Mantv7.com ,Kabupaten Tangerang -Pembangunan Gapura Selamat Datang Kabupaten Tangerang yang menelan anggaran hingga Rp2,4 miliar menuai sorotan tajam dari masyarakat. Alih-alih disambut dengan kebanggaan, proyek tersebut justru memicu gelombang kritik dan pertanyaan publik, terutama di media sosial.
Warganet mempertanyakan skala prioritas pemerintah daerah, di tengah masih banyaknya jalan rusak, fasilitas umum terbengkalai, dan pelayanan publik yang belum optimal. Anggaran miliaran rupiah untuk sebuah gapura dinilai tidak mencerminkan kebutuhan mendesak masyarakat.
“Dengan Rp2,4 miliar, berapa kilometer jalan berlubang yang bisa diperbaiki?” tulis salah satu warganet. “Berapa sekolah, puskesmas, atau saluran air yang bisa ditingkatkan?” komentar lainnya.
Secara fungsi, gapura selamat datang bersifat simbolik dan estetis, bukan kebutuhan dasar. Sementara itu, di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang, warga masih harus berjibaku dengan akses jalan yang rusak, banjir musiman, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan yang minim perawatan.
Jika diasumsikan ,Perbaikan jalan lingkungan rata-rata membutuhkan Rp300–500 juta per kilometer,
“Maka Rp2,4 miliar berpotensi memperbaiki 4–7 kilometer jalan rusak atau: Merenovasi beberapa ruang kelas sekolah, meningkatkan fasilitas puskesmas, dan memperbaiki drainase untuk mencegah banjir.”namun semua itu kalah prioritas dibanding sebuah gapura.
Publik juga menuntut penjelasan terbuka:
Apakah pembangunan gapura ini melalui kajian kebutuhan yang matang?Apakah ada partisipasi publik dalam menentukan prioritas anggaran?
Di tengah tekanan ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat yang belum sepenuhnya terpenuhi, proyek bernilai besar yang minim dampak langsung kerap dianggap sebagai pemborosan anggaran dan bentuk ketidakpekaan terhadap kondisi riil warga.
Pembangunan daerah seharusnya berpijak pada kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar simbol atau pencitraan visual. Pemerintah Kabupaten Tangerang didesak untuk melakukan evaluasi kebijakan anggaran dan membuka ruang dialog dengan masyarakat.
Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan warga bukan sekadar ucapan “selamat datang”, tetapi jalan yang layak dilalui, fasilitas umum yang memadai, dan pelayanan publik yang nyata dirasakan manfaatnya.
Dedy











