AgamaBeritaPendidikan

Menjaga Martabat di Era Viral: Refleksi Literasi Islam tentang Kehormatan Perempuan di Ruang Publik dan Digital

62
×

Menjaga Martabat di Era Viral: Refleksi Literasi Islam tentang Kehormatan Perempuan di Ruang Publik dan Digital

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Di tengah gemerlap lampu kota dan sorot layar ponsel yang tak pernah padam, kita menyaksikan perubahan wajah ruang publik. Perempuan hari ini tampil lebih berani, lebih ekspresif, dan lebih terbuka. Namun di balik keberanian itu, terselip kegelisahan yang tak banyak dibicarakan. Ketika merokok dan vape dipamerkan dengan bangga di ruang umum, ketika pakaian semakin terbuka atau ketat membungkus tubuh meski berhijab, dan ketika konten media sosial sengaja dirancang untuk memancing hasrat, kita patut bertanya: ke mana arah kemuliaan itu dibawa?

Islam, melalui pedoman agung Al-Qur’an, menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai bagian dari masyarakat, tetapi sebagai tiang peradaban. Ia bukan objek tontonan, bukan komoditas perhatian, bukan alat pemuas algoritma. Ia adalah kehormatan yang dijaga. Tubuhnya amanah. Martabatnya cahaya.

Merokok atau vape mungkin dianggap simbol kebebasan. Namun kebebasan tanpa kendali sering kali berubah menjadi pengabaian terhadap diri sendiri. Dalam pandangan kesehatan saja, itu berisiko. Dalam pandangan sosial, ia mengikis citra kelembutan dan penjagaan diri yang menjadi fitrah perempuan. Apalagi ketika dilakukan dengan kebanggaan demonstratif, seolah ingin menegaskan identitas lewat asap yang mengepul.

Lebih menyayat lagi ketika aurat tak lagi dipahami sebagai kehormatan, melainkan sekadar formalitas. Jilbab dikenakan, tetapi pakaian begitu ketat hingga setiap lekuk tubuh tergambar jelas. Secara kasat mata tertutup, namun hakikatnya tetap mengundang pandangan. Ini bukan soal kain, ini soal kesadaran. Bukan soal tren, ini soal tanggung jawab.

Di media sosial, sebagian rela menjadikan dirinya pusat birahi publik. Gerak tubuh, gaya bicara, hingga sudut pengambilan gambar dirancang untuk memancing komentar bernada hasrat. Viral menjadi tujuan. Pujian menjadi candu. Padahal pujian itu sering kali rapuh, dangkal, dan tak bernilai di sisi Tuhan.

Fenomena ini bukan untuk dihakimi, melainkan untuk direnungi. Sebab sering kali yang terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena kehilangan arah. Standar kecantikan hari ini diukur dari seberapa berani menampilkan diri. Popularitas dinilai dari jumlah tayangan. Tanpa fondasi iman, perempuan mudah terjebak dalam lingkaran validasi semu.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa) menyampaikan pesan yang lembut namun mengguncang hati. “Saudari dan adik-adik para perempuan,” tuturnya, “kalian bukan diciptakan untuk menjadi bahan pandangan yang menodai, tetapi untuk menjadi sumber ketenangan yang menyejukkan.”

Beliau menegaskan bahwa kemuliaan perempuan bukan terletak pada seberapa banyak mata memandangnya, tetapi pada seberapa kuat ia menjaga dirinya. “Jika seorang perempuan menjaga kehormatannya, ia sedang menjaga harga dirinya, keluarganya, bahkan generasinya. Jangan gadaikan kemuliaan hanya demi sorotan sesaat,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ia juga mengingatkan bahwa jilbab bukan aksesori budaya. Ia adalah simbol ketaatan dan perlindungan. Busana longgar bukan penghalang kreativitas, melainkan pagar kehormatan. “Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali untuk memuliakan. Setiap aturan adalah bentuk kasih sayang,” tambahnya penuh harap.

Ruang publik dan ruang digital memang tak bisa dihindari. Perempuan boleh hadir, berprestasi, berkarya, dan bersinar. Namun sinar itu hendaknya lahir dari kecerdasan, akhlak, dan kontribusi, bukan dari eksploitasi tubuh. Dunia mungkin memberi tepuk tangan pada keberanian membuka diri, tetapi akhirat menilai keteguhan menjaga diri.

Kini saatnya kembali bertanya dalam sunyi: untuk siapa tubuh ini dipamerkan? Untuk apa kehormatan ini dipertaruhkan? Sebab pada akhirnya, yang abadi bukanlah viralitas, bukan pujian, bukan komentar. Yang abadi adalah nilai di hadapan Allah. Dan perempuan yang menjaga dirinya dengan iman, ia bukan hanya terhormat di bumi, tetapi juga mulia di langit.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks