Mantv7.com | Hanya 21 detik, tapi cukup mengguncang rasa. Video yang beredar di tengah suasana Lebaran itu bukan sekadar tentang berbagi rezeki diberbagai akun sosial media. Ia berubah jadi cermin memantulkan pertanyaan yang lebih dalam: apakah ini sedekah yang diridhai, atau justru cara yang mengaburkan makna ibadah itu sendiri? Di hari yang seharusnya penuh kelembutan, publik justru menangkap isyarat yang berbeda. Ada yang melihat niat baik, tapi tak sedikit yang merasakan keganjilan. Cara memberi yang terlihat dari atas ke bawah memantik persepsi yang tidak sederhana. Dalam Islam, bukan hanya “apa yang diberikan”, tapi “bagaimana cara memberi” yang menentukan nilainya di hadapan Allah.
Al-Qur’an sudah mengingatkan dengan sangat tegas dalam QS. Al-Baqarah ayat 264: jangan rusak sedekah dengan sikap yang menyakiti. Ayat ini bukan sekadar nasihat, tapi peringatan keras. Sedekah bisa gugur nilainya jika diiringi cara yang melukai hati penerima, apalagi jika menimbulkan rasa rendah diri atau dipertontonkan tanpa menjaga adab.
Situasi ini menjadi semakin sensitif ketika dikaitkan dengan kondisi masyarakat. Masih banyak yang berjuang memenuhi kebutuhan, masih ada yang belum merasakan kebahagiaan Lebaran secara utuh. Di titik ini, muncul kecurigaan publik apakah ini bentuk kepedulian, atau sekadar gestur yang kehilangan rasa empati?
Islam mengajarkan adab yang tinggi dalam memberi. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah melarang sikap merendahkan orang lain. Memberi dari posisi yang menimbulkan kesan “atas dan bawah” bisa terbaca sebagai simbol ketimpangan. Padahal dalam Islam, yang memberi dan menerima sama-sama dimuliakan, tidak ada ruang untuk merendahkan.
Lebih dalam lagi, QS. Al-Ma’un ayat 1–3 menggambarkan bahwa orang yang lalai terhadap kaum lemah sejatinya sedang kehilangan esensi agama itu sendiri. Ayat ini menekankan bahwa kepedulian bukan soal simbol atau aksi sesaat, tapi keberpihakan nyata dan konsisten terhadap mereka yang membutuhkan. Bukan sekadar terlihat memberi, tapi benar-benar hadir memberi solusi.
Dalam konteks ini, hukum mungkin belum tentu dilanggar. Namun dalam Islam, ukuran bukan hanya halal atau tidak, tapi juga pantas atau tidak. Ada adab, ada rasa, ada tanggung jawab moral. Terlebih bagi pejabat publik yang memikul amanah, setiap tindakan bukan lagi milik pribadi sepenuhnya ia menjadi contoh, menjadi sorotan, bahkan menjadi penilaian.

Aktivis YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Buyung E, mengingatkan bahwa publik tidak sedang menghakimi, tapi mengingatkan. “Ini soal adab dalam kepemimpinan. Kalau masyarakat mulai gelisah, itu tanda ada yang harus diluruskan. Jangan sampai niat baik justru dipersepsikan sebaliknya karena cara yang keliru,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam situasi sosial yang belum stabil, kepekaan adalah kunci. “Islam itu mengajarkan rasa. Bukan sekadar memberi, tapi menjaga perasaan. Kalau cara memberi justru menimbulkan kegaduhan, berarti ada yang perlu dievaluasi,” katanya.
Peringatan paling kuat datang dari QS. An-Nisa ayat 58: amanah harus ditunaikan dengan adil. Jabatan adalah titipan, bukan panggung untuk menunjukkan posisi. Setiap tindakan harus mencerminkan keadilan, kepantasan, dan ketundukan pada nilai-nilai yang lebih tinggi, bukan sekadar terlihat baik di permukaan.
Pada akhirnya, ini bukan sekadar soal video, bukan sekadar soal momen. Ini tentang bagaimana Islam mengajarkan adab dalam setiap tindakan. Ketika sedekah kehilangan adab, maka ia bukan lagi cahaya tapi bisa menjadi bayangan yang mengusik hati banyak orang. Dan di situlah publik mulai bersuara, bukan karena benci, tapi karena masih peduli.
(RED)











