan kesadaran penuh bahwa kehidupan seseorang berdiri di atas doa yang tak pernah putus dari seorang ibu.

Dalam ajaran Islam, kedudukan ibu dimuliakan tanpa syarat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa bakti kepada ibu berada di atas segalanya. Surga diletakkan di bawah telapak kakinya, seolah Allah ingin berkata bahwa jalan menuju keselamatan sejati dimulai dari bagaimana seseorang memperlakukan ibunya.

Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa), Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.H., M.Ag., menyampaikan pesan yang menggetarkan hati. “Ibu adalah amanah Allah yang paling nyata. Dalam Islam, siapa yang menyakiti hati ibunya, berarti ia sedang menjauh dari rahmat Allah. Dan siapa yang membahagiakan ibunya, sejatinya sedang menjemput surga tanpa banyak syarat.”
Menurutnya, banyak anak tumbuh dewasa dengan prestasi dan jabatan, namun lupa bahwa ada doa seorang ibu yang mengiringi setiap langkah. “Tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa doa ibu. Bahkan ketika anak itu jatuh, ibu adalah orang pertama yang tetap percaya,” tuturnya lirih.
Hari Ibu juga menjadi cermin tentang bagaimana relasi anak dan ibu hari ini. Di tengah kesibukan, teknologi, dan ambisi, sering kali ibu hanya kebagian sisa waktu. Padahal, satu panggilan tulus dari anak mampu menjadi obat bagi lelah yang tak pernah ia ceritakan.
Bagi yang masih memiliki ibu, Hari Ibu adalah kesempatan untuk pulang bukan hanya secara fisik, tetapi pulang dengan hati yang lembut. Mendengar tanpa membantah, memeluk tanpa tergesa, dan meminta maaf tanpa menunggu waktu yang tepat.
Bagi yang ibunya telah berpulang, Hari Ibu adalah ruang rindu yang sunyi. Namun doa tetap menjadi jembatan. Sebab bakti tak pernah terputus oleh kematian. Ia hidup dalam doa yang terus dipanjatkan dan amal yang terus diniatkan atas nama ibu.
Di tanggal 22 Desember, di mana pun berada, mari berhenti sejenak. Tundukkan kepala. Sebut nama ibu dalam doa. Karena mencintai ibu sepenuh hati bukan hanya ajaran agama, tetapi napas kemanusiaan. Dan di sanalah, manusia belajar arti cinta yang paling jujur.
Terima kasih, Ibu, atas doa, lelah, dan cinta tulusmu yang selalu menguatkan.
(OIM)











