Mantv7.com | Tulisan ini bukan untuk menyindir siapa pun. Ini hanyalah sebuah analogi peristiwa yang sering terjadi dalam kehidupan manusia. Tujuannya sebagai bahan edukasi dan pengingat dalam pandangan Islam. Kadang seseorang melihat sesuatu yang tidak benar, hatinya tahu itu keliru, tetapi ia memilih diam. Dalam banyak keadaan, diam seperti ini bukan lagi netral, melainkan bisa ikut menyeret hati pada sikap membiarkan kesalahan.
Bayangkan seorang muslim menyaksikan sesuatu yang jelas tidak benar. Ia tahu itu keliru, tetapi karena rasa sungkan, takut, atau tidak ingin terlibat, ia memilih menutup mata. Padahal Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an agar manusia berani berdiri di atas kebenaran.
Allah berfirman dalam QS An-Nisa ayat 135: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap kedua orang tua dan kaum kerabatmu.” Ayat ini jelas mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kedekatan, rasa hormat, ataupun rasa tidak enak kepada manusia.
Dalam kehidupan, manusia juga sering diuji dengan rasa percaya kepada seseorang atau kepada suatu keadaan. Rasa percaya itu sebenarnya baik. Namun ketika rasa percaya membuat seseorang membela sesuatu yang jelas salah, di situlah hati mulai tergelincir. Karena dalam ajaran Islam, kebenaran harus tetap lebih tinggi daripada loyalitas kepada manusia.
Allah juga mengingatkan tentang akibat dari setiap perbuatan manusia. Dalam QS Ali-Imran ayat 182, Allah berfirman: “Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” Artinya, setiap kesalahan yang dibiarkan atau dibela pada akhirnya akan kembali menjadi tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
Ada pula keadaan ketika seseorang ikut dalam sebuah kegiatan yang awalnya terlihat baik. Namun di tengah perjalanan ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar di dalamnya. Hatinya sebenarnya tahu, tetapi ia tetap berjalan bersama arus karena merasa sudah terlanjur berada di dalamnya.
Padahal Allah sudah mengingatkan dengan tegas dalam QS Al-Maidah ayat 2: “Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” Ayat ini menjadi peringatan bahwa ikut membantu sesuatu yang salah, walaupun tidak melakukannya langsung, tetap bisa menjadi bagian dari kesalahan itu.

Ketua Umum JAMDAL, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, pernah menyampaikan sebuah nasihat sederhana namun sangat dalam. Beliau mengatakan bahwa ujian iman seseorang bukan hanya ketika ia melakukan kesalahan, tetapi juga ketika ia melihat kesalahan lalu memilih diam.
Menurut beliau, “Dalam Islam menghormati seseorang itu baik, tetapi tidak boleh membuat kita membenarkan yang salah. Jika hati sudah tahu itu keliru tetapi tetap dibiarkan, maka yang paling berbahaya adalah ketika hati mulai terbiasa dengan kesalahan itu.”
Al-Qur’an kembali mengingatkan dalam QS Az-Zalzalah ayat 7-8: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah niscaya dia akan melihat balasannya.” Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang hilang tanpa pertanggungjawaban.
Karena itu analogi sederhana ini sebenarnya mengajak kita semua untuk bercermin. Bukan untuk menunjuk siapa pun, bukan untuk menuduh seseorang. Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah hati kita masih berani berdiri di pihak yang benar, atau justru mulai nyaman dengan diam saat melihat yang salah.

Menanggapi hal tersebut dari sudut pandang hukum, Hefi Irawan, S.H., M.H., Ketua Umum YLPK PERARI sekaligus Pimpinan Kantor Hukum LAW FIRM HEFI SANJAYA AND PARTNERS, menegaskan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pembiaran terhadap kesalahan juga dapat menimbulkan dampak sosial yang serius.
“Dalam perspektif hukum dan moral, masyarakat tidak boleh terbiasa membiarkan sesuatu yang jelas salah. Ketika seseorang mengetahui adanya pelanggaran atau ketidakadilan lalu memilih diam, maka secara tidak langsung ia sedang membiarkan ketidakadilan itu terus terjadi. Hukum dibangun untuk menjaga keadilan, dan keadilan hanya bisa hidup jika masyarakat memiliki keberanian moral untuk berdiri di pihak yang benar,” tegas Hefi Irawan.
Ia juga menambahkan bahwa nilai keadilan yang diajarkan dalam agama sebenarnya sejalan dengan prinsip hukum. “Agama mengajarkan kejujuran dan keberanian dalam menegakkan kebenaran, sementara hukum mengatur bagaimana keadilan itu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketika keduanya berjalan seiring, maka masyarakat akan memiliki fondasi moral yang kuat untuk tidak membiarkan kedholiman tumbuh,” pungkasnya.
(RED)











