Mantv7.com | Di keheningan Ramadan yang mestinya membawa ketenangan, tayangan Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 19 justru menghadirkan kegelisahan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sosok Pak Jalal muncul bukan sekadar sebagai karakter, tetapi seperti suara hati yang mengingatkan bahwa ada yang belum beres dalam cara kita memperlakukan pendidikan. Kegelisahan itu terasa dalam satu adegan sederhana antara Pak Jalal dan Muluk. Dengan nada lugas, Pak Jalal menyoroti kecilnya gaji guru. Ia menyampaikan hal yang selama ini banyak orang tahu, namun sering dibiarkan: bagaimana guru bisa fokus mendidik jika masih harus memikirkan kebutuhan hidupnya sendiri.
Dalam potongan video sinetron PPT 19 memperlihatkan dialog yang paling mengena, tersirat pesan yang sulit dibantah gaji guru yang kecil dianggap hal biasa, padahal seharusnya bisa lebih layak agar kualitas pendidikan ikut terangkat. Bahkan perbandingan dengan pejabat muncul sebagai bentuk sindiran sosial, yang dalam konteks tayangan tersebut menjadi refleksi tentang pentingnya menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Percakapan itu singkat, tapi maknanya panjang. Ia bukan sekadar bagian dari cerita, melainkan gambaran realitas yang sering kita lihat. Sebuah pengingat bahwa ada hal-hal yang selama ini dianggap wajar, padahal sebenarnya perlu diperbaiki.
Di lapangan, kondisi itu masih nyata. Banyak guru menjalani peran ganda mengajar di kelas sekaligus mencari tambahan penghasilan. Mereka datang membawa ilmu dan tanggung jawab, namun juga memikul beban hidup. Di depan murid, mereka tetap berdiri dengan sabar, meski tidak semua perjuangan mereka terlihat.
Namun persoalan pendidikan tidak berhenti pada kesejahteraan guru. Di banyak sekolah, ruang bagi murid untuk berbicara masih terbatas. Proses belajar berjalan, tetapi sering kali hanya satu arah. Murid hadir, mendengar, dan mencatat, tanpa cukup ruang untuk menyampaikan pendapat atau bertanya secara terbuka.

Di sisi lain, sekolah internasional sejak tingkat dasar sudah membangun kebiasaan berbicara di depan umum. Diskusi, presentasi, dan keberanian menyampaikan ide menjadi bagian dari pembelajaran. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan publik tentang kesetaraan akses apakah ruang untuk belajar percaya diri dan berbicara masih menjadi hal yang belum merata.
Secara edukatif, kondisi ini menunjukkan pentingnya pemerataan kualitas pendidikan. Hak untuk berbicara, berpikir, dan berkembang adalah bagian dari proses belajar yang utuh. Ketika ruang itu belum dirasakan semua siswa, maka ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah amanah. Ustadz Ambia Dahlan Abdullah, S.Ag menyampaikan bahwa memuliakan guru dan memberi ruang bagi murid adalah bagian dari tanggung jawab moral. “Ilmu itu memuliakan manusia. Guru adalah perantaranya. Maka keadilan dalam pendidikan harus dijaga, agar manfaatnya bisa dirasakan semua,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keadilan dalam akses pendidikan menjadi hal penting. “Jangan sampai kesempatan berkembang hanya dimiliki oleh sebagian kalangan. Pendidikan harus menjadi ruang yang adil, karena di situlah masa depan dibentuk,” tambahnya.
Karena itu, upaya meningkatkan kesejahteraan guru perlu berjalan seiring dengan perubahan cara mengajar. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang dialog. Murid tidak hanya menerima, tetapi juga dilibatkan untuk berpikir dan berani menyampaikan ide.
Pada akhirnya, apa yang ditampilkan dalam tayangan tersebut menjadi pengingat bersama. Pendidikan bukan hanya soal sistem, tetapi juga tentang nilai keadilan dan kepedulian. Tulisan ini merupakan refleksi sosial-edukatif yang bertujuan mendorong perbaikan sistem pendidikan secara berkeadilan.
Dan ketika semua kembali pada nilai tanggung jawab, yang tersisa adalah pertanyaan sederhana: sudahkah kita memberi tempat yang layak bagi guru, dan ruang yang cukup bagi murid untuk tumbuh?
(OIM)











