BeritaGaya Hidup & Budaya

Mahkota TIRAJA Bale Raja: Dari Saung Desa, Anak-Anak Banten Menjaga Marwah Budaya Leluhur

101
×

Mahkota TIRAJA Bale Raja: Dari Saung Desa, Anak-Anak Banten Menjaga Marwah Budaya Leluhur

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Kabupaten Tangerang – Kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga jati diri budaya lokal kembali menemukan momentumnya melalui lahirnya “Mahkota TIRAJA Bale Raja”, sebuah ruang pelestarian seni dan budaya leluhur Banten yang digagas oleh Riko Filliang. Inisiatif ini lahir dari ketulusan, kepedulian, dan semangat gotong royong masyarakat yang melihat seni tradisi kian terdesak oleh arus modernisasi.

Mahkota TIRAJA Bale Raja tidak diposisikan sekadar sebagai komunitas seni, melainkan sebagai ruang hidup kebudayaan. Di dalamnya berhimpun anak-anak dan generasi muda yang mencintai seni tari tradisional Banten, pencak silat, silat Cimande, debus, nyinden, serta ragam ekspresi budaya lain yang menjadi akar peradaban masyarakat Banten.

Riko Filliang menegaskan bahwa seni dan budaya harus dipahami sebagai sarana pembentukan karakter. “Seni dan budaya Banten bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi pembentuk karakter generasi hari ini. Jika anak-anak dikenalkan pada tari, silat, debus, dan nyinden sejak dini, maka yang tumbuh bukan hanya keterampilan seni, melainkan jati diri dan disiplin,” ujarnya.

Aktivitas Mahkota TIRAJA Bale Raja secara rutin ditampilkan di Saung PUSTANU yang berlokasi di Kampung Cibogo RT 01/04, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Saung sederhana ini menjelma menjadi ruang budaya yang hidup, tempat nilai tradisi bertemu dengan semangat pembelajaran lintas generasi.

Kehadiran anak-anak dalam setiap sesi latihan menghadirkan suasana yang khas. Mereka tidak hanya belajar gerak tari atau jurus silat, tetapi juga diajarkan nilai hormat kepada guru, kedisiplinan, kebersamaan, serta tanggung jawab menjaga warisan leluhur. Proses ini menjadi pendidikan karakter berbasis budaya yang nyata dan aplikatif.

Penguatan nilai tradisi dalam Mahkota TIRAJA Bale Raja turut didampingi oleh Kesepuhan Cimande, Abah Engkos, sosok yang dikenal luas atas dedikasinya menjaga kemurnian seni silat dan budaya leluhur. Pendampingan ini memberi kedalaman filosofi sekaligus legitimasi moral pada setiap aktivitas yang dijalankan.

Abah Engkos menekankan bahwa seni budaya Banten tidak dapat dipisahkan dari nilai adab. “Seni budaya Banten, khususnya silat dan tradisi leluhur, mengajarkan adab sebelum ilmu. Gerak tanpa akhlak tidak bernilai. Menjaga seni berarti menjaga perilaku dan keseimbangan antara kekuatan jasmani dan kebijaksanaan batin,” tuturnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat pendampingan dari Ketua DPD YLPK PERARI, Zarkasih, S.H., sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya berbasis masyarakat. Kehadirannya memperkuat pesan bahwa seni dan budaya merupakan hak dasar generasi muda yang patut dijaga bersama.

Zarkasih menilai ruang budaya seperti Mahkota TIRAJA Bale Raja memiliki peran strategis. “Pelestarian seni dan budaya daerah adalah bagian dari perlindungan hak anak dan generasi muda. Ini bukan sekadar kegiatan seni, tetapi upaya menjaga identitas kolektif masyarakat agar tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.

Secara edukatif dan inovatif, Mahkota TIRAJA Bale Raja menawarkan model pelestarian budaya yang bisa direplikasi. Tidak bergantung pada program besar atau anggaran formal, melainkan dimulai dari ruang kecil, kesadaran warga, dan kemauan untuk bergerak bersama menghidupkan seni tradisi.

Dari Saung PUSTANU di Solear, Mahkota TIRAJA Bale Raja mengirimkan pesan kuat bahwa budaya akan tetap hidup selama ada ketulusan untuk merawatnya. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa seni budaya Banten bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipraktikkan, diwariskan, dan dijaga sebagai identitas bersama.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks