AgamaBeritaGaya Hidup & BudayaNasional

Ramadhan Hari ke-10: Saat Kita Masih Sibuk Dunia, Ayah Ibu Diam-Diam Menunggu Kita Pulang

65
×

Ramadhan Hari ke-10: Saat Kita Masih Sibuk Dunia, Ayah Ibu Diam-Diam Menunggu Kita Pulang

Sebarkan artikel ini

Mantv7.com | Ramadhan sudah masuk hari ke-10. Waktu berjalan cepat, meninggalkan mereka yang lalai dan menguatkan mereka yang sadar. Tapi ada satu kenyataan yang sering kita hindari: orang tua kita tidak bertambah muda. Setiap hari, usia mereka berkurang, sementara kita masih sibuk mengejar hal-hal yang bahkan tidak akan menemani kita saat mereka sudah tiada.

Lirik lagu Memori Satu Atap dari Nanda Prima berkata, “Ayah, kumohon rayulah Tuhan agar kita kembali berjumpa.” Kalimat ini bukan sekadar lirik. Ini adalah suara hati anak yang terlambat sadar bahwa waktu tidak bisa diputar ulang. Ketika ayah sudah tiada, bahkan satu detik kebersamaan adalah kemewahan yang mustahil didapatkan kembali.

Dulu, kita hidup dalam satu atap yang sama. Ibu memanggil nama kita dengan penuh kasih. Ayah menjaga kita tanpa banyak bicara. Mereka tidak pernah meminta balasan. Mereka hanya ingin kita selamat, ingin kita bahagia, bahkan jika itu berarti mereka harus berkorban dalam diam.

Namun hidup tidak pernah memberi peringatan. Lirik itu berkata jujur, “Kini kalian telah tiada, dan kita beda dunia.” Kalimat ini terdengar sederhana, tapi dampaknya menghancurkan. Karena ketika orang tua pergi, satu-satunya tempat yang selalu menerima kita tanpa syarat, ikut pergi bersama mereka.

Ramadhan membuat luka itu terasa lebih nyata. Kursi yang kosong saat berbuka, suara yang tidak lagi membangunkan sahur, dan doa yang kini hanya bisa kita kirimkan dari kejauhan. Kita baru sadar, dulu kita memiliki segalanya, tapi kita tidak menjaganya dengan sepenuh hati.

Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, selaku Ketua Umum JAMDAL (Jaringan Mubalig Daar El Qolam La Tansa). Foto: Mantv7.com

Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, Ketua Umum JAMDAL, mengingatkan dengan tegas, “Ramadhan adalah kesempatan yang Allah beri untuk memperbaiki diri, termasuk kepada orang tua. Jangan tunggu mereka dipanggil Allah, baru kita merasa kehilangan. Karena saat itu terjadi, tidak ada lagi kesempatan untuk meminta maaf, kecuali melalui air mata dan doa.”

Beliau juga menyampaikan, banyak anak yang sukses di luar, tapi hatinya kosong karena tidak sempat membahagiakan orang tuanya. Sebab sebesar apa pun harta dan jabatan, tidak akan mampu membeli kembali satu detik kebersamaan dengan ibu dan ayah yang telah tiada.

Lirik itu kembali memukul hati, “Ibu demi Tuhan aku rindu, malam ini tumpah air mataku.” Ini adalah kenyataan yang tidak bisa disembunyikan. Banyak anak yang menangis diam-diam di malam Ramadhan, bukan karena lemah, tapi karena rindu yang tidak punya tempat pulang.

Ramadhan hari ke-10 ini masih memberi kita kesempatan. Jika orang tua kita masih hidup, itu adalah nikmat yang luar biasa. Jangan tunggu sampai kita hanya bisa melihat nama mereka di batu nisan, lalu berharap bisa kembali ke masa lalu walau hanya sebentar.

Karena pada akhirnya, kehilangan orang tua bukan hanya kehilangan seseorang. Itu kehilangan arah, kehilangan tempat pulang, kehilangan bagian dari jiwa kita sendiri. Dunia tetap berjalan, tapi hati tidak pernah benar-benar sama lagi.

Ramadhan akan terus berlalu. Tapi tidak semua orang akan sampai ke Ramadhan berikutnya. Selagi masih ada waktu, pulanglah. Peluk mereka. Dengarkan mereka. Karena suatu hari nanti, yang tersisa bukan suara mereka yang tersisa hanya kenangan, dan penyesalan yang datang terlalu terlambat.

(OIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
Enable Notifications OK No thanks