Mantv7.com | Langit sore di hari terakhir Ramadhan tampak redup, seolah ikut menunduk bersama jiwa yang menanti berbuka. Di tengah hening yang seharusnya sarat doa, sebuah video singkat berputar di layar banyak orang terlihat dalam salah satu akun Tiktok @ketua.vj. Seorang perempuan bernama Sarlota tersenyum ringan, lalu melontarkan kalimat yang sederhana namun menampar nurani: “Kalau adabmu berlaku hanya pada orang yang berharta dan berpangkat, tapi hilang pada orang yang miskin dan tak mempunyai pangkat… itu bukan beradab, tapi penjilat!” Suara tawa pecah di sekelilingnya, riuh, santai, namun bagi siapa pun yang mendengarnya dengan hati, kalimat itu seperti menggenggam dada memberi rasa getir sekaligus kehangatan pengingat.
Di hari terakhir puasa tahun 2026 ini, kata-kata itu terasa lebih dalam. Sebulan penuh kita menahan lapar dan dahaga, menahan hawa nafsu, menahan amarah. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah kita juga menahan kesombongan, menahan rasa pilih-pilih dalam memperlakukan orang lain? Ramadhan bukan hanya soal menahan perut, tapi soal menata hati agar tak tertular keangkuhan dunia.
Realitasnya sering berbeda. Kita mudah tersenyum pada atasan, namun biasa saja pada yang sederhana. Kita cepat menghormati yang terlihat “penting”, tapi kadang melupakan yang diam-diam berjuang tanpa pujian. Dalam diam, adab kita pun kadang bersyarat tidak utuh, tidak konsisten.
Padahal sebentar lagi hari yang Fitri akan tiba, hari maaf-memaafkan. Saat di mana ucapan “mohon maaf lahir batin” akan bergema. Tapi apakah permintaan maaf itu tulus untuk semua, atau masih tersisakan pilih kasih karena status dan kepentingan? Inilah inti pesan Sarlota: adab sejati tak boleh musiman, tak boleh bergantung pada siapa yang kita hadapi.
Ketua Umum JAMDAL, Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag, menegaskan, “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa baru sempurna ketika kita belajar menghormati semua orang tanpa pilih kasih. Jika adab kita masih tergantung pada status orang, berarti hati kita belum bersih. Dan hari Fitri seharusnya menjadi cermin nyata dari perubahan hati itu.”

Kata-kata Ustadz Ambia itu sederhana, tapi mengena. Ia mengingatkan bahwa ujian Ramadhan tidak hanya terlihat di masjid atau saat shalat, tapi di kehidupan sehari-hari di jalan, di pasar, di rumah, dalam interaksi dengan siapa saja yang kita temui. Kebaikan hati diuji oleh orang-orang yang tak bisa membalas apa pun dari kita.
Video singkat itu, meski hanya beberapa detik, menghadirkan cermin jujur tentang diri kita. Adab dan iman bukan sekadar ritual, tapi tercermin dari tindakan nyata. Dari cara kita menyapa, memperlakukan, dan menghormati sesama. Di situlah Allah melihat, dan di situlah hati diuji.
Menjelang azan maghrib terakhir hari ini, mungkin saat yang tepat untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbaiki sikap. Mengingat mereka yang pernah kita abaikan, atau yang mungkin tak kita hormati karena alasan sepele. Pelan-pelan kita benahi niat, luruskan hati, dan perkuat empati.
Saat malam nanti Ramadhan benar-benar pergi, semoga ia meninggalkan jejak yang nyata: hati yang lebih lembut, adab yang konsisten, dan iman yang tumbuh bukan hanya di lidah tapi di tindakan. Agar ketika hari Fitri tiba, kita benar-benar menjadi manusia yang bersih tidak hanya dari dosa, tapi dari sikap pilih-pilih, penuh adab dan hormat kepada semua.
Di akhirnya, yang kita bawa menghadap Tuhan bukan harta atau jabatan, tapi hati yang tulus, adab yang nyata, dan iman yang menjadikan kita manusia yang utuh siap menyambut hari Fitri dengan kesadaran penuh, bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
(RED)











